Jakarta

Eks Pejabat AS: Netanyahu Siap Tekan 'Tombol Nuklir' Jika Konflik Iran Tak Terkendali

Aisya Nur Aziza | 13 Maret 2026, 05:30 WIB
Eks Pejabat AS: Netanyahu Siap Tekan 'Tombol Nuklir' Jika Konflik Iran Tak Terkendali
Eks pejabat AS prediksi langkah militer Netanyahu, usai perang aliansi AS-Israel dengan Iran memicu kebuntuan?

AKURAT JAKARTA - Mantan Kepala Staf Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Kolonel (Purn) Lawrence Wilkerson, menyampaikan peringatan keras terkait eskalasi konflik di Timur Tengah.

Ia menyebut Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kemungkinan besar akan menggunakan senjata nuklir jika konfrontasi militer dengan Iran terus memburuk.

Pernyataan ini disampaikan Wilkerson pada Rabu (11/3/2026), tepat saat konflik AS-Israel melawan Iran memasuki hari ke-11.

Menurut Wilkerson, Netanyahu telah memberikan sinyal eksplisit kepada lingkaran internalnya mengenai kesiapan menggunakan kekuatan yang "belum pernah terlihat sebelumnya" terhadap Teheran.

Baca Juga: Salah Perhitungan Strategi, AS Kini Dilema Akhiri Konflik dengan Iran

Ancaman Eskalasi Nuklir

Wilkerson menilai ambang batas penggunaan senjata non-konvensional semakin dekat, terutama karena Iran dianggap belum mengerahkan seluruh kekuatan militer terbaiknya.

"Saya yakin Netanyahu siap menggunakan senjata nuklir jika situasi di lapangan menjadi tidak terkendali. Perlu diingat, Iran bahkan belum mulai meluncurkan rudal-rudal paling canggih mereka," ujar Wilkerson dalam wawancara bersama Democracy Now.

Tak hanya itu, Wilkerson melayangkan kritik pedas terhadap kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump.

Ia menuding militer AS telah melakukan pelanggaran hukum internasional dan kejahatan perang sistematis dalam sepuluh hari terakhir.

Laporan tersebut mencakup dugaan serangan terhadap pemukiman sipil, sekolah, dan rumah sakit.

Selain itu, serangan AS terhadap fasilitas minyak Iran dilaporkan telah memicu bencana lingkungan yang berdampak pada lebih dari 10 juta penduduk.

Wilkerson menegaskan bahwa perang ini adalah "perang pilihan" yang ilegal dan melanggar Konstitusi AS.

Aset Militer AS Terancam

Berseberangan dengan klaim optimis Presiden Trump bahwa perang akan segera berakhir, Wilkerson mengungkapkan data lapangan yang kontradiktif.

Ia menilai bahwa infrastruktur miliaran dolar milik AS di Bahrain telah lumpuh.

Bahkan fasilitas pemuatan rudal vertikal hancur sehingga memaksa kapal perang AS melakukan perjalanan jauh ke Diego Garcia hanya untuk mengisi ulang amunisi.

Serta Pangkalan Al-Udeid di Qatar dan fasilitas militer di Kuwait berada dalam posisi rentan, yang secara efektif menghambat operasi darat AS.

Dampak Ekonomi Global dan "Mundurnya Kekaisaran"

Wilkerson memperingatkan bahwa invasi darat ke Iran akan menjadi "bunuh diri ekonomi" bagi Amerika Serikat.

Ia memprediksi ini merupakan awal dari berakhirnya pengaruh AS di Timur Tengah.

Krisis ini juga mengancam jalur perdagangan dunia.

Kelompok Houthi di Yaman diprediksi akan menutup total Selat Bab al-Mandeb.

Mengingat 60 persen perdagangan global melewati Laut Merah, blokade ini berpotensi melumpuhkan ekonomi dunia, mulai dari sektor energi hingga pasokan komoditas pangan.

Di sisi lain, Wilkerson mengecam kebijakan sensor militer ketat yang diberlakukan di Israel.

Ia menilai penutupan informasi mengenai tingkat kerusakan di Tel Aviv dan Haifa telah menyesatkan publik Amerika mengenai risiko nyata dari kekalahan taktis yang mungkin dialami AS di kawasan tersebut. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.