Jakarta

NOVEL BAG.69 : Kampung Arab di Puncak

Afriadi B | 7 Agustus 2023, 23:16 WIB
NOVEL BAG.69 : Kampung Arab di Puncak

PUNCAK. Bulan Juni. Pekan ketiga. Inilah musim kawin kontrak. Sebagian warga Puncak menyebut musim Arab.

Musim yang sangat ditunggu-tunggu ini terjadi pada pertengahan tahun atau tepatnya pada bulan Mei-Juli. Masa di mana para wisatawan mancanegara asal Timur Tengah berlibur ke Indonesia.

Pada masa ini, mereka tidak sekadar berlibur menikmati pemandangan alam dan hawa sejuk kawasan Puncak. Ada tawaran yang menarik dari musim ini; nikah mut'ah atau kawin kontrak.

Laju kendaanku berhenti di teras masjid, di pinggir jalan raya. Aku shalat dzuhur dulu, sebelum melanjutkan perjalanan, berburu praktisi kawin kontrak.

Dari serambi masjid, aku lihat sesosok pria bertubuh gempal bolak-balik di pinggir Jalan Raya Puncak. Menggunakan kaos putih dan celana cokelat selutut. Pria berhidung mancung dan bermata cekung ini, nampak kebingungan mencari sesuatu.

Entah apa yang dicarinya. Namun di seberang jalan, seorang pria lokal, yang menunggu di balik kemudi mobil, mengarahkan telunjuknya ke lokasi money changer.

Mereka seolah berdebat soal ke mana seharusnya si turis pergi. Si pria Arab nampak kesal. Dahinya mengernyit. Tatapan tajam nampak jelas di arahkan kepada si sopir. Nada bicaranya sedikit meninggi. Sopir tak mengerti omongannya. Begitupun si pria Arab gagal paham instruksi si sopir.

Di dekat si pria, seorang wanita lokal membuntuti sedari awal. Dia memilih menahan tawa melihat situasi kikuk tersebut. Dia terus mengikuti si pria yang mengarah menuju mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Oh, rupanya si pria Arab itu kebingungan hendak menukar uang atau menarik tunai.

Tampakan itu tentu saja membuatku dan Michel jadi penasaran. Seketika muncul dari labirin ingatanku, soal tamu-tamu Arab yang mau kawin kontrak.

Aku mengikuti laju kendaraannya. Melewati Desa Tugu Utara. Menuju Desa Tugu Selatan.

Di sepanjang jalan, aku lihat banyak pria berwajah khas Timur Tengah, lalu-lalang di jalan. Di sini, turis-turis Arab mudah ditemui.

Sampailah mobil yang kami buntuti itu di sebuah villa. Di Kampung Sampay Sindang Barang, Desa Tugu Selatan.

Dari desas-desus, kampung yang juga dikenal sebagai Warung Kaleng, inilah pusat konsentrasi wisatawan Timteng di Puncak. Karena itu, kampung ini dijuluki Kampung Arab.

Warung Kaleng terletak di Jalan Raya Puncak Km 84. Terdapat penunjuk arah Hotel Jayakarta yang juga mengarah ke gang perkampungan ini.

Di mulut gang, terdapat Pangkalan Ojek Warung Kaleng, yang bersampingan dengan deretan toko bertuliskan huruf Arab.

Keberadaan turis Timteng di Warung Kaleng sudah menjadi rahasia umum. Saban pagi hingga petang, mereka tak canggung memperlihatkan batang hidungnya. Mereka bepergian menggunakan sepeda motor, mobil, maupun berjalan kaki.

Warga sekitar juga merespons positif keberadaan mereka. Tulisan Arab di kaca-kaca toko hanyalah salah satu contoh keterbukaan warga kepada turis.

Tak sedikit di antara pekerja toko maupun warga sekitar yang berkomunikasi menggunakan bahasa ibu turis Timteng ini. Meskipun ala kadarnya.

Tak hanya tulisan, isi toko pun dijejali barang-barang asal Timteng. Komoditas olahan maupun buah dan sayur asal Timteng juga dijajakan di sini.

Di sepanjang jalan Warung Kaleng, juga banyak betebaran rumah penjualan kambing guling. Juga masakan nasi briani ataupun nasi kebuli, yang bertabur daging kambing, kegemaran turis Arab ini.

"Turis-turis ini pasti menghadirkan manfaat yang besar bagi warga. Hampir semua warga diuntungkan. Mereka secara ekonomi terangkat. Pendidikan anak-anak juga makin bagus," kataku kepada Michel.

"Betul, Rahman. Aku setuju dengan analisamu," sahut Michel. (Bersambung)
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.