Grup Diduga Pedofilia Diikuti Anak SD-SMP, Begini Cara Manipulasi Psikologis Bisa Bekerja

AKURAT JAKARTA - Kasus dugaan grup percakapan digital yang diikuti pelajar SD hingga SMP membuka persoalan yang lebih besar dari sekadar keamanan internet.
Di balik keberadaan anak dalam ruang digital berbahaya, terdapat kerentanan psikologis yang dapat dimanfaatkan orang dewasa untuk membangun kepercayaan dan melakukan manipulasi.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menegaskan anak yang terpapar atau berada dalam grup tersebut harus dipandang sebagai pihak yang perlu dilindungi.
Sikap ini penting karena keberadaan seorang anak di sebuah grup tidak serta-merta membuktikan bahwa anak tersebut memahami risiko ataupun terlibat dalam tindakan yang dilakukan di dalamnya.
Menteri PPPA Arifah Fauzi mengatakan kasus tersebut mencuat setelah orang tua mengungkap adanya grup percakapan digital terbuka yang diduga diikuti pelajar SD hingga SMP.
Kepolisian kemudian menyelidiki dugaan jaringan pedofilia, sementara identitas dan usia anggota grup belum dapat diverifikasi secara pasti.
“Kasus itu telah dilaporkan ke Direktorat Siber Polda Metro Jaya pada 29 Agustus 2026. Kami menghormati dan mendukung proses penyelidikan yang dilakukan kepolisian,” kata Arifah dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu, 5 September 2026.
Dalam psikologi, salah satu konsep yang relevan dengan kasus seperti ini adalah online grooming.
Proses tersebut biasanya tidak selalu dimulai dengan ancaman atau tindakan yang terlihat berbahaya.
Pelaku dapat terlebih dahulu membangun hubungan, menciptakan rasa nyaman, memberikan perhatian, atau membuat anak merasa diterima.
Baca Juga: Status PPPK Paruh Waktu Mulai Berubah, 1.147 Pegawai Kini Jadi Penuh Waktu
Bagi anak dan remaja, kebutuhan untuk mendapatkan penerimaan sosial merupakan bagian penting dari perkembangan psikologis.
Perhatian dari orang lain dapat membuat mereka merasa dihargai, terlebih ketika komunikasi berlangsung dalam lingkungan yang dianggap menyenangkan atau memberikan rasa memiliki.
Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang yang berniat mengeksploitasi.
Batas antara percakapan biasa dan interaksi berbahaya pun dapat dibuat semakin kabur.
Inilah alasan mengapa menyebut anak sebagai “ceroboh” atau “sengaja masuk” tidak selalu menggambarkan situasi sebenarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






