Jakarta

Jangan Minder, Kebiasaan Santri di Pesantren Ternyata Bernilai Tinggi di Dunia Profesional

Anggerhana Denni Rahmawati | 24 Juli 2026, 06:30 WIB
Jangan Minder, Kebiasaan Santri di Pesantren Ternyata Bernilai Tinggi di Dunia Profesional
Rutinitas di Pesantren justru Jadi Nilai Plus saat cari kerja.

AKURAT JAKARTA - Banyak santri merasa minder ketika mulai memasuki dunia kerja.

Dibandingkan lulusan lain, mereka mungkin merasa belum memiliki banyak sertifikat, pengalaman magang, atau portofolio yang bisa ditampilkan kepada perusahaan.

Kondisi itu tak jarang membuat sebagian santri menganggap diri mereka tertinggal sebelum benar-benar bersaing.

Padahal, ada modal penting yang sering luput disadari.

Selama menjalani kehidupan di pesantren, santri sebenarnya telah ditempa melalui berbagai kebiasaan yang membentuk karakter dan kemampuan yang sangat dibutuhkan di lingkungan kerja.

Pesantren bukan sekadar tempat mempelajari ilmu agama.

Lingkungan ini juga menjadi ruang pembelajaran yang membiasakan santri hidup disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, hingga siap memimpin.

Rutinitas harian yang padat menjadi salah satu contoh nyata.

Mulai dari bangun sebelum subuh, mengikuti pengajian, sekolah, setoran hafalan, menjalankan tugas organisasi, piket asrama, hingga belajar pada malam hari membuat santri terbiasa mengatur waktu secara efektif.

Kebiasaan tersebut secara tidak langsung melatih kemampuan menentukan prioritas, menyelesaikan berbagai tanggung jawab, serta menjaga konsistensi dalam menjalankan tugas.

Kemampuan seperti ini justru menjadi salah satu kualitas yang banyak dibutuhkan perusahaan.

Selain manajemen waktu, pengalaman berorganisasi di pesantren juga menjadi bekal penting.

Banyak santri dipercaya menjadi ketua kamar, pengurus asrama, panitia kegiatan, maupun koordinator berbagai program.

Melalui tanggung jawab tersebut, santri belajar mengambil keputusan, memimpin tim, menyelesaikan konflik, hingga berkoordinasi dengan banyak orang.

Pengalaman ini merupakan bentuk latihan kepemimpinan yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran di kelas.

Baca Juga: Hari Anak Nasional Jadi Momentum, Menkomdigi Soroti Cara Baru Lindungi Anak dari Kejahatan Digital

=====

Kemampuan komunikasi juga berkembang seiring aktivitas yang rutin dilakukan di lingkungan pesantren.

Kegiatan seperti muhadharah, diskusi kitab, presentasi, ceramah, maupun bahtsul masail membiasakan santri berbicara di depan banyak orang sekaligus menyampaikan pendapat secara terstruktur.

Kemampuan public speaking tersebut menjadi nilai tambah ketika memasuki dunia profesional, baik saat bekerja dalam tim, mempresentasikan ide, maupun berinteraksi dengan klien dan rekan kerja.

Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat, banyak perusahaan kini tidak hanya mempertimbangkan kemampuan teknis.

Karakter, integritas, kemampuan beradaptasi, serta kemauan belajar sering kali menjadi faktor yang sama pentingnya karena lebih sulit dibentuk dalam waktu singkat.

Karena itu, santri tidak perlu merasa tertinggal hanya karena belum memiliki banyak sertifikat atau pengalaman kerja formal.

Bekal yang diperoleh selama mondok justru menjadi fondasi yang dapat terus dikembangkan ketika memasuki dunia kerja.

Apa yang selama ini dianggap sebagai rutinitas pesantren ternyata menyimpan manfaat jangka panjang.

Disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, komunikasi, dan ketangguhan karakter merupakan aset yang dapat membantu santri bersaing dan berkembang di berbagai bidang profesi. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.