Tak Lagi Menunggu Murid Datang, Kini Pendidikan Berupaya Menjemput Anak yang Putus Sekolah

AKURAT JAKARTA - Selama bertahun-tahun, pendidikan identik dengan ruang kelas yang menunggu murid datang setiap hari.
Namun, pola tersebut mulai berubah.
Pemerintah kini mendorong sistem yang lebih aktif dengan mendatangi anak-anak yang selama ini belum mampu mengakses pendidikan, termasuk mereka yang telah putus sekolah.
Melalui Sistem Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh (SPMB PJJ), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ingin memastikan layanan pendidikan tidak berhenti pada proses pendaftaran peserta didik.
Program ini dirancang untuk menjangkau anak, mendampingi mereka selama belajar, hingga memastikan mereka dapat menyelesaikan pendidikan.
Perubahan pendekatan ini dilakukan karena masih banyak remaja Indonesia yang belum mengenyam pendidikan.
Data Kemendikdasmen menunjukkan sekitar 2,4 juta anak usia 16 hingga 18 tahun belum mengakses layanan pendidikan.
Karena itu, pendidikan jarak jauh diposisikan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi berbagai hambatan yang selama ini membuat anak tidak bisa kembali ke sekolah.
Hambatan tersebut dapat berupa kondisi ekonomi, lokasi tempat tinggal, pekerjaan, maupun berbagai faktor sosial lainnya.
Keberhasilan program ini juga tidak hanya diukur dari banyaknya peserta yang mendaftar.
Baca Juga: Kota Tua Jakarta Berubah Jadi Desa Konoha, Penggemar Naruto Bisa Masuk Gratis
=====
Pemerintah menargetkan semakin banyak anak yang mampu bertahan mengikuti proses pembelajaran hingga akhirnya lulus dan memperoleh pengakuan pendidikan secara formal.
Pendekatan tersebut sekaligus menandai perubahan cara pandang dalam penyelenggaraan pendidikan.
Jika sebelumnya layanan lebih banyak menunggu masyarakat datang, kini negara didorong untuk lebih proaktif mencari dan menjangkau anak-anak yang membutuhkan akses belajar.
Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap semakin sedikit anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.
Pada akhirnya, tujuan utama program ini bukan sekadar meningkatkan angka partisipasi sekolah, melainkan memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk menyelesaikan pendidikan dan membangun masa depannya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





