Jakarta

Tak Lagi Menunggu Murid Datang, Kini Pendidikan Berupaya Menjemput Anak yang Putus Sekolah

Anggerhana Denni Rahmawati | 12 Juli 2026, 09:30 WIB
Tak Lagi Menunggu Murid Datang, Kini Pendidikan Berupaya Menjemput Anak yang Putus Sekolah
Ilustrasi siswa yang tengah aktif belajar.

AKURAT JAKARTA - Selama bertahun-tahun, pendidikan identik dengan ruang kelas yang menunggu murid datang setiap hari.

Namun, pola tersebut mulai berubah.

Pemerintah kini mendorong sistem yang lebih aktif dengan mendatangi anak-anak yang selama ini belum mampu mengakses pendidikan, termasuk mereka yang telah putus sekolah.

Melalui Sistem Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh (SPMB PJJ), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ingin memastikan layanan pendidikan tidak berhenti pada proses pendaftaran peserta didik.

Program ini dirancang untuk menjangkau anak, mendampingi mereka selama belajar, hingga memastikan mereka dapat menyelesaikan pendidikan.

Perubahan pendekatan ini dilakukan karena masih banyak remaja Indonesia yang belum mengenyam pendidikan.

Data Kemendikdasmen menunjukkan sekitar 2,4 juta anak usia 16 hingga 18 tahun belum mengakses layanan pendidikan.

Karena itu, pendidikan jarak jauh diposisikan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi berbagai hambatan yang selama ini membuat anak tidak bisa kembali ke sekolah.

Hambatan tersebut dapat berupa kondisi ekonomi, lokasi tempat tinggal, pekerjaan, maupun berbagai faktor sosial lainnya.

Keberhasilan program ini juga tidak hanya diukur dari banyaknya peserta yang mendaftar.

Baca Juga: Kota Tua Jakarta Berubah Jadi Desa Konoha, Penggemar Naruto Bisa Masuk Gratis

=====

Pemerintah menargetkan semakin banyak anak yang mampu bertahan mengikuti proses pembelajaran hingga akhirnya lulus dan memperoleh pengakuan pendidikan secara formal.

Pendekatan tersebut sekaligus menandai perubahan cara pandang dalam penyelenggaraan pendidikan.

Jika sebelumnya layanan lebih banyak menunggu masyarakat datang, kini negara didorong untuk lebih proaktif mencari dan menjangkau anak-anak yang membutuhkan akses belajar.

Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap semakin sedikit anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.

Pada akhirnya, tujuan utama program ini bukan sekadar meningkatkan angka partisipasi sekolah, melainkan memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk menyelesaikan pendidikan dan membangun masa depannya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.