Jakarta

Siap-siap, Fenomena Langka Blue Moon Hiasi Langit Indonesia Akhir Mei Ini

Yusuf Doank | 31 Mei 2026, 20:58 WIB
Siap-siap, Fenomena Langka Blue Moon Hiasi Langit Indonesia Akhir Mei Ini

AKURAT JAKARTA – Langit Indonesia akan dihiasi fenomena astronomi langka Blue Moon atau Bulan Purnama kedua dalam satu bulan kalender pada Minggu malam, 31 Mei 2026.

Menariknya, momen langka yang rata-rata hanya terjadi setiap dua hingga tiga tahun sekali ini bertepatan dengan perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE.

Siklus fase Bulan umumnya berlangsung selama 29,5 hari. Karena Bulan Purnama pertama di bulan Mei 2026 telah terjadi pada tanggal 1 Mei (Flower Moon), maka purnama yang jatuh di akhir bulan pada 31 Mei nanti resmi disebut sebagai Blue Moon.

Baca Juga: Asyik! Sambut HUT Jakarta ke-499, Masuk Ancol Gratis pada Sore hingga Malam Hari Mulai 8-19 Juni 2026

Meski dinamakan Blue Moon, fenomena ini tidak berarti Bulan akan berubah warna menjadi biru. Istilah ini murni merujuk pada urutan kemunculan purnama yang ganda dalam satu bulan kalender yang sama.

Bonus Fenomena Micromoon

Blue Moon kali ini terbilang unik karena bertepatan dengan fenomena micromoon. Kondisi ini terjadi ketika Bulan berada di titik apogee, yaitu titik terjauh dari Bumi dalam garis orbitnya.

Akibatnya, diameter Bulan akan tampak sekitar 7% lebih kecil dan sedikit lebih redup dibandingkan dengan ukuran Bulan Purnama standar.

Waktu Terbaik Mengamati di Indonesia

Secara astronomis, puncak Blue Moon 2026 akan berlangsung pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 08.45 UTC. Jika dikonversi ke waktu Indonesia, puncaknya jatuh pada sore hari, yaitu pukul:

15.45 WIB (Waktu Indonesia Barat)

16.45 WITA (Waktu Indonesia Tengah)

17.45 WIT (Waktu Indonesia Timur)

Mengingat puncak astronomisnya terjadi pada sore hari, masyarakat Indonesia dapat mulai menikmati keindahan Bulan Purnama ini sejak matahari terbenam sekitar pukul 17.30 hingga 18.00 waktu setempat. Namun, waktu terbaik untuk mengamatinya adalah saat posisi Bulan sudah tinggi di langit, mulai pukul 19.00 hingga menjelang tengah malam.

Tips Menyaksikan Blue Moon di Indonesia

Fenomena ini dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia tanpa memerlukan alat bantu khusus. Agar pengamatan Anda maksimal, berikut beberapa tips yang dapat diikuti:

Gunakan Mata Telanjang: Anda tidak membutuhkan teleskop atau kacamata khusus. Sebagai salah satu objek langit paling terang, Bulan dapat dilihat langsung dengan mata telanjang selama langit cerah.

Cari Lokasi Minim Polusi Cahaya: Pilih area terbuka yang jauh dari gemerlap lampu kota, seperti kawasan pantai, pegunungan, lapangan luas, atau rooftop gedung tinggi.

Adaptasi Mata: Berikan waktu sekitar 15–20 menit bagi mata Anda untuk beradaptasi dengan kondisi gelap. Hindari melihat layar ponsel terlalu sering saat pengamatan agar pupil mata tetap optimal melihat objek langit.

Gunakan Alat Bantu untuk Detail Kawah: Jika Anda ingin melihat tekstur permukaan dan kawah Bulan secara lebih terperinci, Anda bisa memanfaatkan teropong binokular atau teleskop sederhana.

Pantau Prakiraan Cuaca BMKG: Awan mendung dan hujan menjadi kendala utama pengamatan astronomi. Pastikan Anda memantau perkembangan cuaca lokal melalui aplikasi BMKG sebelum mulai mengamati langit. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y