Jakarta

Ternyata Ini Biang Kerok Macet Horor di Pelabuhan Gilimanuk Versi Gapasdap, Usulkan Beberapa Solusi Jangka Panjang

M Rahman Akurat | 16 Maret 2026, 12:27 WIB
Ternyata Ini Biang Kerok Macet Horor di Pelabuhan Gilimanuk Versi Gapasdap, Usulkan Beberapa Solusi Jangka Panjang
Horor macet di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali.

AKURAT JAKARTA - Horor kemacetan terjadi di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Kendaraan mengular hingga puluhan kilometer pada Minggu (15/3/2025).

Antrean kendaraan untuk masuk ke kapal, bahkan menunggu hingga 14 jam. Kondisi ini diperparah dengan cuaca panas ekstrem, sehingga menyebabkan belasan pemudik motor jatuh pingsan.

Kemacetan panjang ini terjadi di tengah puncak arus mudik yang bertepatan dengan menjelang penutupan pelabuhan untuk Hari Raya Nyepi.

Baca Juga: Ngotot Buktikan Masih Hidup, Deretan Video Netanyahu Mulai Dari Enam Jari Hingga Ngopi di Kafe Disebut 'Cacat' Algoritma

Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), Khoiri Soetomo, angkat bicara mengenai kondisi krusial ini.

Menurutnya, ada beberapa faktor utama yang memicu penumpukan kendaraan di jalur utama menuju pelabuhan tersebut, antara lain:

  1. Pertemuan Dua Arus Besar

Khoiri menjelaskan bahwa periode ini merupakan fenomena unik di mana terjadi pertemuan dua arus massa sekaligus.

"Terjadi lonjakan volume kendaraan yang signifikan akibat gabungan arus mudik Lebaran dan masyarakat yang keluar Bali menjelang Hari Raya Nyepi," ujar Khoiri dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).

Baca Juga: Horor Mudik di Gilimanuk: Macet 32 KM, Antrean 14 Jam, 17 Pemudik Tumbang Akibat Cuaca Panas Ekstrem

  1. Masalah Sistem Kedatangan dan Kapasitas Dermaga

Selain volume kendaraan, Gapasdap menyoroti belum tertatanya sistem kedatangan kendaraan.

Berbeda dengan moda transportasi lain, penyeberangan dinilai masih terlalu terbuka.

Kendaraan seringkali langsung menuju pelabuhan meski belum memiliki tiket atau booking code.

Hal ini diperparah dengan ketidakseimbangan antara infrastruktur jalan dan kapasitas dermaga.

"Jalan tol mempercepat kendaraan menuju pelabuhan, tetapi kapasitas dermaga belum bertambah secara seimbang. Akibatnya terjadi bottleneck (penyempitan), dan jalan nasional berubah menjadi ruang parkir raksasa," tegasnya.

Baca Juga: Respons Cepat Laporan Warga, Bupati Tangerang Bakal Bedah Rumah Tak Layak Huni Milik Ibu Kolisah di Kronjo

Solusi Ditawarkan Gapasdap

Agar masalah tahunan ini tidak terus berulang, Gapasdap mendesak adanya langkah sistemik dari pemangku kepentingan. Beberapa poin utama yang diusulkan antara lain:

  • Penambahan Kapasitas Dermaga: Meningkatkan jumlah, kualitas, dan kapasitas dermaga agar sebanding dengan jumlah armada kapal.

  • Sistem Tiket Digital: Penerapan kewajiban memiliki tiket atau booking code sebelum kendaraan mendekati area pelabuhan untuk mengendalikan arus dari hulu.

  • Penyediaan Buffer Zone: Membangun area penyangga atau kantong parkir kendaraan sebelum memasuki kawasan inti pelabuhan.

  • Integrasi Infrastruktur: Memastikan pembangunan jalan tol dibarengi dengan pengembangan kapasitas pelabuhan yang setara.

Baca Juga: Imbas Rudal AS-Iran, Jadwal MotoGP Qatar Kena Efek Domino

Khoiri berharap integrasi antara pembangunan jalan dan kapasitas pelabuhan dapat segera direalisasikan demi menciptakan sistem transportasi penyeberangan yang lebih efisien dan nyaman bagi masyarakat. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.