Jakarta

Bahagianya Petani Rempah Andaliman di Danau Toba, Naik Kelas Berkat Bantuan KUR dari Bank BRI

Sastra Yudha | 11 Juni 2024, 13:54 WIB
Bahagianya Petani Rempah Andaliman di Danau Toba, Naik Kelas Berkat Bantuan KUR dari Bank BRI

AKURAT JAKARTA - Indonesia terkenal kaya akan rempah-rempah. Salah satunya rempah Andaliman atau bernama latin zanthoxylum acanthopodium. Ini merupakan rempah khas Danau Toba, Sumatera Utara.

Rempah Andaliman memiliki rasa pedas, getir, panas, mentol, dan aroma harum seperti bau jeruk.

Rempah ini dapat diolah menjadi bumbu masak serta dapat pula dibuat keripik, bandrek, dan berbagai makanan-minuman lainnya.

Marandus Sirait, salah satu pelaku usaha rempah Andaliman di Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, menjadi yang pertama kali membudidayakan Andaliman di Lumban Julu.

Baca Juga: ASYIK! Konser Persembahan Cinta dari Dewa 19, Maliq D’Essentials, Fourtwnty hingga Fiersa Besari Bakal Digelar di Empat Kota, Catat Tanggal dan Lokasi

Inisiatifnya dalam membudidayakan Andaliman tersebut menginspirasi masyarakat sekitarnya, sehingga turut serta membuat usaha yang sama.

Sirait memulai usaha Andaliman pada 2017, dengan nama UMKM CV Andaliman Mangintir.

Ia membudidayakan dan menjual rempah Andaliman, baik yang masih segar maupun dalam kemasan, serta produk-produk turunannya ke dalam dan luar negeri.

Usaha Andaliman Sirait memiliki modal awal sebesar Rp 50 juta. Modal tersebut dipakai untuk membeli bibit, alat-alat produksi, menyewa lahan untuk menanam, dan kebutuhan lainnya.

Andaliman sendiri, kata Sirait, membutuhkan waktu 1 tahun untuk tumbuh. Masa panennya dimulai di bulan Maret hingga Juni. Selepas bulan tersebut, produksi Andaliman akan terus berkurang.

“Saat stok Andaliman sedang normal, eceran Andaliman memiliki harga paling murah Rp15.000 per kilogram. Namun, ketika stok sedang sedikit, harga Andaliman bisa mencapai Rp 250.000 sampai Rp 300.000 per kilogram,” ujarnya.

Berkat usaha Rempah Andaliman, Ia pun dapat meraup omzetnya sekitar Rp 20 juta setiap bulannya.

Baca Juga: HOREE! Happy Asmara, JKT48 hingga Dkoomix Bakal Manggung di Festival Musik Multi Genre di Kota Samarinda, Catat Tanggalnya

Berkat keunikan dan kekhasan rempah tersebut, UMKM-nya juga pernah mengikuti pameran makanan di luar negeri, yakni di Swiss, Spanyol, dan Polandia.

Kendati usahanya berjalan mulus, namun pada 2020 ketika pandemi Covid-19, ia menemui sebuah tantangan.

“Saat pandemi Covid 19, tidak ada pasar sama sekali sementara tanaman kami lagi panen raya, jadinya banyak Andaliman yang mati. Itulah masa anjloknya Andaliman dan kelompok tani Andaliman,” terangnya.

Peristiwa tersebut yang menjadi titik awal kerja sama antara usahanya dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Ketika masa sulit, BRI hadir membantu memberi modal usaha dan kebutuhan untuk produksi seperti: angkong, alat pelindung diri (APD), serta bibit andaliman.

Demi mengangkat kembali citra Andaliman yang terbenam saat masa pandemi, BRI pun mengajak kerja sama pengusaha andaliman untuk ikut dalam program Beli Kreatif Danau Toba 2021.

Selepas itu, BRI juga terus mengajak pengusaha andaliman untuk membuka stan jualan di ragam acara mereka di berbagai daerah agar produk andaliman semakin meluas namanya.

“BRI sangat membantu masyarakat. Karena usaha tanpa ada modal, ya repot juga apalagi di masa krisis seperti dahulu. Kami sangat tertolong banyak dalam usaha UMKM ini. Prosesnya juga tidak ribet,” sebutnya.

Baca Juga: Libur Sekolah Mau Kemana? Kunjungi LIBURLAND Festival 2024 di Banjarbaru, Ada Konser Tulus, Ungu, Tiara Andini hingga Gildcoustic, Catat Tanggalnya!

Pada kesempatan terpisah, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan bahwa BRI bersama pemerintah memiliki komitmen untuk mendorong para nasabah KUR naik kelas.

Ia mengungkapkan, mayoritas KUR BRI disalurkan kepada sektor produksi, dengan proporsi mencapai 55,95 %.

“Secara umum, strategi bisnis mikro BRI di tahun 2024 akan fokus pada pemberdayaan berada di depan pembiayaan. BRI sebagai bank yang berkomitmen kepada UMKM telah memiliki kerangka pemberdayaan yang dimulai dari fase dasar, integrasi, hingga interkoneksi," kata Supari.

BRI optimistis dapat memenuhi penyaluran KUR untuk tahun ini senilai Rp165 triliun pada bulan September 2024.

Hal tersebut dapat tercapai dengan adanya percepatan graduasi atau upaya untuk membuat nasabah eksisting naik kelas.

"Di sisi lain, penyaluran KUR juga didorong dengan perluasan jangkauan penerima baru," pungkasnya. (*)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.