Legenda Si Pitung dari Betawi, Pahlawan di Mata Rakyat Jelata dan Perampok di Mata Kompeni

AKURAT JAKARTA - Bagi warga Jakarta, Pitung merupakan nama yang sangat melegenda dari Rawabelong. Hidup semasa penjajahan Kolonial Belanda, Pitung merupakan pahlawan di mata rakyat jelata, namun seorang perampok di mata penguasa.
Meski dianggap sebagai nama seorang jawara dari Betawi, beberapa versi orang Betawi, menyatakan si Pitung merupakan nama organisasi perampok yang terdiri dari tujuh orang dengan latar belakang suku yang berbeda.
Mereka merampok kompeni dan tauke, lalu hasilnya dibagikan kepada fakir miskin. Kata pitung merupakan akronim dari bahasa Jawa pitu pitulungan yang berarti ‘tujuh pertolongan’.
Baca Juga: Asal-usul Pancoran di Jakarta Selatan: Ujian Tiga Putra Raja untuk Naik Tahta, sempat Ada Yang Mati tapi Dihidupkan Kembali
Terlepas dari perbedaan versi, masyarakat Jakarta mengenal Pitung merupakan seorang pendekar yang sejak Sejak kecil belajar di pesantren Haji Naipin.
Dikutip dari Buku SAHABATKU INDONESIA terbitan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan 2019, aksi heroik Pitung yang melegenda itu dimulai saat suatu hari ia pulang dari pasar.
Di tengah jalan, Pitung dicegat segerombolan begal yang merebut uangnya secara paksa.
Baca Juga: Bosan dengan Opor dan Rendang, Simak Resep Mie Ayam Bakso Rumahan yang Kerap Diburu di Momen Lebaran
Pitung melawan dan berbekal jurus bela diridari Haji Naipin, para begal itu akhirnya menyerah dan mengembalikan uang Pitung.
Pimpinan begal mengagumi kehebatan Pitung dan mengajaknya ikut bergabung mencopet uang di pasar.
Pitung sejenak terdiam. Pitung kemudian memberi mereka nasihat agar tidak lagi berbuat jahat, tapi justru harus membantu orang lain. Apalagi, di sana banyak orang kelaparan dan kesusahan.
Baca Juga: Hari Ini dan Besok Ada Pertunjukkan Es Skating di Indonesia Arena Berjudul Peter Pan on Ice, Simak Jadwalnya dan Harga Tiketnya
Mereka bingung bagaimana cara melakukan kegiatan kemanusiaan, sedangkan mereka sendiri hidup berkekurangan.
Pitung mendapatkan ide. Ia dan gerombolan begal itu merampok orang-orang kaya yang jahat. Lalu, hasilnya diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Mereka kemudian melancarkan aksi tersebut. Ketika melihat sepak terjang Pitung, kompeni lantas mencoba menangkap Pitung.
Baca Juga: Kamu Mau Ikut Arus Balik Lebaran Idulfitri Melewati Batang? 7 Prasasti Jadi Saksi Bisu Kabupaten Yang Kamu Lalui Ini Bukan Kaleng-kaleng!
Namun, Pitung berhasil melarikan diri. Polisi sempat menembaknya, tetapi, berkat jimatnya, Pitung kebal peluru.
Pitung menjadi buronan polisi. Ketika mengetahui bahwa ajian Pitung akan hilang jika dilempari telur busuk, mereka langsung melempari Pitung dengan telur busuk. Ketika ia mulai tidak berdaya, Pitung langsung ditembak mati.
Ada versi lain seputar kematian si Pitung.
Baca Juga: JANGAN KELEWATAN! Pameran Kendaraan Listrik, PEVS 2024 Digelar Akhir Bulan Ini, Simak Informasinya
Disebutkan si Pitung memiliki ajian rawa rontek, ia lalu dibunuh dengan cara ditarik tiap-tiap anggota tubuhnya menggunakan kuda sehingga terbelah menjadi beberapa bagian.
Tubuhnya dimakamkan di tempat yang berbeda karena, menurut cerita, jika tubuhnya disatukan, ia akan hidup lagi.
Meski dikenal sebagai pahlawan, Pitung tetap dianggap penjahat oleh kompeni karena menolong orang dengan cara yang tidak tepat.*
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








