Jakarta

Sering Kentut Setelah Makan Sayur dan Kacang? Jangan Cepat Anggap Pencernaanmu Bermasalah

Anggerhana Denni Rahmawati | 3 September 2026, 21:30 WIB
Sering Kentut Setelah Makan Sayur dan Kacang? Jangan Cepat Anggap Pencernaanmu Bermasalah
Sering buang gas setelah makan sayur bukan selalu masalah.

AKURAT JAKARTA - Kamu mungkin pernah merasa heran ketika setelah mulai memperbanyak sayur, kacang-kacangan, atau makanan tinggi serat, perut justru menjadi lebih sering menghasilkan gas.

Padahal, makanan tersebut dikenal sebagai bagian dari pola makan sehat.

Kondisi itu tidak selalu berarti ada yang salah dengan sistem pencernaan.

Dalam banyak kasus, kentut setelah mengonsumsi makanan tinggi serat merupakan bagian dari proses bakteri di usus dalam mengolah makanan yang tidak sepenuhnya dapat dicerna tubuh.

Serat dan pati tertentu yang tidak terserap di usus kecil akan bergerak menuju usus besar.

Di tempat tersebut, bakteri usus akan memfermentasi bahan makanan tersebut. Proses fermentasi inilah yang menghasilkan gas.

Ahli gizi Christine Byrne, MPH, RD menjelaskan bahwa bakteri probiotik yang sehat di dalam usus akan memfermentasi serat yang tidak dapat dicerna dan menghasilkan gas sebagai bagian dari proses tersebut.

Tubuh kemudian perlu mengeluarkan gas tersebut.

Salah satu jalurnya adalah melalui anus sehingga kamu bisa menjadi lebih sering kentut setelah mengonsumsi makanan tertentu.

Namun, ada hal menarik di balik proses tersebut.

Baca Juga: Stasiun Karet Ditutup Sementara, Pedagang Sekitar Keluhkan Pembeli Mulai Berkurang: Hari Biasa Kayak Akhir Pekan

Gas ternyata bukan satu-satunya hasil fermentasi serat.

Bakteri usus juga menghasilkan asam lemak rantai pendek yang memiliki berbagai peran penting bagi tubuh.

Senyawa tersebut dapat membantu mendukung metabolisme, mengurangi peradangan, serta memberikan manfaat bagi sejumlah organ, termasuk jantung, hati, dan otak.

Karena itu, frekuensi kentut tidak bisa digunakan begitu saja untuk menentukan apakah makanan yang kamu konsumsi sehat atau tidak.

Setiap orang memiliki komposisi bakteri usus yang berbeda sehingga respons terhadap makanan berserat juga dapat berbeda.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.