Kasus Yurizal Viral, Psikolog Ungkap Alasan Melampiaskan Amarah di Medsos Bisa Jadi Bumerang

AKURAT JAKARTA - Medsos atau media sosial sering dianggap sebagai tempat untuk mencurahkan isi hati ketika seseorang sedang kecewa atau marah.
Namun, apa yang terasa melegakan setelah menulis unggahan ternyata belum tentu membuat emosi benar-benar mereda.
Kasus unggahan Yurizal Tri Chaerawan yang memperlihatkan tenaga kesehatan diduga merundung dirinya di media sosial kembali memperlihatkan persoalan tersebut.
Yurizal sebelumnya mengeluhkan lamanya waktu menunggu ketersediaan kamar rawat inap sebelum kemudian meninggal dunia pada 31 Juli 2026.
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, MM, Psikolog, mengatakan melampiaskan kemarahan secara impulsif di media sosial justru dapat membuat seseorang semakin terikat dengan emosi negatifnya.
"Melampiaskan kemarahan secara impulsif tidak selalu membuat permasalahannya selesai dan kondisi emosi jadi membaik. Justru, sangat mungkin hal tersebut malah memperkuat kemarahan karena seseorang terus mengulang dan menghidupkan kembali emosi negatifnya," kata Ratih seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (9/8/2026).
Merasa lega belum tentu menyelesaikan masalah
Dalam situasi tertentu, mencurahkan emosi memang dapat memberikan rasa lega.
Seseorang mungkin merasa lebih ringan setelah mengungkapkan kekecewaan atau kemarahannya.
Namun, menurut Ratih, efek tersebut bisa hanya berlangsung sementara.
Baca Juga: Tercepat pada Moto3 Inggris 2026, Veda Diakui Media Italia: Bukan Kebetulan
Ketika seseorang terus menulis, membaca ulang, atau membicarakan pengalaman yang membuatnya marah, emosi tersebut justru dapat kembali muncul.
Masalahnya menjadi lebih kompleks ketika pelampiasan dilakukan di ruang publik seperti media sosial.
Unggahan yang dibuat ketika emosi sedang tinggi dapat memunculkan persoalan baru, termasuk konflik, penyesalan, hingga dampak terhadap reputasi.
Terlebih, situasi dapat menjadi semakin rumit ketika pihak yang menjadi sasaran berada dalam hubungan kuasa yang tidak seimbang.
"Apalagi jika yang menjadi sasaran adalah individu yang memiliki relasi kuasa yang tidak seimbang, seperti pasien," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!


