Dulu Anak Harus Patuh, Kini Harus Didengar, Mana yang Semestinya Dipilih?

AKURAT JAKARTA - "Dulu saya dididik seperti ini, kenapa sekarang cucu tidak boleh?"
Kalimat seperti itu mungkin sering terdengar di banyak keluarga.
Perbedaan cara mengasuh anak antara orang tua muda dan generasi sebelumnya kini menjadi fenomena yang semakin umum.
Bukan karena salah satu pihak lebih benar, melainkan karena setiap generasi tumbuh dalam lingkungan sosial, pengetahuan, dan tantangan yang berbeda.
Keluarga merupakan tempat pertama anak belajar mengenal emosi, membangun karakter, hingga memahami cara berinteraksi dengan orang lain.
Karena itu, pola asuh yang diterapkan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sosial dan emosional anak.
Pada generasi terdahulu, pola asuh cenderung berorientasi pada kepatuhan.
Anak diharapkan mengikuti aturan orang tua tanpa banyak bertanya atau menyampaikan pendapat.
Pendekatan tersebut bertujuan membentuk disiplin dan rasa hormat, meski dalam beberapa kondisi membuat anak memiliki ruang yang lebih terbatas untuk mengekspresikan emosi.
Kini, seiring berkembangnya ilmu psikologi dan mudahnya akses informasi melalui internet, banyak orang tua dari Generasi Z mulai memilih pendekatan yang berbeda.
Mereka lebih mengedepankan komunikasi, empati, serta disiplin tanpa kekerasan atau yang dikenal sebagai gentle parenting.
Dalam pendekatan ini, anak dipandang sebagai individu yang perlu didengar sekaligus dibimbing, bukan sekadar dituntut untuk patuh.
Meski demikian, gentle parenting bukan berarti membebaskan anak melakukan apa saja.
Banyak orang tua muda tetap menetapkan batasan yang tegas, terutama ketika menyangkut keselamatan atau pelanggaran aturan yang berulang.
Dengan kata lain, pengasuhan modern berusaha mencari titik keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan.
Baca Juga: Alumni BINUS Menang di Kompetisi Dunia, Ternyata Bukan Bakat yang Paling Menentukan
=====
Perbedaan inilah yang kerap memunculkan perdebatan di dalam keluarga.
Kakek dan nenek yang terbiasa dengan pola asuh lama terkadang menilai orang tua masa kini terlalu lembut.
Sebaliknya, orang tua muda merasa penting memberikan ruang bagi anak untuk memahami dan mengelola emosinya.
Fenomena tersebut dapat dipahami melalui teori generasi yang menyebutkan bahwa setiap kelompok usia dibentuk oleh pengalaman sosial yang berbeda.
Selain itu, perkembangan teknologi membuat orang tua saat ini memperoleh banyak referensi mengenai pengasuhan dari psikolog, buku, komunitas, hingga media sosial, sehingga cara mendidik anak ikut mengalami perubahan.
Perubahan juga terlihat pada cara ibu memandang dirinya.
Jika dulu ibu identik dengan sosok yang selalu mengutamakan keluarga tanpa memiliki waktu untuk diri sendiri, kini semakin banyak yang menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental.
Konsep me time bukan dipandang sebagai bentuk mengabaikan anak, melainkan upaya mengisi ulang energi agar dapat memberikan pengasuhan yang lebih berkualitas.
Di balik berbagai perubahan tersebut, tujuan setiap orang tua sebenarnya tetap sama, yaitu membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Perbedaannya hanya terletak pada cara mencapainya.
Selama komunikasi antargenerasi terus dibangun dan kebutuhan anak tetap menjadi prioritas, perbedaan pola asuh justru dapat menjadi ruang untuk saling belajar, bukan sumber konflik dalam keluarga. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





