Menelusuri Asal Usul Pekan Raya Jakarta, Dari Pameran Dagang Menjadi Ikon Wisata dan Hiburan

AKURAT JAKARTA - Pekan Raya Jakarta atau PRJ menjadi salah satu agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.
Setiap penyelenggaraan, kawasan pameran dipenuhi pengunjung yang datang untuk berbelanja, mencicipi kuliner, dan menikmati hiburan.
Di balik kemeriahan tersebut, PRJ sebenarnya lahir dari sebuah gagasan besar untuk membantu menggerakkan perekonomian nasional.
Sejarah PRJ bermula dari usulan Syamsuddin Mangan yang saat itu menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta.
Ia mengajukan ide kepada Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin untuk menghadirkan pameran dagang berskala besar di ibu kota.
Gagasan tersebut mendapat dukungan penuh karena dinilai mampu memperkenalkan produk dalam negeri kepada masyarakat luas.
Dari usulan itulah lahir sebuah pameran yang diberi nama Djakarta Fair dengan menggunakan ejaan lama bahasa Indonesia.
Penyelenggaraan perdana Djakarta Fair berlangsung pada 5 Juni hingga 20 Juli 1968 di kawasan Monumen Nasional atau Monas.
Acara pembukaan dilakukan langsung oleh Presiden Soeharto yang menandai dimulainya pameran dengan simbol pelepasan merpati.
Sejak awal, pameran ini tidak hanya menghadirkan produk perdagangan tetapi juga berbagai hiburan yang menarik perhatian publik.
Perpaduan antara promosi usaha dan hiburan rakyat membuat Djakarta Fair cepat dikenal oleh masyarakat luas.
Dalam perkembangannya, acara ini kemudian menjadi bagian penting dari perayaan hari jadi Kota Jakarta setiap tahun.
Banyak orang mengira kata pekan berarti satu minggu karena istilah tersebut sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal dalam bahasa Melayu, kata pekan memiliki arti pasar atau tempat berlangsungnya kegiatan perdagangan masyarakat.
Makna tersebut menjelaskan mengapa Pekan Raya Jakarta identik dengan kegiatan pameran dan transaksi ekonomi berskala besar.
Baca Juga: Liburan Aman: Ajarkan Anak 3 Cara Bertindak Saat Terpisah di Keramaian
=====
Karena itu pula penyelenggaraan PRJ berlangsung selama beberapa minggu dan bukan hanya tujuh hari seperti yang diperkirakan.
Selama lebih dari dua dekade, kawasan Monas menjadi lokasi utama penyelenggaraan acara yang terus berkembang setiap tahun.
Meningkatnya jumlah peserta pameran dan pengunjung membuat kebutuhan akan lokasi yang lebih luas semakin mendesak.
Pada tahun 1992, PRJ resmi dipindahkan ke Jakarta International Expo atau JIExpo yang berada di kawasan Kemayoran.
Kawasan bekas Bandara Kemayoran dipilih karena memiliki area yang lebih luas dan mendukung kegiatan pameran modern.
Hingga sekarang, JIExpo Kemayoran masih menjadi lokasi tetap penyelenggaraan Jakarta Fair yang dikenal masyarakat luas.
Seiring perkembangan zaman, nama Jakarta Fair mulai lebih sering digunakan sebagai identitas resmi dalam promosi acara.
Penggunaan nama tersebut bertujuan memperkuat citra internasional sekaligus memudahkan wisatawan mengenali kegiatan tahunan ini.
Meski demikian, sebagian besar masyarakat tetap akrab menggunakan sebutan PRJ yang telah dikenal selama puluhan tahun.
Kini PRJ menghadirkan ribuan peserta dari sektor otomotif, elektronik, fesyen, makanan, minuman, hingga pelaku UMKM.
Beragam produk dan layanan ditampilkan sehingga pengunjung dapat menikmati pengalaman belanja yang lengkap dalam satu tempat.
Selain pameran produk, konser musik, wahana permainan, dan festival kuliner menjadi daya tarik yang selalu dinantikan.
Kehadiran berbagai hiburan membuat Jakarta Fair berkembang menjadi destinasi wisata keluarga yang ramai setiap tahun.
Jutaan orang datang untuk menikmati suasana pesta rakyat yang memadukan perdagangan, budaya, dan hiburan modern.
Lebih dari lima dekade setelah pertama kali digelar, PRJ tetap menjadi simbol penting perkembangan ekonomi ibu kota.
Baca Juga: Legislator Golkar Farah Savira Dorong Setu Babakan Jadi Pusat Aktivitas Seni dan Budaya Jakarta
=====
Perjalanan panjang tersebut membuktikan bahwa sebuah pameran dagang dapat tumbuh menjadi ikon wisata kebanggaan Indonesia.
Semangat awal untuk mempromosikan produk nasional tetap terjaga dan terus menjadi fondasi utama penyelenggaraan PRJ.
Dari Monas hingga Kemayoran, Pekan Raya Jakarta terus berkembang sebagai etalase karya bangsa yang menghubungkan usaha dan masyarakat. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!



