Jakarta

Lima Cara Memutus Rantai Toxic Parenting yang Perlu Diketahui Orang Tua

Anggerhana Denni Rahmawati | 30 Juni 2026, 07:30 WIB
Lima Cara Memutus Rantai Toxic Parenting yang Perlu Diketahui Orang Tua
Jangan biarkan toxic parenting berlanjut.

AKURAT JAKARTA - Pola asuh yang tidak sehat atau toxic parenting dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan emosional anak.

Jika tidak disadari, pola tersebut bahkan bisa terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kabar baiknya, kebiasaan ini dapat diubah melalui kesadaran dan kemauan untuk memperbaiki cara mengasuh anak.

Menciptakan lingkungan yang aman dan penuh dukungan menjadi salah satu langkah penting agar anak dapat tumbuh dengan sehat, baik secara fisik maupun emosional.

Berikut lima cara yang dapat membantu memutus rantai toxic parenting.

1. Kenali Pola Asuh yang Tidak Sehat

Langkah pertama adalah mengevaluasi cara mengasuh selama ini.

Coba perhatikan apakah kamu sering mengkritik anak secara berlebihan, terlalu mengontrol, mengabaikan perasaannya, atau menggunakan rasa bersalah untuk memengaruhi mereka.

Kesadaran terhadap pola tersebut menjadi awal dari sebuah perubahan.

2. Hargai Batasan dan Kemandirian Anak

Anak membutuhkan kesempatan untuk belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab sesuai usianya.

Memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang dapat membantu membangun rasa percaya diri dan kemandirian.

Menghormati privasi anak juga menjadi bagian penting dari pola asuh yang sehat.

3. Bangun Komunikasi yang Terbuka

Biasakan mendengarkan anak tanpa langsung menghakimi atau menyela pembicaraannya.

Baca Juga: Nasi Beku dan Gula Darah: Bisa Lebih Stabil, Tetapi Tetap Perlu Waspada Risiko Keracunan

=====

Ketika mereka menyampaikan perasaan atau masalah, berikan respons yang penuh empati agar anak merasa dihargai dan nyaman untuk terbuka.

4. Kelola Emosi dan Luka Masa Lalu

Tidak sedikit pola toxic parenting berawal dari pengalaman masa kecil orang tua sendiri.

Mengenali sumber kemarahan, trauma, atau kekecewaan dapat membantu kamu merespons anak dengan lebih tenang dan tidak mengulangi pola pengasuhan yang sama.

5. Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional

Jika merasa kesulitan mengubah pola lama atau masih bergumul dengan trauma masa lalu, berkonsultasi dengan psikolog atau konselor keluarga bisa menjadi pilihan.

Langkah ini bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk kepedulian untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi anak.

Memutus rantai toxic parenting memang membutuhkan waktu dan proses.

Namun, dengan kesadaran, komunikasi yang baik, serta kemauan untuk terus belajar, kamu dapat membangun hubungan yang lebih hangat dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.