Jakarta

Menelusuri Jejak Angkringan: Dari Desa Ngerangan Klaten Menjadi Ikon Kuliner Jogja dan Solo

Anggerhana Denni Rahmawati | 16 Juni 2026, 16:00 WIB
Menelusuri Jejak Angkringan: Dari Desa Ngerangan Klaten Menjadi Ikon Kuliner Jogja dan Solo
Ilustrasi angkringan Jogja. (jogjaprov.go.id)

AKURAT JAKARTA - Ketika musim liburan tiba, Jogja dan Solo selalu menjadi tujuan favorit wisatawan dari berbagai daerah.

Kedua kota ini menawarkan banyak pilihan wisata budaya, sejarah, alam, dan kuliner yang menarik.

Di antara beragam kuliner yang ada, angkringan menjadi salah satu yang paling sering dicari wisatawan.

Angkringan mudah ditemukan di sudut-sudut kota, terutama saat sore hingga malam hari tiba.

Suasananya sederhana, hangat, dan mampu menghadirkan pengalaman khas yang sulit dilupakan.

Banyak wisatawan sengaja datang untuk menikmati suasana santai sambil mencicipi menu tradisional.

Menu yang tersedia di angkringan sangat beragam dengan harga yang relatif terjangkau bagi semua kalangan.

Nasi kucing menjadi menu yang paling identik dan hampir selalu tersedia di setiap angkringan.

Selain itu, tersedia pula gorengan, sate usus, sate telur puyuh, dan berbagai minuman hangat khas Jawa.

Meski sangat identik dengan Jogja dan Solo, asal-usul angkringan ternyata berasal dari Klaten, Jawa Tengah.

Tepatnya dari Desa Ngerangan yang menjadi tempat lahirnya konsep kuliner rakyat yang legendaris ini.

Sejarah angkringan bermula pada sekitar tahun 1930-an melalui sosok bernama Karso Jukut atau Mbah Jukut.

Pada masa itu, Mbah Jukut merantau ke Solo dan menjajakan makanan menggunakan pikulan sederhana.

Ia berkeliling menawarkan makanan kepada masyarakat yang membutuhkan santapan murah dan praktis.

Konsep tersebut kemudian berkembang dan diterima dengan baik oleh masyarakat setempat.

Baca Juga: Catat! Pendaftaran SPMB DKI Jakarta 2026 Resmi Dibuka, Ini Kuota dan Jalur Penerimaannya

=====

Istilah angkringan berasal dari kata "angkring" dalam bahasa Jawa yang berarti duduk santai.

Nama tersebut muncul karena pembeli biasanya menikmati makanan sambil duduk santai di kursi kayu.

Suasana akrab dan sederhana menjadi daya tarik utama yang tetap bertahan hingga saat ini.

Perjalanan angkringan terus berkembang ketika memasuki era 1950-an di wilayah Yogyakarta.

Seorang perantau asal Klaten bernama Mbah Pairo membawa konsep tersebut ke Kota Yogyakarta.

Ia membuka warung di sekitar kawasan Stasiun Tugu yang ramai oleh pendatang dan wisatawan.

Dari tempat itulah angkringan semakin dikenal luas dan mulai menjadi bagian kehidupan masyarakat Jogja.

Keberadaannya perlahan berkembang menjadi salah satu simbol budaya kuliner yang sangat populer.

Banyak pedagang lain kemudian mengikuti jejak tersebut dan membuka usaha serupa di berbagai lokasi.

Memasuki era 1970-an, terjadi perubahan besar dalam bentuk sarana berjualan angkringan.

Pedagang mulai meninggalkan pikulan dan beralih menggunakan gerobak kayu beratap terpal.

Gerobak tersebut biasanya dilengkapi lampu teplok yang memberikan suasana hangat pada malam hari.

Di Solo dan wilayah sekitarnya, angkringan juga dikenal dengan nama HIK atau Hidangan Istimewa Kampung.

Sebagian masyarakat menyebutnya sebagai warung wedangan karena banyak menyediakan minuman hangat.

Meski namanya berbeda, konsep dan suasana yang ditawarkan tetap memiliki kesamaan yang kuat.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Palu, Sejumlah Bangunan Dilaporkan Rusak

=====

Kini angkringan tidak hanya ditemukan di Jogja, Solo, dan Klaten saja.

Konsep kuliner rakyat ini telah menyebar ke berbagai kota besar di seluruh Indonesia.

Angkringan menjadi tempat berkumpul yang mampu menyatukan berbagai kalangan masyarakat.

Jejak sejarah angkringan di Desa Ngerangan kini diabadikan melalui sebuah monumen khusus.

Monumen tersebut menjadi pengingat bahwa angkringan lahir dari kreativitas masyarakat desa.

Dari sebuah pikulan sederhana, angkringan tumbuh menjadi ikon kuliner Nusantara yang dicintai banyak orang. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.