Jakarta

Warmindo, Warung Legendaris Mahasiswa: Dari Burjo Kuningan hingga Ikon Kuliner Jogja

Anggerhana Denni Rahmawati | 16 Juni 2026, 07:15 WIB
Warmindo, Warung Legendaris Mahasiswa: Dari Burjo Kuningan hingga Ikon Kuliner Jogja
Ilustrasi Warmindo.

AKURAT JAKARTA - Bagi banyak orang yang pernah merantau untuk kuliah di Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya, pasti tidak asing dengan Warmindo.

Warmindo adalah warung sederhana yang telah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa yang mencari makanan murah, cepat, dan mengenyangkan setiap hari.

Nama Warmindo merupakan singkatan dari Warung Makan Indomie.

Meski kini identik dengan aneka olahan mi instan, sejarah Warmindo ternyata berawal dari warung burjo (bubur kacang hijau) yang lebih dahulu populer di Yogyakarta.

Pada era 1980-an, banyak perantau asal Kuningan, Jawa Barat, datang ke Yogyakarta untuk membuka usaha kecil.

Mereka mendirikan warung yang menjual bubur kacang hijau, roti bakar, serta berbagai minuman hangat untuk masyarakat sekitar.

Warung-warung tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Burjo, singkatan dari bubur kacang hijau.

Lokasinya biasanya berada di dekat kampus, sekolah, dan kawasan kos mahasiswa yang ramai setiap hari.

Seiring berjalannya waktu, pola konsumsi pelanggan mulai berubah.

Mahasiswa lebih sering memesan mi instan dibandingkan bubur kacang hijau yang menjadi menu utama pada masa awal berdirinya warung.

Harga yang terjangkau membuat mi instan menjadi pilihan favorit.

Selain murah, makanan ini juga dapat disajikan dengan cepat sehingga cocok bagi mahasiswa yang memiliki aktivitas padat.

Para pemilik warung melihat perubahan tersebut sebagai peluang usaha yang menjanjikan.

Mereka kemudian menambah variasi menu mi instan dengan berbagai topping dan pilihan rasa yang semakin beragam.

Popularitas menu mi terus meningkat dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Sering Disebut Ikuti Tradisi Yahudi, Begini Asal-usul Sebenarnya Puasa Asyura dan Tasua

=====

Bahkan, di banyak warung, penjualan mi instan jauh melampaui penjualan bubur kacang hijau yang dahulu menjadi andalan utama.

Memasuki dekade 2010-an, banyak warung burjo mulai melakukan perubahan identitas.

Nama Warmindo semakin sering digunakan untuk menegaskan bahwa menu utama yang ditawarkan adalah mi instan.

Transformasi ini tidak hanya terjadi pada nama warung.

Tampilan tempat usaha juga mulai diperbaiki agar lebih nyaman, bersih, dan menarik bagi pelanggan dari berbagai kalangan.

Perkembangan Warmindo semakin pesat ketika produsen mi instan memberikan pembinaan kepada sejumlah warung.

Program tersebut membantu meningkatkan standar kebersihan dan pelayanan usaha.

Kini Warmindo dapat ditemukan di berbagai sudut Yogyakarta dan kota-kota sekitarnya.

Kehadirannya menjadi bagian penting dari budaya kuliner yang tumbuh bersama kehidupan mahasiswa.

Meski menu yang disajikan terbilang sederhana, Warmindo memiliki daya tarik yang kuat.

Suasana akrab, harga ramah di kantong, dan lokasi strategis menjadi alasan utamanya.

Bagi banyak alumni, Warmindo juga menyimpan kenangan masa kuliah yang sulit dilupakan.

Tempat ini sering menjadi lokasi berkumpul, berdiskusi, hingga mengerjakan tugas bersama teman.

Dari warung burjo milik perantau Kuningan hingga menjadi ikon kuliner mahasiswa, perjalanan Warmindo menunjukkan bagaimana sebuah usaha sederhana dapat berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

Hingga saat ini, Warmindo tetap bertahan sebagai salah satu simbol wisata kuliner khas Yogyakarta yang selalu dirindukan para perantau ketika kembali berkunjung ke Kota Pelajar. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.