Jakarta

Sering Disebut Ikuti Tradisi Yahudi, Begini Asal-usul Sebenarnya Puasa Asyura dan Tasua

Aisya Nur Aziza | 16 Juni 2026, 05:00 WIB
Sering Disebut Ikuti Tradisi Yahudi, Begini Asal-usul Sebenarnya Puasa Asyura dan Tasua
ilustrasi asal usul puasa asyura dan tasua yang sering disebut mirip ibadah kaum Yahudi

AKURAT JAKARTA — Bulan Muharam selalu punya tempat spesial bagi umat Muslim karena menjadi penanda datangnya tahun baru Hijriah.

Selain momen introspeksi diri di tanggal 1 Muharam, ada satu hari lagi di bulan ini yang paling menyita perhatian umat Islam, yaitu Hari Asyura yang jatuh setiap tanggal 10 Muharam.

Pada hari tersebut, umat Muslim disunnahkan untuk menjalankan ibadah puasa.

Namun, belakangan sempat muncul anggapan di masyarakat bahwa puasa Asyura ini sebenarnya bukan tradisi asli Islam, melainkan hasil adaptasi dari ibadah kaum Yahudi.

Benarkah demikian?

Baca Juga: Puasa Muharam Jadi yang Paling Utama Setelah Ramadan, Ini Niat Puasanya

Kesalahpahaman Soal Tradisi Yahudi

Anggapan bahwa puasa Asyura meniru umat Yahudi awalnya muncul dari sebuah hadis riwayat Ibnu Abbas.

Dalam hadis itu diceritakan kalau Nabi Muhammad SAW baru saja hijrah dan tiba di Madinah.

Di sana, beliau melihat orang-orang Yahudi setempat sedang berpuasa pada hari ke-10 Muharam (yang dalam kalender Yahudi bertepatan dengan Hari Suci Yom Kippur).

Saat ditanya, orang-orang Yahudi itu menjawab bahwa mereka berpuasa sebagai wujud syukur karena pada hari itulah Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan menenggelamkan Firaun beserta tentaranya.

Mendengar hal itu, Rasulullah kemudian bersabda bahwa umat Islam jauh lebih berhak dan lebih dekat dengan Nabi Musa dibanding mereka.

Alhasil, Nabi pun berpuasa dan mengajak umat Muslim untuk ikut mempuasakannya.

Bagi umat Yahudi sendiri, hari Yom Kippur diisi dengan berpuasa dan menahan diri dari berbagai aktivitas keduniawian sebagai bentuk penebusan dosa di tahun sebelumnya.

Baca Juga: Mengungkap Alasan Umar bin Khattab Memilih Muharam Sebagai Awal Tahun Baru Islam

Warisan Asli dari Ajaran Nabi Ibrahim

Meskipun sekilas mirip dengan ritual kaum Yahudi di Madinah, sejarah asli puasa Asyura ternyata punya jalur yang berbeda.

Berdasarkan hadis lain yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA, orang-orang Quraisy di Makkah ternyata sudah terbiasa menjalankan puasa Asyura ini sejak zaman jahiliyah, jauh sebelum Nabi hijrah ke Madinah.

Bahkan saat masih tinggal di Makkah, Nabi Muhammad SAW juga sudah rutin menjalankan puasa ini dan meminta umat Muslim untuk melakukannya.

Baru setelah turun perintah wajib puasa Ramadhan, status puasa Asyura ini diubah menjadi puasa sunnah (boleh dikerjakan, boleh tidak).

Menurut penjelasan para ulama, salah satunya Imam al-Qurtubi, tradisi puasa Asyura yang dilakukan oleh orang Quraisy murni merupakan sisa-sisa warisan ajaran Nabi Ibrahim AS yang masih terjaga, sama seperti ibadah haji.

Jadi, ketika Rasulullah berpuasa Asyura, beliau melakukannya atas petunjuk dan wahyu dari Allah, bukan karena ikut-ikutan agama lain.

Alasan Nabi bertanya kepada orang Yahudi di Madinah adalah untuk memastikan alasan versi mereka, sekaligus menegaskan bahwa umat Islam-lah yang paling berhak menghormati kemenangan Nabi Musa AS.

Munculnya Puasa Tasua Sebagai Pembeda

Agar ibadah umat Muslim tidak persis sama dengan ritual kaum Yahudi dan Nasrani yang juga mengagungkan tanggal 10 Muharam, Nabi Muhammad SAW kemudian memberikan sebuah anjuran baru.

Menjelang akhir hayatnya, Nabi berencana untuk menambah ibadah puasa sehari sebelum hari Asyura, yaitu pada tanggal 9 Muharam, yang kini kita kenal sebagai puasa Tasua.

Rasulullah sempat bersabda, "Tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari kesembilan."

Sayangnya, sebelum tahun berikutnya tiba, Rasulullah SAW sudah wafat terlebih dahulu.

Meski belum sempat direalisasikan secara langsung oleh Nabi, anjuran puasa Tasua ini tetap menjadi sunnah yang sangat penting bagi umat Muslim.

Melalui sejarah ini, puasa Asyura dan Tasua mengajarkan kita dua hal penting.

Pertama, puasa Asyura merupakan simbol perayaan atas kemenangan kebenaran melawan kezaliman (kisah Nabi Musa dan Firaun).

Kedua, puasa Tasua mengajarkan umat Islam pentingnya memiliki identitas dan prinsip sendiri dalam beribadah agar tidak asal meniru ritual agama lain. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.