Paracetamol dan Kesehatan Usus serta Otak: Aman Jika Tepat, Berisiko Jika Berlebihan

AKURAT JAKARTA - Paracetamol merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam.
Obat ini dikenal relatif aman jika dikonsumsi sesuai dosis yang dianjurkan.
Berbeda dengan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), paracetamol tidak banyak menimbulkan iritasi pada lambung.
Karena itu, obat ini sering menjadi pilihan utama bagi banyak orang.
Meski demikian, penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan paracetamol yang tidak tepat tetap memiliki sejumlah risiko.
Dampaknya tidak hanya pada hati, tetapi juga dapat memengaruhi usus dan otak.
Agar penggunaannya lebih bijak, berikut beberapa fakta penting yang perlu diketahui.
1. Paracetamol Tidak Membunuh Bakteri Usus Secara Langsung
Paracetamol bukan antibiotik sehingga tidak dirancang untuk membunuh bakteri yang hidup di saluran pencernaan manusia.
Karena itu, penggunaan dalam dosis normal umumnya tidak menyebabkan gangguan besar pada keseimbangan mikrobioma usus.
Namun, kondisi dapat berbeda jika obat digunakan dalam dosis tinggi atau dalam jangka waktu yang terlalu lama.
2. Dosis Tinggi Dapat Memberi Tekanan pada Bakteri Usus
Beberapa penelitian menemukan bahwa paparan paracetamol dosis tinggi dapat menyebabkan stres pada bakteri tertentu.
Salah satu bakteri yang diamati adalah Escherichia coli atau E. coli yang banyak ditemukan di dalam usus manusia.
Tekanan biologis tersebut diduga dapat memengaruhi perilaku bakteri dan meningkatkan risiko perubahan genetik tertentu.
=====
3. Penggunaan Kronis Berpotensi Menurunkan Keragaman Mikrobioma
Keragaman bakteri usus sangat penting untuk menjaga fungsi pencernaan dan sistem kekebalan tubuh.
Sejumlah studi menemukan bahwa penggunaan paracetamol dalam jangka panjang dapat menurunkan keragaman tersebut.
Semakin rendah keberagaman bakteri baik, semakin besar peluang munculnya gangguan keseimbangan mikrobioma usus.
4. Paracetamol Dosis Berlebih Dapat Mengurangi Glutathione
Glutathione merupakan antioksidan penting yang membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.
Saat paracetamol dikonsumsi berlebihan, cadangan glutathione dapat terkuras lebih cepat dari kondisi normal.
Akibatnya, perlindungan terhadap jaringan tubuh, termasuk saluran pencernaan, dapat ikut menurun.
5. Paracetamol Bekerja Langsung pada Sistem Saraf Pusat
Efek utama paracetamol dalam meredakan nyeri terjadi melalui mekanisme yang melibatkan sistem saraf pusat.
Karena bekerja pada otak, para peneliti juga menaruh perhatian pada kemungkinan dampaknya terhadap fungsi kognitif.
Pada penggunaan sesuai dosis, manfaat obat ini jauh lebih besar dibandingkan potensi risikonya.
6. Penggunaan Jangka Panjang Berpotensi Memengaruhi Memori
Penelitian pada hewan menunjukkan adanya perubahan pada protein yang berperan dalam fungsi pembelajaran.
Protein tersebut dikenal sebagai BDNF yang memiliki peran penting dalam kesehatan dan adaptasi sel saraf.
Penurunan aktivitas BDNF diduga dapat berhubungan dengan gangguan memori pada penggunaan berlebihan.
Baca Juga: Tidak Harus 3 Kali Sehari? Ini Fakta Ilmiah tentang Frekuensi Makan yang Perlu Diketahui
=====
7. Dapat Memengaruhi Respons terhadap Risiko Secara Sementara
Beberapa penelitian psikologi menemukan bahwa dosis tinggi paracetamol dapat mengubah respons emosional sementara.
Efek tersebut diduga membuat sebagian orang menjadi kurang sensitif dalam menilai risiko tertentu.
Meski demikian, temuan ini masih terus diteliti dan belum menjadi dasar untuk menghindari penggunaan normal.
8. Overdosis Dapat Menimbulkan Kerusakan yang Serius
Konsumsi paracetamol jauh di atas batas aman dapat menyebabkan kerusakan hati yang mengancam jiwa.
Selain itu, overdosis juga berpotensi memicu stres oksidatif pada jaringan saraf dan struktur otak tertentu.
Karena itu, penggunaan obat harus selalu mengikuti aturan yang tertera pada kemasan atau resep dokter.
9. Patuhi Dosis yang Dianjurkan
Untuk orang dewasa, dosis umum adalah 500 hingga 1.000 mg setiap 4 sampai 6 jam bila diperlukan.
Jumlah total konsumsi tidak boleh melebihi 4.000 mg atau delapan tablet 500 mg dalam waktu 24 jam.
Memberi jeda minimal empat jam antar dosis sangat penting untuk mengurangi risiko efek samping.
10. Dukung Kesehatan Usus dengan Pola Makan Sehat
Konsumsi makanan tinggi serat membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di dalam saluran pencernaan.
Sayuran seperti brokoli dan kubis juga mendukung pembentukan glutathione yang penting bagi tubuh.
Baca Juga: Americano untuk Diet: Benarkah Bisa Membantu Menurunkan Berat Badan?
=====
Jika demam atau nyeri tidak membaik setelah beberapa hari, segera konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026






