Benarkah Stres Saat Hamil Berdampak Permanen? Studi Ini Ungkap Fakta Mengejutkan

AKURAT JAKARTA - Stres selama kehamilan dikaitkan dengan risiko gangguan perkembangan pada janin.
Banyak orang khawatir dampaknya akan menetap hingga anak tumbuh besar.
Namun, penelitian terbaru menghadirkan sudut pandang yang lebih optimistis.
Dampak stres prenatal ternyata tidak selalu bersifat permanen dan masih bisa diminimalkan.
Kunci utamanya terletak pada perkembangan anak di tahun-tahun awal kehidupannya.
Hal ini membuka peluang baru dalam upaya menjaga kesehatan otak sejak dini.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Developmental Neuroscience ini dilakukan oleh tim dari City University of New York dan Queens College.
Studi tersebut menggunakan peristiwa Hurricane Sandy sebagai model alami untuk mengamati dampak stres pada ibu hamil.
Anak-anak yang diteliti merupakan mereka yang terpapar stres saat masih dalam kandungan, serta kelompok pembanding yang tidak mengalami kondisi serupa.
Baca Juga: Gandeng MITEC, NICE Indonesia Siap Tembus Pasar MICE Asia Tenggara?
Sejak usia 2 hingga 6 tahun, peneliti mengamati berbagai aspek perkembangan anak, seperti kemampuan komunikasi, kemandirian, interaksi sosial, hingga kemampuan merawat diri.
Kemudian saat berusia 8 tahun, sebagian anak menjalani pemindaian otak untuk melihat respons terhadap rangsangan emosional, termasuk ekspresi wajah.
Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang terpapar stres prenatal memang cenderung memiliki aktivitas otak yang sedikit lebih rendah pada area yang mengatur emosi.
Namun, temuan ini tidak berlaku mutlak.
Anak yang sejak kecil memiliki kemampuan adaptasi yang baik justru menunjukkan aktivitas otak yang hampir setara dengan anak yang tidak terpapar stres.
Dari sudut pandang neuroimaging, temuan ini menunjukkan kapasitas luar biasa otak untuk beradaptasi.
=====
Hal ini menandakan bahwa otak anak memiliki kemampuan kompensasi yang kuat terhadap pengalaman awal kehidupan.
Sebaliknya, anak dengan kemampuan adaptasi rendah menunjukkan penurunan aktivitas pada sistem limbik, bagian otak yang berperan dalam pengaturan emosi dan memori.
Peneliti Donato DeIngeniis menegaskan, “Yang terjadi pada tahun-tahun awal perkembangan sangat menentukan bagaimana otak merespons pengalaman di kemudian hari.”
Baca Juga: Bukan Sekadar Nongkrong, Ini Cara Baru Nikmati PIK 2 dengan Menyusuri Sungai Naik Katamaran
Temuan ini memperkuat pentingnya stimulasi sejak dini, seperti melatih kemandirian, kemampuan sosial, dan keterampilan sehari-hari.
Peneliti utama, Yoko Nomura, menekankan bahwa intervensi tidak hanya bertujuan mencegah gangguan perilaku, tetapi juga melindungi kesehatan otak jangka panjang.
Meski masih memerlukan penelitian lanjutan, hasil ini memberikan harapan baru.
Di tengah meningkatnya risiko stres akibat berbagai faktor, termasuk bencana, pendekatan berbasis perkembangan anak menjadi semakin relevan untuk masa depan generasi berikutnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026






