Jakarta

Benarkah Stres Saat Hamil Berdampak Permanen? Studi Ini Ungkap Fakta Mengejutkan

Anggerhana Denni Rahmawati | 4 Mei 2026, 10:30 WIB
Benarkah Stres Saat Hamil Berdampak Permanen? Studi Ini Ungkap Fakta Mengejutkan
Ilustrasi ibu hamil.

AKURAT JAKARTA - Stres selama kehamilan dikaitkan dengan risiko gangguan perkembangan pada janin.

Banyak orang khawatir dampaknya akan menetap hingga anak tumbuh besar.

Namun, penelitian terbaru menghadirkan sudut pandang yang lebih optimistis.

Dampak stres prenatal ternyata tidak selalu bersifat permanen dan masih bisa diminimalkan.

Kunci utamanya terletak pada perkembangan anak di tahun-tahun awal kehidupannya.

Hal ini membuka peluang baru dalam upaya menjaga kesehatan otak sejak dini.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Developmental Neuroscience ini dilakukan oleh tim dari City University of New York dan Queens College.

Studi tersebut menggunakan peristiwa Hurricane Sandy sebagai model alami untuk mengamati dampak stres pada ibu hamil.

Anak-anak yang diteliti merupakan mereka yang terpapar stres saat masih dalam kandungan, serta kelompok pembanding yang tidak mengalami kondisi serupa.

Baca Juga: Gandeng MITEC, NICE Indonesia Siap Tembus Pasar MICE Asia Tenggara?

Sejak usia 2 hingga 6 tahun, peneliti mengamati berbagai aspek perkembangan anak, seperti kemampuan komunikasi, kemandirian, interaksi sosial, hingga kemampuan merawat diri.

Kemudian saat berusia 8 tahun, sebagian anak menjalani pemindaian otak untuk melihat respons terhadap rangsangan emosional, termasuk ekspresi wajah.

Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang terpapar stres prenatal memang cenderung memiliki aktivitas otak yang sedikit lebih rendah pada area yang mengatur emosi.

Namun, temuan ini tidak berlaku mutlak.

Anak yang sejak kecil memiliki kemampuan adaptasi yang baik justru menunjukkan aktivitas otak yang hampir setara dengan anak yang tidak terpapar stres.

Dari sudut pandang neuroimaging, temuan ini menunjukkan kapasitas luar biasa otak untuk beradaptasi.

=====

Hal ini menandakan bahwa otak anak memiliki kemampuan kompensasi yang kuat terhadap pengalaman awal kehidupan.

Sebaliknya, anak dengan kemampuan adaptasi rendah menunjukkan penurunan aktivitas pada sistem limbik, bagian otak yang berperan dalam pengaturan emosi dan memori.

Peneliti Donato DeIngeniis menegaskan, “Yang terjadi pada tahun-tahun awal perkembangan sangat menentukan bagaimana otak merespons pengalaman di kemudian hari.”

Baca Juga: Bukan Sekadar Nongkrong, Ini Cara Baru Nikmati PIK 2 dengan Menyusuri Sungai Naik Katamaran

Temuan ini memperkuat pentingnya stimulasi sejak dini, seperti melatih kemandirian, kemampuan sosial, dan keterampilan sehari-hari.

Peneliti utama, Yoko Nomura, menekankan bahwa intervensi tidak hanya bertujuan mencegah gangguan perilaku, tetapi juga melindungi kesehatan otak jangka panjang.

Meski masih memerlukan penelitian lanjutan, hasil ini memberikan harapan baru.

Di tengah meningkatnya risiko stres akibat berbagai faktor, termasuk bencana, pendekatan berbasis perkembangan anak menjadi semakin relevan untuk masa depan generasi berikutnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.