Jakarta

Promosi Film Horor Aku Harus Mati Menuai Polemik, Produser Minta Maaf dan Tarik Billboard

Yusuf Doank | 8 April 2026, 19:00 WIB
Promosi Film Horor Aku Harus Mati Menuai Polemik, Produser Minta Maaf dan Tarik Billboard
Promosi Film Horor Aku Harus Mati Menuai Polemik, Produser Minta Maaf dan Tarik Billboard

AKURAT JAKARTA – Tim promosi film horor Aku Harus Mati akhirnya menyampaikan permohonan maaf terbuka menyusul gelombang kritik masyarakat terkait materi promosi yang dinilai meresahkan.

Perwakilan produser, Iwet Ramadhan, mengakui bahwa strategi pengenalan film tersebut telah menimbulkan ketidaknyamanan di ruang publik.

Sebagai langkah responsif, pihak rumah produksi (PH) mengonfirmasi telah menurunkan seluruh materi promosi berupa baliho dan billboard yang sebelumnya tersebar di 36 titik kota besar di Indonesia.

Baca Juga: Geram Iklan Film Horor Aku Harus Mati Dipasang di Ruang Publik, Gubernur Pramono: Tidak Boleh Terulang Lagi!

Proses pembersihan materi promosi tersebut dilaporkan telah berjalan sejak 4 April lalu.

"Kami sangat menyesalkan ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Pihak PH memahami berbagai respons masyarakat dan kami telah melakukan penyesuaian dengan menurunkan materi billboard," kata Iwet dalam keterangannya, Selasa (7/4).

Iwet menjelaskan bahwa keterlambatan pemberian klarifikasi disebabkan oleh fokus perusahaan untuk mengeksekusi penarikan materi di lapangan terlebih dahulu.

Dia menyebut proses penurunan tidak bisa dilakukan serentak karena harus berkoordinasi dengan pihak perizinan di tiap wilayah.

Pihak produksi menyatakan apresiasi atas kritik tajam yang dilayangkan publik dan menjadikan insiden ini sebagai evaluasi serius dalam menyusun strategi pemasaran karya layar lebar ke depannya.

"Ini jadi pelajaran berharga bagi kami. Terima kasih atas masukan dan perhatian yang diberikan," pungkasnya.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y