Daging Olahan dan Risiko Kanker: Kenali Bahayanya, Ubah Pola Makan Keluarga

AKURAT JAKARTA - Daging olahan seperti sosis, bacon, nugget, dan ham sering menjadi pilihan cepat di meja makan keluarga modern yang serba sibuk.
Rasanya gurih, penyajiannya praktis, dan mudah ditemukan di berbagai toko maupun supermarket.
Namun, di balik kelezatannya, ada risiko kesehatan jangka panjang yang dapat menimbulkan kanker di dalam tubuh.
Baca Juga: Rahasia Puasa Tanpa Mulut Bau, Simak Tips dari Dokter Gigi
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah lama mengingatkan bahaya konsumsi daging olahan berlebihan.
Melalui badan riset kankernya, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker atau IARC, daging olahan dikaji secara ilmiah.
Hasilnya menunjukkan bahwa daging olahan diklasifikasikan sebagai karsinogenik bagi manusia.
Baca Juga: Rahasia Pencernaan Lancar Saat Puasa, Ternyata Ini Kuncinya
Artinya, terdapat bukti ilmiah yang kuat bahwa konsumsi rutin dapat memicu kanker.
Daging olahan masuk dalam Grup 1, yaitu kategori dengan bukti paling kuat sebagai penyebab kanker.
Kelompok ini juga mencakup zat seperti asap tembakau dan asbes dalam kategori bukti ilmiah.
Baca Juga: Tetap Segar Tanpa Kopi, Coba 3 Pilihan Minuman Ini Saat Sahur
Namun, klasifikasi ini menunjukkan kekuatan bukti, bukan tingkat bahaya yang sama.
Jenis kanker yang paling sering dikaitkan adalah kanker usus besar dan dubur atau kolorektal.
Para ahli menyimpulkan bahwa konsumsi 50 gram daging olahan per hari meningkatkan risiko sebesar 18 persen.
Baca Juga: Dari yang Mahal hingga Ekonomis, Ini 6 Kurma Favorit Orang Indonesia
Jumlah itu setara dengan satu porsi kecil sosis atau beberapa iris ham dalam satu kali makan.
Daging olahan adalah daging yang diawetkan melalui pengasinan, pengasapan, atau fermentasi.
Contohnya termasuk sosis, salami, hot dog, kornet, dan berbagai daging kalengan.
Baca Juga: Tinggal di Jakarta? Ini Tantangan Saat Membangun atau Renovasi Rumah, Temukan Solusinya di Sini
Proses pengolahan tersebut dapat menghasilkan senyawa yang berpotensi memicu kanker.
Bukan berarti masyarakat harus panik atau langsung menghindari semuanya.
Yang terpenting adalah membatasi konsumsi dan tidak menjadikannya menu harian.
Baca Juga: Tak Hanya Ibadah, Ternyata Tidur Saat Puasa Punya Manfaat Luar Biasa bagi Kesehatan
Kesehatan usus sangat dipengaruhi oleh pola makan jangka panjang yang seimbang.
Perbanyak konsumsi sayur, buah, biji-bijian utuh, dan sumber protein segar seperti ikan.
Gantilah camilan olahan dengan kacang panggang tanpa garam atau buah potong segar.
Biasakan membaca label kemasan dan perhatikan kandungan garam serta pengawetnya.
Memasak sendiri di rumah membantu mengontrol bahan dan cara pengolahan makanan.
Pilih metode memasak yang lebih sehat seperti merebus, mengukus, atau memanggang ringan.
Baca Juga: 6 Makanan yang Bisa Menurunkan Stres dan Bikin Lebih Tenang, Sudah Coba?
Aktivitas fisik teratur juga membantu menurunkan risiko berbagai penyakit kronis.
Kesadaran kecil yang dilakukan setiap hari akan berdampak besar pada masa depan kesehatan.
Keluarga yang sehat dimulai dari pilihan makanan yang lebih bijak dan seimbang.
Baca Juga: Relevansi Tes Genomik Meningkat, Layanan Medis Personalisasi Jadi Kebutuhan Masa Depan
Mengurangi daging olahan adalah langkah sederhana menuju hidup yang lebih panjang dan berkualitas. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









