Jakarta

Stunting: Ancaman Tumbuh Kembang Anak dan Langkah Pencegahan yang Wajib Diketahui Orang Tua

Zainal Abidin | 21 Januari 2026, 07:15 WIB
Stunting: Ancaman Tumbuh Kembang Anak dan Langkah Pencegahan yang Wajib Diketahui Orang Tua

AKURAT JAKARTA - Stunting masih menjadi persoalan kesehatan serius karena berdampak langsung pada tumbuh kembang anak.

Kondisi ini ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usia akibat kekurangan gizi kronis jangka panjang.

Stunting umumnya terjadi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun yang dikenal sebagai seribu hari pertama kehidupan.

Baca Juga: Pantai Tanjung Gundul Banggai, Pesona Sunyi Sulawesi yang Eksotik

Pada periode ini, tubuh dan otak anak berkembang sangat cepat sehingga membutuhkan asupan gizi yang cukup dan berkelanjutan.

Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah dan konsentrasi yang tidak optimal.

Selain itu, daya tahan tubuh anak stunting cenderung lebih lemah sehingga mudah terserang penyakit infeksi berulang.

Baca Juga: Durian, Buah Tropis Kontroversial yang Menyimpan Beragam Manfaat Kesehatan

Dalam jangka panjang, stunting dapat menurunkan produktivitas kerja dan meningkatkan risiko penyakit kronis saat dewasa.

Berbagai faktor memicu stunting, mulai dari asupan gizi kurang, infeksi berulang, hingga pola asuh yang tidak tepat.

Masalah sanitasi dan keterbatasan akses air bersih juga berperan besar dalam meningkatkan risiko stunting pada anak.

Baca Juga: Jungan Lupa! Westlife A Gala Evening in Jakarta dan Surabaya pada Awal Februari 2026, Penjualan Tiket Dimulai Rabu Besok, Segini Harganya

Oleh karena itu, pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan sejak dini.

1. Menjaga Gizi Ibu Sejak Masa Kehamilan

Ibu hamil perlu mengonsumsi makanan bergizi seimbang agar janin mendapatkan nutrisi penting untuk tumbuh optimal.

Baca Juga: Wibu Merapat ke Mall of Indonesia! Ada JKTANIME FEST 2026, Berlangsung hingga 25 Januari, Event Anime Terbesar di Jakarta

Asupan protein, zat besi, asam folat, dan kalsium sangat penting untuk mencegah gangguan pertumbuhan sejak dalam kandungan.

2. Rutin Memeriksakan Kehamilan

Pemeriksaan kehamilan secara rutin membantu mendeteksi risiko kekurangan gizi dan masalah kesehatan sedini mungkin.

Baca Juga: Bukan Daki, Leher Menghitam Bisa Jadi Alarm Dini Diabetes yang Sering Tak Disadari

Dengan pemantauan yang baik, tenaga kesehatan dapat memberikan intervensi tepat untuk menjaga kesehatan ibu dan janin.

3. Memberikan ASI Eksklusif Selama Enam Bulan

Air Susu Ibu (ASI) eksklusif memenuhi seluruh kebutuhan gizi bayi dan melindungi tubuh dari infeksi di awal kehidupan.

Baca Juga: 12 Tanaman Obat Alami Penjaga Kesehatan, Wajib Ada di Rumah!

Kandungan antibodi dalam ASI membantu memperkuat sistem imun dan mendukung tumbuh kembang bayi secara optimal.

4. Memberikan MPASI Bergizi Seimbang

Setelah usia enam bulan, bayi perlu Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang mengandung karbohidrat, protein hewani, lemak, vitamin, dan mineral.

Baca Juga: Berapa Liter Konsumsi Air Putih yang Dibutuhkan Tubuh Dalam Satu Hari? Ini Dampaknya Jika Kurang

MPASI yang tepat membantu memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi yang terus meningkat seiring pertumbuhan anak.

5. Menjaga Kebersihan Lingkungan

Lingkungan yang bersih mencegah infeksi seperti diare yang dapat menghambat penyerapan nutrisi dalam tubuh anak.

Baca Juga: Minuman Berenergi Mempunyai Dampak Buruk Bagi Kesehatan, Benarkah?

Akses air bersih dan sanitasi layak menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan anak yang sehat.

6. Memantau Pertumbuhan Anak Secara Rutin

Pemantauan tinggi dan berat badan anak melalui posyandu membantu mendeteksi gangguan pertumbuhan sejak dini.

Baca Juga: Jangan Berlebihan! Ini Batas Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak Demi Tubuh Lebih Sehat

Dengan langkah pencegahan yang tepat, stunting dapat dicegah dan anak Indonesia dapat tumbuh sehat serta berdaya saing. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.