Jakarta

Marak Kasus Superflu, IDAI Ingatkan Balita Jadi Kelompok Paling Berisiko Tertular, Kenali Gejalanya

Titania Isnaenin | 2 Januari 2026, 22:07 WIB
Marak Kasus Superflu, IDAI Ingatkan Balita Jadi Kelompok Paling Berisiko Tertular, Kenali Gejalanya

 


AKURAT JAKARTA – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lonjakan kasus influenza.

Utamanya varian H3N2 yang belakangan viral dengan sebutan “superflu”.

Meski gejalanya sekilas mirip flu biasa, varian ini dikenal memiliki daya tular yang sangat agresif.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), menjelaskan bahwa istilah superflu muncul karena kecepatan infeksinya yang luar biasa, terutama di wilayah dengan suhu dingin.

“Masalahnya, satu orang bisa menulari 2 hingga 3 orang di sekitarnya. Bahkan ada perkiraan varian ini bisa menulari lebih banyak lagi, meski penelitian lebih lanjut masih terus dilakukan,” ujar Nastiti dalam diskusi daring di Jakarta, Senin (5/1).

Sebelumnya, varian H3N2 subclade K ini menjadi sorotan dunia setelah memicu lonjakan kasus di Amerika Serikat dan belahan bumi utara selama musim dingin.

Tercatat, sekitar 200 kasus telah terdeteksi melalui metode genome sequencing.

Nastiti memaparkan bahwa H3N2 memiliki tingkat evolusi yang tinggi, mudah bermutasi, dan berpotensi menimbulkan epidemi atau infeksi massal.

Di negara dengan musim dingin yang ekstrem, lonjakan kasus ini sering kali memicu tekanan pada sistem kesehatan, mulai dari antrean rumah sakit hingga kelangkaan alat kesehatan dan obat-obatan.

Salah satu tantangan terbesar dari superflu ini adalah kemiripan gejalanya dengan Influenza A pada umumnya, sehingga sulit dideteksi hanya melalui pemeriksaan fisik oleh dokter.

adapun gejala Superflu yang mungkin muncul meliputi:

1. Demam tinggi dan menggigil.

2 Sakit kepala hebat.

3. Nyeri tenggorokan dan pilek.

“Dokter bahkan tidak bisa membedakan secara kasat mata apakah ini influenza biasa atau varian subclade K. Secara klinis hanya bisa diduga mirip influenza,” jelasnya.

Meskipun hingga saat ini belum terbukti bahwa subclade K memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dari varian flu lainnya.

Infeksinya tetap mengancam kelompok rentan dengan kelompok yang paling berisiko mengalami keparahan meliputi:

1. Balita dan lansia.

2. Pasien dengan penyakit kronis atau komorbid.

3. Anak dengan penyakit jantung bawaan.

4. Penderita kanker dan pasien yang mengonsumsi obat penekan imun.

Vaksinasi Jadi Benteng Utama

Untuk saat ini, langkah mitigasi yang dilakukan IDAI adalah dengan menekankan bahwa imunisasi influenza masih menjadi cara terbaik untuk memutus rantai penularan sekaligus menekan risiko keparahan.

“Laporan menunjukkan bahwa kerentanan meningkat pada mereka yang tidak mendapatkan imunisasi. Vaksinasi influenza terbukti berpengaruh baik dalam menurunkan risiko komplikasi,” pungkas Nastiti. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.