Marak Kasus Superflu, IDAI Ingatkan Balita Jadi Kelompok Paling Berisiko Tertular, Kenali Gejalanya

AKURAT JAKARTA – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lonjakan kasus influenza.
Utamanya varian H3N2 yang belakangan viral dengan sebutan “superflu”.
Meski gejalanya sekilas mirip flu biasa, varian ini dikenal memiliki daya tular yang sangat agresif.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), menjelaskan bahwa istilah superflu muncul karena kecepatan infeksinya yang luar biasa, terutama di wilayah dengan suhu dingin.
“Masalahnya, satu orang bisa menulari 2 hingga 3 orang di sekitarnya. Bahkan ada perkiraan varian ini bisa menulari lebih banyak lagi, meski penelitian lebih lanjut masih terus dilakukan,” ujar Nastiti dalam diskusi daring di Jakarta, Senin (5/1).
Sebelumnya, varian H3N2 subclade K ini menjadi sorotan dunia setelah memicu lonjakan kasus di Amerika Serikat dan belahan bumi utara selama musim dingin.
Tercatat, sekitar 200 kasus telah terdeteksi melalui metode genome sequencing.
Nastiti memaparkan bahwa H3N2 memiliki tingkat evolusi yang tinggi, mudah bermutasi, dan berpotensi menimbulkan epidemi atau infeksi massal.
Di negara dengan musim dingin yang ekstrem, lonjakan kasus ini sering kali memicu tekanan pada sistem kesehatan, mulai dari antrean rumah sakit hingga kelangkaan alat kesehatan dan obat-obatan.
Salah satu tantangan terbesar dari superflu ini adalah kemiripan gejalanya dengan Influenza A pada umumnya, sehingga sulit dideteksi hanya melalui pemeriksaan fisik oleh dokter.
adapun gejala Superflu yang mungkin muncul meliputi:
1. Demam tinggi dan menggigil.
2 Sakit kepala hebat.
3. Nyeri tenggorokan dan pilek.
“Dokter bahkan tidak bisa membedakan secara kasat mata apakah ini influenza biasa atau varian subclade K. Secara klinis hanya bisa diduga mirip influenza,” jelasnya.
Meskipun hingga saat ini belum terbukti bahwa subclade K memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dari varian flu lainnya.
Infeksinya tetap mengancam kelompok rentan dengan kelompok yang paling berisiko mengalami keparahan meliputi:
1. Balita dan lansia.
2. Pasien dengan penyakit kronis atau komorbid.
3. Anak dengan penyakit jantung bawaan.
4. Penderita kanker dan pasien yang mengonsumsi obat penekan imun.
Vaksinasi Jadi Benteng Utama
Untuk saat ini, langkah mitigasi yang dilakukan IDAI adalah dengan menekankan bahwa imunisasi influenza masih menjadi cara terbaik untuk memutus rantai penularan sekaligus menekan risiko keparahan.
“Laporan menunjukkan bahwa kerentanan meningkat pada mereka yang tidak mendapatkan imunisasi. Vaksinasi influenza terbukti berpengaruh baik dalam menurunkan risiko komplikasi,” pungkas Nastiti. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026





