Bahaya Emosional Mengintai di Balik Kebiasaan Curhat ke AI

AKURAT JAKARTA - Curhat ke AI kini makin populer di era digital, terutama karena dianggap cepat, mudah, dan bebas penilaian.
Namun, psikolog klinis Nena Mawar Sari mengingatkan bahwa curhat ke AI terlalu sering bisa membawa risiko psikologis yang serius.
Menurutnya, curhat dengan AI tidak memiliki sisi kemanusiaan, karena respons yang muncul hanyalah hasil pantulan dari kode dan data yang kamu berikan.
Baca Juga: 4 Cara Mudah Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital, Nomor 3 Sering Diabaikan!
“Curhat dengan AI itu kan gambaran atau pantulan dari kode atau clue yang kita berikan. Tentu hasil atau feedback yang diberikan tidak ada unsur-unsur humanisnya,” kata Nena, Psikolog Klinis RSUD Wangaya, Kota Denpasar, dikutip dari ANTARA, Jumat (24/10).
Ia menjelaskan, seseorang yang sedang curhat umumnya membutuhkan umpan balik emosional yang konsisten dan hangat.
Ketika hal itu digantikan dengan respons datar dari AI, pengguna bisa kehilangan arah emosional dan salah mengartikan hasil percakapan.
Baca Juga: 7 Keajaiban Minyak Kemiri, Si Kecil yang Kaya Manfaat Besar yang Perlu Kamu Tahu
“AI itu sifatnya memberikan pantulan dari apa yang kita butuhkan dan memvalidasi perasaan kita, takutnya ketika momen orang sedang depresi atau impulsif itu dijadikan acuan realistis, dikhawatirkan salah interpretasi,” jelasnya.
Nena menambahkan, tanda-tanda seseorang sudah terlalu bergantung secara emosional pada AI dapat terlihat dari perilaku antisosial, seperti menutup diri dari orang lain atau terlalu sering berinteraksi dengan ponsel.
“Sering mengecek handphone, hal yang sedetail-detailnya pun dia tanyakan pada AI, kemudian dia juga menutup diri dengan orang lain,” ujarnya.
Baca Juga: 5 Akibat Kurang Tidur yang Diam-Diam Menggerogoti Kesehatanmu
Sebagai gantinya, Nena menyarankan agar kamu mencari dukungan nyata dari psikolog, psikiater, atau orang terdekat.
Bila sulit menemukan teman untuk berbagi, kamu bisa mencoba journaling untuk menyalurkan perasaan dengan cara yang lebih sehat dan manusiawi.
Dengan begitu, AI bisa tetap menjadi alat bantu yang bermanfaat, tanpa menggantikan kehangatan interaksi manusia yang sesungguhnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026





