Lapar Bukan Alasan Utama Jajan, Ini 5 Fakta Menarik di Baliknya

AKURAT JAKARTA - Apakah kamu pernah bertanya-tanya mengapa dorongan untuk membeli camilan muncul meskipun perut sudah penuh?
Ternyata, kebiasaan jajan bukan sekadar soal lapar.
Ada berbagai alasan menarik, bahkan ilmiah, yang menjelaskan kenapa aktivitas ini begitu digemari.
Baca Juga: Pantai hingga Tebing, Inilah 5 Tempat Berburu Sunrise Paling Keren di Jabodetabek
1. Camilan Sebagai Pengusir Stres
Salah satu penyebab utama adalah respons tubuh terhadap stres.
Dr. Cyriac Abby Philips, seorang hepatolog, menyebut makanan manis seperti cokelat dapat merangsang pelepasan dopamin, hormon yang memicu rasa senang.
Baca Juga: Perjalanan Nyaman, Harga Irit: Yuk Coba Voucher PulangPergiWithDAMRI!
Jadi, tak heran jika saat hati sedang gundah, gorengan atau boba jadi “obat” yang dicari.
2. Dorongan dari Media Sosial dan Tren Kuliner
Dalam era digital, satu video makanan viral di TikTok bisa langsung memicu demam kuliner.
Baca Juga: China Resmi Bebaskan Visa Transit untuk Turis Indonesia, Ini Daftar Syaratnya!
Visual yang menggugah selera dan ajakan dari influencer seringkali mendorong seseorang untuk ikut mencicipi, bahkan tanpa rasa lapar.
3. Bosan dengan Menu Rumahan
Makan nasi dan lauk yang sama setiap hari bisa memicu rasa jenuh.
Baca Juga: Liburan Jadi Bumerang, Waspadai 5 Kebiasaan yang Bikin Backpacker Bangkrut
Jajan memberikan pengalaman rasa baru, baik dari segi tekstur maupun aroma.
Tak perlu repot masak, tinggal pilih: dari seblak pedas, pempek gurih, hingga tteokbokki ala Korea.
4. Harga Terjangkau dan Kepraktisan
Banyak jajanan dibanderol murah dan mudah didapat.
Hal ini membuatnya menjadi pilihan favorit bagi pelajar dan pekerja kantoran yang ingin mengganjal perut tanpa merogoh kocek dalam-dalam.
5. Jadi Sarana Sosial dan Bagian Gaya Hidup
Bagi sebagian orang, jajan adalah aktivitas sosial.
Nongkrong sambil berbagi camilan bersama teman atau rekan kerja menciptakan momen kebersamaan yang menyenangkan.
Inilah yang secara tak sadar menjadikan jajan sebagai gaya hidup modern.
Baca Juga: Ternyata Buah Dicampur Susu Bisa Cegah Penyakit Kronis, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Kebiasaan jajan memang tak bisa dilepaskan begitu saja dari kehidupan masyarakat saat ini.
Namun, penting juga untuk tetap memperhatikan frekuensi dan pilihan jajanan agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







