WFH ASN DKI Tiap Jumat: Komisi A DPRD Ingatkan Disiplin dan Pelayanan Publik Tak Boleh Kendor

AKURAT JAKARTA – Penerapan kebijakan work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dinilai sebagai langkah strategis untuk mendukung efisiensi energi dan mengurangi mobilitas harian.
Namun, DPRD DKI Jakarta mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak berdampak pada menurunnya disiplin dan kinerja aparatur.
Sekretaris Komisi A DPRD DKI Jakarta, Mujiyono, menegaskan fleksibilitas pola kerja harus tetap diimbangi dengan pengawasan yang ketat serta indikator kinerja yang jelas agar pelayanan publik tetap optimal.
"Fleksibilitas kerja bukan celah untuk menurunkan disiplin ASN. Kinerja dan pelayanan publik harus tetap menjadi prioritas," kata Mujiyono dalam keterangannya, Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, kebijakan WFH yang diterapkan Pemprov DKI Jakarta relevan dengan kondisi Jakarta yang memiliki tingkat mobilitas tinggi.
Selain berpotensi menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), kebijakan ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi kepadatan lalu lintas.
Meski begitu, Mujiyono menilai penerapan WFH masih berada pada tahap awal sehingga berbagai dinamika di lapangan masih mungkin terjadi.
Masa penyesuaian tersebut dinilai wajar, namun tidak boleh berlangsung terlalu lama karena berpotensi menimbulkan persepsi kelonggaran disiplin.
"Kalau tidak segera dibenahi, bisa menimbulkan kesan kelonggaran disiplin dan berdampak pada efektivitas kebijakan," ujarnya.
Baca Juga: Zaki Iskandar Puji Transformasi Timnas Indonesia di Bawah Kendali John Herdman
Dalam menjalankan fungsi pengawasan, Komisi A DPRD DKI Jakarta akan berkoordinasi dengan sejumlah mitra kerja, di antaranya Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Biro Organisasi dan Reformasi Birokrasi (ORB), Biro Pemerintahan, serta Inspektorat untuk memastikan kebijakan berjalan sesuai tujuan.
Ia menilai persoalan utama dalam penerapan WFH bukan terletak pada lokasi kerja ASN, melainkan pada sistem pengawasan serta pengukuran kinerja yang perlu diperkuat.
Karena itu, politikus Demokrat itu mendorong penerapan sistem evaluasi berbasis output yang terukur dan akuntabel.
"Tanpa penguatan pengawasan, fleksibilitas kerja berisiko menurunkan kinerja ASN dan berdampak pada kualitas pelayanan publik," tegasnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Mampukah The Yellow Canaries Raih Kemenangan di Kandang Sendiri?
- 2Prediksi Skor Levski Sofia vs AEK Athens di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Momentum Tuan Rumah Jadi Ancaman Juara Liga Yunani
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Tuan Rumah Punya Rekor Impresif
- 7Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 8Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!



