Sejarah Cina Benteng di Tangerang, Perjalanan Identitas yang Tak Lekang Oleh Zaman

AKURAT JAKARTA - Di tengah perubahan zaman yang begitu dramatis, keberadaan komunitas Tionghoa di Tangerang masih eksis dengan identitas unik mereka yang disebut "Cina Benteng".
Merujuk pada benteng Belanda yang menduduki daerah ini pada tahun 1684, istilah ini menjadi jendela sejarah yang mengungkapkan transformasi signifikan dalam penampilan fisik dan budaya mereka.
Adaptasi dengan lingkungan sekitar tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga memberikan sentuhan keunikan tersendiri bagi "Cina Benteng".
Identitas mereka merefleksikan hubungan dengan sejarah benteng Belanda yang masih memengaruhi keberagaman di komunitas ini.
Baca Juga: Kementan Tingkatkan Produktivitas dengan Dukung Penyuluh Pertanian di Lokasi Gernas Penanganan Dampak El Nino
Pertanyaan mendasar muncul: sejauh mana sejarah benteng Belanda memengaruhi identitas dan keberagaman di antara "Cina Benteng"?
Tradisi Tahun Baru Imlek dan peran kota Tangerang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan dan pemeliharaan warisan mereka.
Menelusuri sejarah panjang, kita dibawa pada Benteng Makasar, yang dibangun pada abad ke-16 sebagai pos pengamanan terhadap serangan Kesultanan Banten.
Izin dari VOC membuka lahan pertanian di sekitar Sungai Cisadane dimanfaatkan bijak oleh warga "Cina Benteng," yang melekatkan sebutan tersebut pada mereka.
Sejarah benteng Belanda bukan hanya warisan fisik; ia membentuk identitas dan keberagaman unik bagi "Cina Benteng" di Tangerang.
Baca Juga: Mau Pesta Malam Tahun Baru Bareng Happy Asmara? Gratis! Datang Aja ke Penutupan Fesmikraf 2023 di Alun-alun Wonogiri
Menurut kitab sejarah Sunda, keberadaan komunitas Tionghoa di Tangerang dan Batavia mencuat sejak 1407.
Rombongan pertama yang mendarat di muara Sungai Cisadane membawa catatan sejarah yang mengubah wajah daerah ini, sekarang dikenal sebagai Teluk Naga.
Namun, perjalanan identitas tidak selalu lancar. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, "Cina Benteng" bersitegang dengan penduduk pribumi.
Kerusuhan pada 23 Juni 1946 menyisakan luka, dengan rumah-rumah etnis Tionghoa di Tangerang diobrak-abrik. Hubungan yang merosot akhirnya reda, namun tidak tanpa konsekuensi.
Kini, "Cina Benteng" dihadapkan pada ancaman kehilangan rumah mereka akibat ambisi pemerintah kota.
Meskipun terletak di DAS Ciliwung dan melanggar peraturan daerah, kampung ini telah ada sebelum peraturan itu dibuat.
Perjalanan "Cina Benteng" terus melukiskan perubahan, ketahanan, dan usaha mempertahankan identitas di tengah arus waktu perkembangan zaman. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Mampukah The Yellow Canaries Raih Kemenangan di Kandang Sendiri?
- 2Prediksi Skor Levski Sofia vs AEK Athens di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Momentum Tuan Rumah Jadi Ancaman Juara Liga Yunani
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Tuan Rumah Punya Rekor Impresif
- 7Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 8Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya







