Jakarta

CREA Nilai WFH Tak Efektif Tekan Polusi Udara di Ibu Kota

Mohammad Tegar Tsabitul Azmi | 26 Agustus 2023, 13:52 WIB
CREA Nilai WFH Tak Efektif Tekan Polusi Udara di Ibu Kota

AKURAT.CO - Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menilai bahwa penerapan work from home (WFH) untuk mengatasi polusi udara tidak efektif.

Menurut CREA, kebijakan tersebut menyasar ke individu, bukan fokus dalam mengatasi sumber-sumber utama polusi udara di Jakarta.

Hasil analisis CREA menyebut bahwa wilayah DKI Jakarta dilanda polusi udara tinggi dan terus-menerus, dengan rata-rata tingkat PM2.5 melebihi pedoman WHO yaitu sekitar 7 kali lipat.

Baca Juga: Bukan Sanksi, Ibu Ketua Minta Tilang Emisi di Jakarta Utamakan Edukasi

Lead Analyst CREA, Lauri Myllyvirta menilai bahwa berdasarkan analisis pihaknya, tingkat polusi sangat berkorelasi dengan model semburan emisi buang berbagai PLTU batu bara yang mencapai Jakarta.

Selain itu, polusi udara di Jakarta merupakan campuran dari emisi lokal yang terjadi di dalam kota, serta polutan jarak jauh yang terbawa angin dari provinsi-provinsi terdekat.

Maka dari itu, diperlukan rencana aksi regional untuk mengatasi semua sektor utama penyumbang emisi.

Baca Juga: Sejarah Jakarta: Asal Usul Cawang dana Nama Seorang Letnan Melayu

“Kami (CREA) telah mengidentifikasi selusin pembangkit listrik tenaga batubara di sekitar Jakarta, yang berlokasi di Banten dan Jawa Barat. Analisis kami terhadap episode polusi udara di Jakarta baru-baru ini menunjukkan bahwa tingkat polusi meningkat ketika angin bertiup dari lokasi yang memiliki pembangkit listrik tenaga batubara," kata Lauri dikutip, Sabtu (26/08).

"Hal ini menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga batubara adalah bagian dari masalah dan membantu memvalidasi hasil pemodelan kami yang menemukan bahwa pembangkit listrik tenaga batubara adalah penyebab untuk sekitar 2.000 kematian akibat polusi udara setiap tahunnya di Jakarta saja," lanjutnya.

CREA pun menilai, langkah-langkah terkait penanganan pandemi COVID-19 dan pengurangan volume lalu lintas lainnya tidak menghasilkan penurunan tingkat PM2.5 secara nyata.

Baca Juga: 2 Kali Sehari Jalanan Jakarta Disemprot Air, Harapannya Polusi Udara Minggat

Hal ini menunjukkan bahwa pengurangan perjalanan dan mengemudi secara lokal tidak akan menyelesaikan masalah.

“Akar permasalahan polusi udara di Jakarta tidak bisa direduksi hanya pada satu sumber saja, seperti perjalanan pulang-pergi. Misalnya, tidak ada penurunan polusi yang terukur selama WFH," kata Analyst CREA, Katherine Hasan.

"Polusi udara di Jakarta berasal dari berbagai sumber dan harus ditangani lintas provinsi. Mulai dari dengan penegakan standar emisi untuk pembangkit listrik tenaga batubara, industri dan transportasi, dan pada akhirnya koordinasi antar provinsi dan nasional untuk mengatasi semua pencemar utama,” lanjutnya.

Baca Juga: Bukan Sanksi, Ibu Ketua Minta Tilang Emisi di Jakarta Utamakan Edukasi

Menuryt CREA, meremehkan kontribusi pembangkit listrik tenaga batubara terhadap polusi yang terjadi belakangan ini tidak akan membantu mengatasi masalah genting saat ini.

Maka dari itu, daripada terlalu berfokus pada penggunaan kendaraan bermotor pribadi, baik roda empat maupun roda dua di Jakarta, pemerintah harus mengatasi sumber utama polusi secara sistematis di tingkat daerah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.