Jakarta

Ditekan Serangan Iran, AS Diam-diam Siapkan Penarikan Pasukan dari Timur Tengah

Yusuf Doank | 9 September 2026, 21:59 WIB
Ditekan Serangan Iran, AS Diam-diam Siapkan Penarikan Pasukan dari Timur Tengah
Ilustrasi - Serangan rudal oleh Iran. ANTARA/IRNA/IRGC.

AKURAT JAKARTA – Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai membahas rencana pengurangan jumlah pasukan dan fasilitas militernya di Timur Tengah secara besar-besaran.

Langkah ini disiapkan mengantisipasi kebijakan Presiden Donald Trump dalam mengakhiri konflik dengan Iran, sekaligus merespons tingginya kerentanan pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

Wacana penarikan pasukan ini mengemuka setelah rangkaian pertempuran dengan Iran mengekspos rentannya infrastruktur militer AS dari serangan udara.

Baca Juga: Pencarian 5 Wartawan Hilang Kontak di Selat Sunda Dilanjutkan Kamis, Area Penyisiran Diperluas

Hingga saat ini, sedikitnya 18 anggota militer AS dilaporkan tewas akibat konflik tersebut.

Saat ini, AS masih menempatkan sekitar 50.000 personel militer, dua kapal induk, serta belasan kapal perusak berpeluru kendali di Timur Tengah.

Namun, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) kini mulai mengevaluasi berbagai opsi guna meningkatkan perlindungan bagi pasukan yang tersisa, termasuk memindahkan sejumlah fasilitas ke lokasi bawah tanah untuk meminimalkan risiko serangan rudal maupun drone.

"Kerentanannya selalu diketahui, tetapi AS tidak pernah menindaklanjutinya dengan urgensi," ujar seorang pejabat AS.

Evaluasi ini juga didorong oleh ketidakpastian strategi Trump pascakonflik. Trump selama ini dikenal memiliki kecenderungan untuk mengurangi keterlibatan militer AS di berbagai belahan dunia.

Dampak serangan Iran dilaporkan merusak sejumlah aset vital milik AS. Pos terdepan CIA di Riyadh, Arab Saudi, mengalami kerusakan berat.

Selain itu, instalasi militer AS di Bahrain, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait turut menjadi sasaran tembak drone dan rudal Iran.

Kondisi ini memicu Komando Operasi Khusus AS dan CIA untuk mengkaji opsi menjalankan misi intelijen sensitif tanpa bergantung pada pangkalan permanen.

Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah menerbangkan personel secara langsung dari AS untuk operasi tertentu dan segera menariknya kembali begitu misi selesai.

Di sisi lain, AS dihadapkan pada besarnya biaya rekonstruksi fasilitas yang rusak. Pengawas Keuangan Pentagon, Jules "Jay" Hurst III, menyatakan pihaknya belum menentukan total kerugian maupun kepastian perbaikan fasilitas tersebut.

"Kami belum memiliki angka pasti terkait kerusakan instalasi kami di luar negeri. Keputusannya bergantung pada bagaimana kami akan membangunnya kembali, atau apakah kami benar-benar akan melakukannya," kata Hurst.

Untuk jangka panjang, Pentagon berencana mengalihkan porsi pertahanan kawasan kepada negara-negara mitra di regional. Meski demikian, ancaman Iran masih membayangi pangkalan dan pasukan AS, terutama setelah serangan berlanjut ke fasilitas militer AS di Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA).

Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, menegaskan bahwa armada AS belum akan kembali ke Bahrain, yang selama ini menjadi markas utama Armada ke-5 AS.

"Kami tidak akan kembali ke sana dalam waktu dekat. Saya ingin benar-benar jujur mengenai hal itu," tegas Caudle.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y