Jakarta

Dulu Mengira Kuliah Mustahil, Satu Pengalaman Ubah Hidup Pemuda dari Daerah 3T hingga Lolos UGM Gratis

Anggerhana Denni Rahmawati | 14 Juli 2026, 06:30 WIB
Dulu Mengira Kuliah Mustahil, Satu Pengalaman Ubah Hidup Pemuda dari Daerah 3T hingga Lolos UGM Gratis
Julian Yusmar Dima Huda bersama dengan keluarganya. (ugm.ac.id)

AKURAT JAKARTA - Bagi Julian Yusmar Dima Huda, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pernah terasa seperti mimpi yang mustahil.

Pemuda asal Desa Raenalulu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, itu tumbuh tanpa kedua orang tua dan dibesarkan oleh kakek serta neneknya yang bekerja sebagai petani dan penjual kue dengan kondisi ekonomi sederhana.

Keterbatasan tersebut sempat membuat Yusmar tidak pernah membayangkan bisa berkuliah.

Namun, semuanya berubah ketika ia mengikuti ajang Duta Siswa Indonesia saat duduk di kelas 12 SMA.

Pengalaman itu membuka wawasannya bahwa pendidikan tinggi juga bisa diraih oleh siapa saja, termasuk anak-anak dari daerah 3T.

Sejak saat itu, Yusmar mulai berani mencari peluang sendiri.

Ia tidak lagi menunggu ditunjuk sekolah untuk mengikuti kompetisi, melainkan aktif mendaftarkan diri ke berbagai ajang pengembangan diri dan olimpiade.

Kesibukan sebagai wakil ketua OSIS dan anggota Pramuka juga tidak menghalanginya untuk tetap berprestasi di sekolah.

Untuk mengejar ketertinggalan, Yusmar membiasakan belajar pada dini hari.

Ia juga memanfaatkan telepon genggam yang baru dimilikinya saat pandemi COVID-19 sebagai sarana belajar mandiri.

Usaha tersebut menjadi cara baginya mengatasi keterbatasan akses pendidikan yang dialami sejak kecil.

Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil.

Melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Yusmar diterima di Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM.

Ia juga memperoleh beasiswa UKT 100 persen sehingga dapat menempuh pendidikan tanpa biaya kuliah.

Yusmar memilih UGM sebagai tempat untuk keluar dari zona nyaman sekaligus membuktikan bahwa anak-anak dari daerah terpencil mampu bersaing di perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Baca Juga: Mengenal School Transition Anxiety, Penyebab Anak Cemas di Hari Pertama Masuk Sekolah

=====

Kisahnya menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari perubahan cara berpikir.

Ketika keberanian untuk mencoba muncul, keterbatasan bukan lagi menjadi penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.