Gencatan Senjata, Israel Malah Tambah Gila! Mau Usir Warga Gaza hingga Ganti Nama Tepi Barat Palestina Jadi Yudea dan Samaria

AKURAT JAKARTA - Perang antara pejuang Palestina dengan zionis Israel di jalur Gaza saat ini sedang gencatan senjata.
Namun, dalam dua tahun terakhir tercatat hampir 50 ribu orang tewas di wilayah Palestina akibat serangan Israel.
Selama gencatan senjata berlangsung, Israel dan sekutunya Amerika malah tambah gila. Mereka melancarkan serangan opini publik.
Gencatan senjata di Gaza telah tercapai kesepakatan sejak 19 Januari 2025. Israel dan Hamas sepakat bertukar tawanan yang sempat ditahan selama perang berlangsung.
Dilansir AFP, Minggu (9/2/2025), invasi Israel di wilayah Palestina yang terjadi sejak Oktober 2023 hingga Februari 2025, telah menewaskan 48.181 warga Palestina.
Tak hanya itu. Selama gencatan senjata berlangsung, Presiden Amerika Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, menyampaikan pernyataan yang memancing emosi masyarakat dunia.
Mulai dari usulan Trump yang akan memindahkan atau relokasi warga Gaza ke negara-negara Arab, bahkan termasuk ke Indonesia.
Trump menyebut akan mengosongkan Gaza dari warga Palestina dan Amerika akan mengambil alih kendali pembangunan di Gaza.
Trump mengusulkan relokasi warga Palestina dari Gaza dan mengklaim akan membangun kembali daerah tersebut menjadi "Riviera of Middle East".
Netanyahu tak kalah songong. Ia mengusulkan agar negara Palestina didirikan di Arab Saudi.
Baca Juga: Bang Zaki Serahkan Data, Patrick Kluivert Kepincut Winger Persita Tangerang Yardan Yafi
"Saudi dapat mendirikan negara Palestina di Arab Saudi. Mereka memiliki banyak tanah di sana," kata Netanyahu.
Terbaru, pemerintah Israel mau mengubah nama Tepi Barat jadi Yudea dan Samaria.
Komite Kabinet parlemen Israel telah mengesahkan undang-undang untuk mengganti nama wilayah di Palestina, Tepi Barat atau West Bank menjadi Yudea dan Samaria.
Anggota parlemen sayap kanan Israel Simcha Rothman mengatakan penggunaan nama itu untuk menyeragamkan penggunaan Yudea dan Samaria dalam teks hukum Israel.
"Mengganti istilah Tepi Barat dengan Yudea dan Samaria akan mencerminkan pengakuan legislated atas hak historis Orang Yahudi atas tanah tersebut dan mengoreksi distorsi sejarah," kata Rothman.
Berdasarkan ketentuan solusi dua negara, Tepi Barat yang diduduki Israel, merupakan bagian dari Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
Menanggapi langkah Israel, Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam dan menyebut tindakan tersebut sebagai "eskalasai yang berbahaya."
Baca Juga: Pameran Fashion Muslim 2025: dari Jakarta hingga New York, Catat Jadwalnya!
Sejarahnya, Israel menduduki Tepi Barat setelah perang meletus pada tahun 1967. Hingga sekarang, mereka terus memperluas pendudukan itu dan kerap melakukan kekerasan terhadap warga Palestina. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





