Jakarta

Gelar Webinar Nasional Soal “ESG Tax Foot Print”, Prodi Akuntansi Unpam Hadirkan Dua Pakar yang Kompeten di Bidangnya

Sastra Yudha | 8 November 2024, 18:43 WIB
Gelar Webinar Nasional Soal “ESG Tax Foot Print”, Prodi Akuntansi Unpam Hadirkan Dua Pakar yang Kompeten di Bidangnya

AKURAT JAKARTA - Program Studi Sarjana Akuntansi, Universitas Pamulang (Unpam), sukses menyelenggarakan Webiner Nasional and Call For Paper, Kamis (7/11/2024).

Webiner Nasional ini dilaksankan via daring atau zoom meeting, dengan mengusung tema “ESG Tax Foot Print”.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Sasmita Jaya Group, Dr. Pranoto, menyampaikan bahwa para mahasiswa harus mengupdate dan mengembangkan ilmu pengetahuannya untuk berkontribusi di Masyarakat.

Baca Juga: Senja Utara Fest 2024: Konser Tepi Pantai Pertama di Surabaya Digelar Sabtu Besok, Balita Gratis! Anak-anak Bayar Rp 30 Ribu

Dr. Pranoto juga berpesan agar para mahasiswa terus meningkatkan kualifikasi akademik, karena tantangan dunia industri, terutama di bidang akuntansi sudah sangat kompetitif. "Jangan puas dengan hanya lulus S1 Akuntansi," tegasnya.

Diungkapkan Dr. Pranoto, Unpam sudah membuka Magister Akuntansi, untuk memberikan kesempatan kepada para mahasiswa yang lulus S1 untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, guna meningkatkan kualifikasi akademiknya.

Webiner Nasional ini dibuka oleh Rektor Universitas Pamulang, Dr. E. Nurzaman. Dalam sambutannya, ia mengharapkan agar Webinar ini dijadikan sebagai majelis ilmu, untuk memperdalam pemahaman dan memperluas pengetahuan terkait dengan ESG Tax Foot Print.

Rektor juga berpesan agar para mahasiswa mengikuti seminar ini dengan intens. "Dengan webinar nasional ini, para dosen dan mahasiswa diharapkan dapat merefresh pengetahuannya, bisa diluaskan wawasannya, dan dapat memperdalam pemahamannya, terutama dalam masalah pajak," katanya.

Sementara Ketua Program Studi Sarjana Akuntansi, Dr. H. Suripto, mengatakan bahwa tema terkait dengan ESG Tax Foot Print ini menjadi Current issue dan penting untuk dipelajari dan dipahami oleh mahasiswa. "Terutama mahasiswa sarjana akuntansi yang akan menyusun skripsi,” tandasnya.

Suripto berharap, para mahasiswa dapat mengikuti seminar ini dengan tekun, agar benar-benar memahami konsep dan implementasi ESG Tax Foot Print, yang dipaparkan oleh para nara sumber.

Baca Juga: Otaku dan Gamers Bersiaplah! Konser OST Anime & Game Paling Epic Akhir Tahun ini Akan Digelar 7 Desember 2024, Penjualan Tiket Dimulai Kamis Depan

Suripto juga mengucapkan terima kasih kepada Ketua Yayasan Samita Jaya Group, Rektor Universitas Pamulang, Para Wakil Rektor, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), dan seluruh panitia pelaksana yang bekerja keras dalam menyukseskan kegiatan seminar ini.

Webiner Nasional ini menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidang ESG Tax Foot Print, baik yang berasal dari akademisi maupun praktisi.

Hadir sebagai narasumber antara lain: Prof. Dr. Gilbert Rely, dan Firman Tatariyanto, P.hD.

Dr. Gilbert Rely merupakan Ketua Umum PERKOPPI dan praktisi berpengalaman lebih dari 35 tahun di bidang akuntansi, audit, dan perpajakan.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan soal manfaat implementasi ESG, di antaranya: Mendorong Stakeholders untuk mematuhi peraturan, aspek lingkungan yang dikelola dengan baik, pekerja dan masyarakat lokal diperlakukan secara adil, serta keputusan akan dibuat secara transparan.

Sedangkan nara sumber kedua, Firman Tatariyanto, P.hD, merupakan ASN di Direktorat Jenderal (Dirjen) Pajak dan juga Dosen Magister Akuntansi Universitas Pamulang.

Ia menjelaskan, masyarakat saat ini tidak melihat pajak sebagai faktor biaya jangka pendek. Akan tetapi sebagai instrumen untuk menciptakan sosio-kohesi ekonomi, penciptaan nilai lingkungan dan kemakmuran jangka panjang.

Baca Juga: Apa Itu Kurikulum Deep Learning? Simak 3 Fakta Terkait Model Pembelajaran Baru yang Digagas Menteri Dikdasmen Abdul Mu'ti

Dalam kesempatan tersebut, Firman juga menjelaskan terkait Pajak Karbon. Disebutkan bahwa Pajak Karbon merupakan tipe spesifik dari Pajak Lingkungan, yaitu Pajak yang dikenakan atas emisi karbon atau proxynya.

"Pajak karbon juga termasuk dalam kategori yang lebih luas dari instrumen carbon pricing yang dilakukan pemerintah dengan memberi harga (valuasi) pada emisi karbon dan dengan demikian mendorong konsumen dan produsen untuk menguranginya," katanya.

Peserta Webinar sangat antusias mengikuti acara ini. Terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang disampaikan kepada para Narasumber. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.