Jakarta

Carok Bangkalan Lagi Viral di Medsos, Apa Itu? Simak Sejarah Tradisi yang Berlaku di Pulau Madura ini

Sastra Yudha | 14 Januari 2024, 12:24 WIB
Carok Bangkalan Lagi Viral di Medsos, Apa Itu? Simak Sejarah Tradisi yang Berlaku di Pulau Madura ini

AKURAT JAKARTA - Kata "Carok Bangkalan" lagi trending di media sosial. Rupanya, hal ini terkait peristiwa carok maut yang terjadi di Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Dalam peristiwa carok yang terjadi di Desa Bumianyar, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan, pada Jumat (12/1/2024) malam itu, menewaskan empat orang.

Video Carok Bangkalan berdurasi 16 detik pun viral di media sosial. Dalam video itu terlihat sejumlah orang yang sedang beradu senjata tajam jenis celurit. Suara denting adu besi terdengar nyaring dalam video tersebut.

Terdengar juga teriakan dari orang-orang yang sedang baradu celurit atau carok tersebut. Di video lain, terlihat mayat bergelimpangan bersimbah darah.

Baca Juga: Deretan Festival Kuliner yang Digelar di Jakarta Akhir Pekan ini, Mulai Korean Food hingga Pesta Durian, Cek Daftarnya di Sini

"Settong (satu), duwa' (dua), tello' (tiga), iyeh empa' se mateh (iya empat yang mati)," ujar suara pria dalam rekaman.

Empat orang yang tewas dalam tragedi carok itu masing-masing bernama Matterdam, Mattanjar, dan Najehri. Ketiganya merupakan warga Desa Larangan Timur.

Sedangkan satu korban tewas lainnya bernama Hafid, berdomisili di Desa Bumi Anyar.

Kapolres Bangkalan, AKBP Febri Isman Jaya, mengatakan bahwa motif carok di Bangkalan adalah ketersinggungan pelaku terhadap korban.

Febri mengatakan, peristiwa berawal saat salah satu pelaku berjalan kaki hendak menuju ke acara tahlilan. Kemudian, datang dua korban yang berboncengan motor memblayer atau nyaris menabrak saat melintas melewati korban.

Pelaku kemudian menegur dua orang korban. Bukannya minta maaf, korban malah menghentikan motor dan turun, lalu mendekati dan memaki pelaku. Akibatnya, terjadi cekcok mulut antara pelaku dan korban.

Baca Juga: Akhir Pekan Mau Kemana? Berikut 11 Event Pameran yang Digelar di Jakarta pada Minggu 14 Januari 2024, Banyak yang GRATIS!

Merasa unggul jumlah, dua lawan satu, salah seorang korban sempat memukul pelaku.

Pelaku yang tidak terima, kemudian pulang dan mengajak saudaranya. Korban juga pulang dan mengajak tiga orang lainnya.

Dengan masing-masing membawa senjata tajam jenis celurit, mereka lalu bertemu di TKP. Hingga terjadilah duel bersenjata tajam atau biasa disebut carok. Akibatnya, empat orang tewas dalam carok maut tersebut.

Lalu, apa itu carok? Mengutip dari situs Universitas Gajah Mada, carok adalah ritual pemulihan harga diri ketika diinjak-injak oleh orang lain.

Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya, carok melibatkan dua orang atau dua keluarga besar, bahkan antar penduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan.

Bagi masyarakat Madura, Carok dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan.

Biasanya, kasus carok diawali oleh konflik, meskipun konflik tersebut dilatar belakangi oleh permasalahan berbeda.

Untuk memulihkan harga diri yang dilecehkan, mereka menyelesaikan dengan melakukan carok.

Anehnya, pelaku carok yang berhasil membunuh musuhnya, menunjukkan perasaan lega, puas, dan bangga.

Baca Juga: Resep Soto Lamongan: Sedap dan Gurih, Patut Dicoba di Rumah

Meski demikian, carok termasuk dalam kategori perbuatan kriminal dan pelakunya dapat diberi hukuman sesuai ketentuan yang berlaku.

Dilansir situs Kemendikbud, pelaku carok menggunakan celurit sebagai senjata perlawanannya.

Celurit atau clurit bukan sekadar senjata tradisional khas dari Madura, namun tak dapat dipisahkan dari budaya dan tradisi masyarakat Madura. Celurit dianggap sebagai simbol kejantanan laki-laki.

Menurut Budayawan D. Zawawi Imron, senjata celurit memiliki filosofi dari bentuknya yang mirip tanda tanya, bisa dimaknai sebagai satu bentuk kepribadian masyarakat Madura yang selalu ingin tahu.

Carok dan celurit bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri dan kehormatan.

Pada zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal istilah carok. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris.

Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Sakerah, mandor tebu dari Pasuruan.

Ia melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda menggunakan celurit yang biasanya hanya digunakan sebagai alat pertanian.

Baca Juga: JKT48 Malam Nanti Siap Guncang Panggung Festive Fest, Wota se-Solo Raya Merapat ke Klaten

Celurit bagi Sakerah merupakan simbol perlawanan rakyat jelata kepada penjajah kolonial.

Saat lelaki asal Bangkalan itu dihukum mati, warga Pasuruan yang mayoritas berasal dari suku Madura marah dan mulai berani melakukan perlawanan pada penjajah dengan senjata andalan berupa celurit. Sehingga, celurit mulai beralih fungsi menjadi simbol perlawanan, simbol harga diri serta strata sosial. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.