Profil Rifaldy dan Prihantini: WNI Terseret Riset Ilmiah Palsu Berskala Internasional, Ternyata Alumni Universitas Top di Jogja

AKURAT JAKARTA - Dunia akademik Indonesia gempar setelah nama Rifaldy Fajar dan Prihantini ramai disorot netizen di media sosial.
Keduanya diduga terlibat dalam riset ilmiah palsu berskala internasional. Kasus ini pertama kali dibongkar oleh akun Threads @mandharabrasika, yang membeberkan dugaan pemalsuan identitas hingga fabrikasi data riset menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Aksi memalukan ini disebut terjadi pada Simposium Internasional tentang Penyakit Pneumokokus dan Pneumonia (ISPPD 2026).
Baca Juga: Jadwal Lengkap Timnas Indonesia U-19 di Piala AFF U-19 2026: Misi Pertahankan Gelar Juara
Acara tersebut merupakan konferensi ilmiah bergengsi bagi para ahli pneumonia dunia yang tahun ini digelar di Kopenhagen, Denmark.
Modus Ganti Jilbab dan Nametag demi Kelabui Ilmuwan
Berdasarkan unggahan yang viral, terduga pelaku wanita melancarkan aksinya dengan cara berganti-ganti nama saat presentasi di hadapan para ilmuwan dunia.
Strategi penyamaran yang dilakukan Prihantini ini dilakukan secara manual dan instan di lokasi acara.
"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag," tulis akun Threads @mandharabrasika.
Identitas palsu tersebut kemudian dengan percaya diri dipamerkan di depan forum ilmiah internasional.
Baca Juga: Jangan Asal Bakar, Ternyata Begini Trik Membuat Sate Kambing Empuk dan Tidak Bau Prengus
Riset Fiktif Buatan AI dan Fabrikasi Data
Bukan hanya identitas yang dimanipulasi, materi riset yang dipaparkan dalam konferensi ISPPD 2026 tersebut juga terindikasi kuat sebagai produk fiktif. Seluruh data, narasi, hingga visual diduga hasil generator AI.
"Risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisannya juga," lanjut akun tersebut.
Kecurigaan netizen dan sesama peneliti semakin menguat setelah melihat lokasi penelitian yang tercantum dalam dokumen ilmiah mereka.
Lokasi riset tersebut dinilai sangat tidak masuk akal bagi periset yang seluruhnya berbasis di Indonesia. Beberapa lokasi yang diklaim meliputi:
Dataran Tinggi Andes Peru (Peruvian Andes)
Dataran Tinggi Ethiopia
Dataran Tinggi Guatemala
Lebanon, Yordania, dan Bangladesh
Sudan Selatan, Kenya, dan Malawi
Filipina, Nepal, dan India Utara
Kejanggalan besar terlihat karena penelitian di wilayah-wilayah ekstrem dan konflik tersebut sama sekali tidak melibatkan kolaborator lokal.
Dokumen tersebut juga tidak dilengkapi dengan keterangan persetujuan etik (ethical clearance) yang sah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026

