TIMTENG MEMBARA! Iran Bombardir Israel dengan Ratusan Rudal, Pembalasan Atas Kematian Pemimpin Hamas Ismail Haniyah dan Hizbullah Hassan Nasrullah

AKURAT JAKARTA - Kawasan Timur Tengah (Timteng) sedang membara. Perang terbuka antara Israel dengan Lebanon dan Iran kian mendekati kenyataan.
Iran baru saja melancarkan serangan besar-besaran menggunakan ratusan rudal ke wilayah Israel, pada Selasa (1/10/2024). Sedikitnya 200 roket telah ditembakkan pasukan Iran ke wilayah Israel.
Beberapa rudal berhasil diintersepsi di langit Yerusalem, namun banyak di antaranya tampak terus melaju ke arah pesisir dan wilayah tengah Israel.
Roket-roket itu meluncur bak kembang api di langit gelap Israel, disertai suara bom yang meledak di kejauhan.
Di tepi Kota Tua, banyak warga yang menyaksikan rudal-rudal tersebut terbang di atas mereka, dalam serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sekitar 10 menit kemudian, gelombang kedua rudal terpantau melintasi kota, kali ini dari arah yang berbeda. Kilatan terang dari upaya intersepsi terlihat di langit diiringi suara ledakan keras.
Ketegangan antara Iran dengan Israel sudah terjadi sejak kematian pemimpin Hamas Palestina, Ismail Haniyah, pada 31 Juli 2024 lalu.
Ismail Haniyah dibunuh bersama pengawal pribadinya, saat berada di kediamannya di ibu kota Iran, Teheran.
Haniyah menjadi korban serangan tantara Israel, setelah kembali dari menghadiri upacara pelantikan presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Terbaru, serangan Israel telah menewaskan pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, di Beirut pada Jumat (27/9/2024).
Iran telah berjanji akan membalas Israel atas serangkaian serangan terhadap Iran dan pendukungnya di seluruh Timur Tengah, termasuk Hizbullah.
Sebelumnya, Amerika telah memperingatkan bahwa mereka memiliki informasi "indikasi bahwa Iran sedang bersiap untuk meluncurkan serangan rudal balistik terhadap Israel dalam waktu dekat."
"Kami secara aktif mendukung persiapan defensif untuk mempertahankan Israel dari serangan ini. Ini akan membawa konsekuensi berat bagi Iran," tutur seorang pejabat Gedung Putih, dilansir The Guardian.
Serangan ini menambah kekhawatiran bahwa kekerasan yang meningkat di wilayah tersebut bisa memicu perang antara Israel dan Iran.
Pada Selasa (1/10/2024) malam, Kedutaan Besar Amerika di Yerusalem mengimbau semua pegawai dan keluarga mereka untuk berlindung di tempat aman, hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Israel memulai serangan darat ke Lebanon selatan yang disebut Operasi Panah Utara pada Senin (30/9) malam, dengan tembakan artileri besar-besaran di sepanjang perbatasan.
Serangan darat ini adalah operasi berkelanjutan pertama Israel di Lebanon sejak 2006, ketika kedua negara menandatangani perjanjian damai yang mengakhiri perang 34 hari.
Di tengah serangan udara Israel yang terus menghantam Beirut dan Lebanon selatan, tim penyelamat Lebanon melaporkan telah menemukan 25 jenazah dan menyelamatkan 13 orang yang terluka sejak Senin malam.
Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, menyebut situasi ini sebagai tahap paling berbahaya dalam sejarah Lebanon.
"Sekitar 1 juta orang dari negara kami telah mengungsi akibat perang dahsyat yang dilancarkan Israel di Lebanon," kata Najib.
Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, menyerukan gencatan senjata segera dilakukan. Karena dampak perang ini akan sangat besar bagi Timur Tengah dan ekonomi global. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









