Jakarta

Dituding Jadi Penyebab Kemacetan, Sebuah Sekolah Swasta di Surabaya Diminta Bayar Iuran Jalan ke RW Sebesar 140 juta

Titania Isnaenin | 2 Agustus 2024, 21:36 WIB
Dituding Jadi Penyebab Kemacetan, Sebuah Sekolah Swasta di Surabaya Diminta Bayar Iuran Jalan ke RW Sebesar 140 juta

AKURAT JAKARTA - Baru-baru ini viral di media sosial terkait perseteruan antara pihak sekolah swasta di Surabaya dengan warga terkait kenaikan iuran penggunaan jalan.

Iuran penggunaan jalan tersebut disebut tak masuk akal.

Karena pihak sekolah harus menyerahkan uang iuran masing-masing 35 juta ke 4 RW dilokasi sekitar sekolah.

Baca Juga: Kepala Sekolah Wensen School Milik Meita Irianty Tolak Buka CCTV, Dugaan Korban Penganiayaan Bertambah?

Atas konflik tersebut, Armuji Walikota Surabaya menjadi mediator dari perselisihan antara pihak RW Mulyorejo dengan sekolah Petra.

"Awal mulanya itu masalah kenaikan iuran, jadi kami itu ada empat pak (RW). Dari RW 04, RW 05 sampai RW 07, awalnya itu (iuran) 32 juta per bulan per RW" kata salah seorang ketua RW dikutip dari akun X @dhemit_is_real.

Baca Juga: Merasa Sakit Hati Terus Ditanya 'Kapan Nikah', Pria di Tapanuli Selatan Tega Bunuh Tetangganya Sendiri

"Pada bulan januari mengalami kenaikan, akhirnya kami sudah menyatakan ya sudah berarti kedudukan Petra tidak sama dengan RW. Dan juga mengenai jalan, kalau Petra tidak mau dibebankan pada jalan yang berada di depan tersebut ya monggo, buat jalan sendiri dibelakang" lanjutnya.

Dengan kata lain, para RW di sekitar sekolah Petra tidak akan membebankan iuran jalan apabila sekolah merasa keberatan.

Baca Juga: Berdarah Dingin, Israel Akui Telah Bunuh Dua Jurnalis Al Jazeera dan Tuduh Sebagai Anggota Hamas

Dan bisa membuat jalan sendiri secara satu pintu menuju ke sekolah.

Namun, menurut pihak sekolah, jalan tersebut adalah jalan umum.

Dan mereka sempat membayarkan uang jalan atas kesepakatan senilai 32 juta sebelum pada akhirnya mengalami kenaikan 35 juta.

Baca Juga: Pesona Kim Yeji, Atlet Tembak Asal Korea Selatan yang Curi Perhatian Publik

Lantaran itu dianggap menjadi pungutan liar jika iuran per bulan sekolah harus mengeluarkan uang sebesar 140 juta ke masing-masing RW.

Pihak sekolah juga melaporkan kepada Armuji bahwa selama membayar iuran penggunaan jalan tersebut.

Pihak sekolah tidak menerima laporan yang jelas dari RW terutama terkait pembayaran BPJS.

Baca Juga: Tampil Santai Tanpa Alat Bantu, Atlet Tembak Asal Turki Yusuf Dikec Berhasil Raih Medali Perak

"Harusnya pembayaran BPJS langsung struk, ini enggak, uang BPJS dititipkan ke namanya scurity. Nah pas kita tanya, apakah benar uang ini di bayarkan ke BPJS, (jawab scurity) ndak pak untuk beli rokok" ucap perwakilan sekolah Petra.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.