Hari Ini 98 tahun lalu, Kongres Pemuda Pertama Digelar di Jakarta, Inisiasi dari Seorang Wartawan Muda

AKURAT JAKARTA - Hari ini, 98 tahun lalu, tepatnya pada 30 April 1926, sejumlah anak-anak muda berkumpul di Gedung Vrijmetselaarsloge, Jakarta.
Anak-anak muda ini membicarakan masa depan Hindia-Belanda dalam sebuah forum yang mereka sebut sebagai Kerapatan Besar Pemuda atau Eerste Indonesiasisch Jeugdcongres.
Pertemuan yang diinisiasi seorang wartawan muda dari Koran Hindia Baroe, Mohammad Tabrani, itu kelak dalam catatan sejarah disebut sebagai Kongres Pemuda Pertama.
Baca Juga: Ribuan Buruh dari Jawa Barat akan Bertolak ke Jakarta dalam Peringatan May Day 2024
Momon Abdul Rahman dan kawan-kawan dalam buku Sumpah Pemuda, Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional (2008) menulis Kongres Pemuda Pertama digelar untuk menggugah semangat kerja sama di antara berbagai organisasi pemuda untuk mewujudkan persatuan Indonesia, di tengah-tengah bangsa-bangsa dunia.
Butuh waktu sekitar empat bulan bagi Mohammad Tabrani mempersiapkan penyelenggaraan Kongres Pemuda Pertama.
Kongres Pemuda pertama lahir dari keputusan Konferensi Organisasi Pemuda Nasional pertama pada 15 November 1925 di Gedung Lux Orientis, Jakarta.
Baca Juga: Terbaik dari yang Terbaik, 3 Rekomendasi Nasi Bebek Goreng Madura di Jakarta yang Enaknya Sampai Terngiang-Ngiang
Dalam konferensi yang dihadiri dari perwakilan Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Pelajar Minahasa (Minahassische Studeerenden), Sekar Roekoen, dan perorangan itu lalu membentuk panitia kongres dengan Ketua Mohammad Tabrani dari Jong Java.
Hasilnya, kongres dapat digelar selama tiga hari, sejak 30 April hingga 2 Mei 1926.
Hadir dalam kongres itu berbagai organisasi pemuda, wakil partai politik, dan wakil Pemerintah Hindia Belanda yang terdiri dari Patih Batavia, polisi, Politieke Inlichtingen Dienst (PTD), dan Adviseur Voor Inlandsch Zaken (Penasehat Urusan Bumiputera).
Baca Juga: Belasan Artis Legendaris Bakal Konser di The 90s Festival, Mulai dari Slank, Jamrud hingga Ebiet G Ade, Catat Lokasi dan Tanggalnya
Kongres dibagi menjadi tiga kali rapat. Rapat pertama digelar pada Jumat, 30 April 1926 di Gedung Vrijmetselaarsloge sejak pukul 20.00-24.14 WIB.
Pada hari pertama, Soemarto sebagai Wakil Ketua Kongres berbicara di depan hadirin tentang peluang besar membentuk kesatuan Indonesia.
Soemarto mengungkap tiga alasan krusial kenapa Indonesia harus bersatu.
Baca Juga: Pemprov DKI Jakarta: Jutaan KTP Warga akan Dipaksa Berubah Menjadi DKJ
Pertama, Bangsa Indonesia sama-sama dijajah Belanda; kedua, Indonesia merupakan satu kesatuan budaya; dan ketiga, dilihat dari sudut bahasa, Indonesia adalah suatu kesatuan.
Hari kedua, Sabtu, 1 Mei 1926, di Vrijmetselaarsloge, kongres membahas tentang kedudukan perempuan Indonesia dengan menghadirkan tiga orang pcmbicara, yaitu, Bahder Djohan, Stientje Adams, dan R. T. Djaksodipoero.
Sedangkan hari ketiga, pada Minggu, 2 Mei 1926, masih di Vrijmetselaarsloge, kongres menghadirkan Muhammad Yamin berpidato tentang bahasa persatuan Indonesia.
Baca Juga: Jika Lolos Olimpiade 2024, Timnas Indonesia Bertemu Argentina-Ukraina atau Prancis-Amerika, Berikut Pembagian Grup Sepak Bola Putra Olimpiade
Selama dua hari kongres, pertemuan akbar anak-anak muda ini selalu digelar pada malam hari.
Namun, pada hari ketiga, kongres digelar mulai pukul 09.00 WIB.
Dalam pidato berjudul Kemungkinan Perkembangan Bahasa-bahasa dan Kesusasteraan Indonesia di Masa Mendatang, Muhammad Yamin, berbicara tentang bahasa pesatuan.
Menurut Yamin, hanya ada dua bahasa yang punya peluang besar menjadi bahasa persatuan Indonesia, yakni, Bahasa Jawa dan bahasa Melayu.
Bahasa Jawa punya peluang menjadi bahasa persatuan karena memiliki jumlah penutur terbanyak.
Sementara Bahasa Melayu punya peluang menjadi bahasa
persatuan karena saat itu menjadi bahasa pergaulan (lingua franca).
Baca Juga: Angkat Isu Politik Era 60-An, Drama Korea Terbaru Uncle Samsik Siap Tayang 15 Mei 2024
Di akhir pidato, Muhammad Yamin berkesimpulan Bahasa Melayu punya peluang lebih besar menjadi bahasa persatuan dari Bahasa Jawa.
Kongres Pemuda Pertama nyaris mengambil keputusan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.
Namun, Mohammad Tabrani memveto keputusan kongres karena tidak sependapat apabila bahasa persatuan dinamakan Bahasa Melayu.
Baca Juga: Kecelakaan Pengendaran Motor Jadi Korban Tabrak Lari di Depok
Mohammad Tabrani saat itu punya jalan pikiran kalau nusa bernama Indonesia, bangsa bernama Indonesia, maka bahasa juga harus bernama Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Melayu.
Akhirnya, Kongres Pemuda Pertama yang digelar selama tiga hari itu tidak menghasilkan keputusan apa-apa.
Kongres Pemuda Pertama ditutup pada pukul 12.30 WIB.
Baca Juga: Resep Lodeh Kikil Pedas, Gampang Dibuat di Rumah Rasanya Enak
Panitia Kongres lalu membukukan hasil kongres secara lengkap dan menerbitkannya pada akhir 1926 dengan judul Verslag van het Eerste Indonesische Jeugdcongres (Laporan Kongres Pemoeda Indonesia Pertama).
Sayang, dari ratusan eksemplar buku yang dicetak, hanya satu yang berhasil diselamatkan.
Sementara sisanya dimusnahkan Pemerintah Hindia Belanda. Naskah itu sekarang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional RI.*
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









