Jakarta

RAMAI ISU PEMAKZULAN JOKOWI, Ini Kisah Detik-detik Mencekam Menjelang Pelengseran Gus Dur dari Kursi Presiden RI

Tiara Juliyanti Putri | 19 Januari 2024, 22:31 WIB
RAMAI ISU PEMAKZULAN JOKOWI, Ini Kisah Detik-detik Mencekam Menjelang Pelengseran Gus Dur dari Kursi Presiden RI

 

AKURAT JAKARTA - Ramai isu tentang Pemakzulan Jokowi menjelang Pemilu Serentak 2024.

Wacana pemakzulan Presiden Jokowi diajukan sejumlah orang yang mengatasnamakan Petisi 100.

Aspirasi yang mengatas namakan rakyat ini disampaikan kepada Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD pada Selasa, 9 Januari 2024.

Isu pemakzulan Presiden Jokowi ini mengingatkan pada peristiwa pelengseran KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari kursi Presiden.

Berikut kisah detik-detik pemakzulan Gus Dur, sebagaimana dilansir Akurat Jakarta dari kanal YouTube Aawan Story.

Baca Juga: ISYARAT LANGIT! Ramalan Habib Ja'far Al Kaff Disampaikan ke Gus Dur Soal Orang Buta Bakal Jadi Presiden Indonesia

Banyak yang masyarakat membela Gus Dur saat dirinya hendak dilengserkan dari kursi kepresidenan, salah satunya yaitu Gus Muwafiq.

Gus Muwafiq menjadi garda terdepan dalam membela Gus Dur sesaat menjelang lengsernya Presiden RI keempat.

Gus Muwafiq yang dikenal 'Jadug' atau sakti diperintahkan Gus Dur untuk menahan para pendekar yang ingin membela Gus Dur.

Namun Gus Dur menilai ini akan sangat berbahaya karena bisa menimbulkan pertumpahan darah antar saudara satu bangsa, hingga Gus Dur memerintahkan Gus Muwafiq untuk menahan mereka.

Menjelang penurunan Gus Dur dari kursi presiden pada tahun 2001 silam, muncul banyak sekali pasukan pembela Gus Dur yang tersusun atas banyak pendekar dari berbagai perguruan silat di Indonesia.

Masing-masing pendekar dengan latar belakang ilmu sakti yang dimiliki para pendekar ini berbeda-beda.

 Baca Juga: WASPADA! Ratusan Ribu Massa Bakal Serbu GBK Senayan Mulai Malam Ini, Berikut 22 Lokasi Parkir Kendaraan Peserta Harlah Ke-78 Muslimat NU

Mereka datang ke Jakarta untuk membela Gus Dur, sesuai kemampuan ilmu silat sakti mereka miliki.

Gus muwafiq yang saat itu patuh kepada Gus Dur mendapatkan amanat untuk mengendalikan semua pendekar yang hadir, agar tidak terjadi rusuh.

Karena Gus Dur yakin jika terjadi kisruh di Jakarta akan berpotensi menjalar ke berbagai daerah lainnya.

Sehingga Gus Dur memerintahkan Gus muwafiq untuk menahan para pendekar itu bagaimanapun caranya. Meskipun Gus Dur sendiri yang nantinya turun tahta 

Walau Gus muwafiq sendiri seorang pendekar, tugas berat mendekati para pendekar dari berbagai perguruan bukan perkara yang gampang.

Hal ini karena mereka mempunyai jurus dan kesaktian khas masing-masing perguruan yang tidak akan bisa disatukan dalam hitungan hari.

Gus Muwafiq pun dalam kondisi kebingungan mengatakan bahwa, "Permasalahan parlementer tidak dapat diselesaikan dengan demonstrasi ekstra dan menggunakan ilmu dan kesaktian."

Baca Juga: Tutup Safari Politik di Kepulauan Seribu dengan Mengunjungi Pulau Untung Jawa, Bang Zaki: Dukung Calon Legislatif DPR RI Dari Partai Golkar Ya!

Akhirnya Gus muwafiq harus memeras otak mencari cara agar ratusan pendekar yang hendak membela Gus Dur tidak kecewa, dan dapat melampiaskan amarahnya.

Gus Muwafiq pun memerintahkan para pendekar itu untuk mengeluarkan kedigdayaan dan kesaktiannya.

Satu golongan pendekar dengan kesaktian mampu menyedot air, diijinkan untuk menyedot air kolam hingga kering kerontang.

Sebagian pendekar lainnya dengan kekuatan yang luar biasa, diperintahkan Gus Muwafiq untuk mencabuti pohon-pohon yang sangat besar.

Pendekar yang anti peluru dibelikan Gus Muwafiq mercon besar yang begitu banyak, untuk dijadikan atraksi oleh para pendekar.

Sebagian lainnya para pendekar yang memiliki ilmu silat dipersilahkan untuk maju melawan Gus Muwafiq sendiri 

Dalam kesempatan itu Gus Muwafiq mampu menumbangkan 60 Pendekar sekaligus hanya dalam tiga jurus saja.

 Baca Juga: Warga Jateng Ikut Semilir Hobby Fest 2024 Yuk! Ada Kompetisi Cosplay, MMV/AMV hingga Turnamen Tekken 7, Total Hadiahnya Rp 13 Jutaan

Hal itu dilakukan agar mereka mau mengurungkan niatnya, walaupun mereka sudah siap dengan nyawa.

Namun ada salah satu pasukan yang sulit dihentikan adalah pendekar yang dipimpin oleh Kiai dari Wonosobo.

Gus muwafiq mengatakan jika para murid Kyai Wonosobo tersebut yang datang ke Jakarta itu diberi bekal pasir satu karung, maka pasir itu bisa berubah menjadi api berskala besar.

Gus Muwafiq yang sudah merasa lelah menghadapi para pendekar Sakti tersebut akhirnya memutuskan untuk memberikan obat tidur yang dicampur dalam kopi.

Cara ini cukup ampuh dilakukan oleh Gus Muwafiq, hingga para pendekar ini tertidur hingga dua hari dua malam lamanya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.