Waspada! Penyakit Cacar Monyet Sudah Masuk Jakarta, Kenali Gejalanya dan Cara Mencegah Agar Tak Tertular

AKURAT JAKARTA - Penyakit cacar monyet atau monkeypox tengah menjadi perhatian serius di Jakarta. Sebab, di bulan Oktober 2023 ini, sudah ditemukan dua kasus di DKI Jakarta.
Sejauh ini, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, kasus cacar monyet pertama kali ditemukan di DKI pada Agustus 2022. Lalu, pada 12 Oktober 2023 ditemukan satu kasus, dan pada 19 Oktober 2023 kembali ditemukan satu kasus di Jakarta.
Hal tersebut diungkapkan Staf Teknis Komunikasi dan Transformasi Kesehatan Kemenkes RI, Ngabila Salama, melalui keterangan tertulis pada Jumat (20/10/2023).
Ngabila mengatakan, satu kasus cacar monyet yang ditemukan tahun lalu, merupakan import case. Karena penularan terjadi di luar negeri.
Baca Juga: Ed Sheeran Bakal Konser di Jakarta pada Maret 2024, Cek Harga Tiket dan Cara Belinya
Namun, pasien yang kali ini merupakan transmisi lokal. Karena tidak ada riwayat bepergian ke luar negeri atau luar kota.
"Pasien mengeluhkan demam dan lenting isi air dan koreng di beberapa bagian tubuh, dimulai dari kemaluan dan menyebar ke seluruh tubuh," kata Ngabila.
Gejala khas cacar monyet atau monkeypox, lanjut Ngabila, juga ditemukan pada pasien yang mengalami pembesaran kelenjar getah bening di lipat paha.
"Pasien dideteksi dini cepat dengan PCR, dan besoknya langsung dilakukan isolasi di salah satu RS di Jakarta sampai sembuh," tegasnya.
Butuh waktu 2-4 minggu untuk sembuh. Definisi sembuh, jika semua luka sudah kering sempurna dan muncul kulit baru.
"Pasien mendapat terapi terbaik dari konsultan ahli monkeypox dari spesialis penyakit dalam dan spesialis kulit kelamin FKUI-RSCM," katanya.
Ngabila mengatakan, Kementerian Kesehatan RI dan Dinkes DKI Jakarta dengan cepat melakukan pemantauan pada orang yang kontak erat dengan pasien. Pemantauan dilakukan setiap hari, untuk mengetahui apakah timbul gejala atau tidak.
"Pada kontak erat monkeypox, jika tidak bergejala maka tidak diperlukan isolasi mandiri. Investigasi kasus dilakukan aktif untuk menggali perjalanan penyakit dan sumber penularan agar penyebaran tidak terjadi dan memutus mata rantai penularan," katanya.
Dikatakan Ngabila, cacar monyet atau monkeypox ini penularannya melalui droplet berupa dahak atau bersin atau liur, yang mengkontaminasi lingkungan atau tangan, kontak kulit, kontak luka, cairan tubuh, dan kontak seksual.
Masa inkubasi cacar monyet atau monkeypox ini cukup panjang. Dari tertular sampai muncul gejala, bisa 3 hingga 21 hari. Namun yang tersering adalah 6 sampai 10 hari.
"Masyarakat jangan panik, akan tetapi perlu waspada. Lakukan beberapa cara mencegah sakit dan mencegah kematian," tegas Ngabila.
Ngabila berpesan, hindari komplikasi dan kematian dengan deteksi dini. Jika menemukan gejala monkeypox seperti demam, lenting isi air, luka pada kulit.
Apalagi, lanjutnya, apabila disertai gejala khas monkeypox yaitu ada benjolan atau pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, di leher, di selangkangan, atau di lipat paha, segera datang ke fasilitas kesehatan semua Puskesmas dan RS untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Bagi yang melakukan kontak erat dengan kasus positif monkeypox, maka segera lakukan pemeriksaan di lab. Hal ini untuk mendeteksi dan pengobatan dini.
"Pada kontak erat karena belum pernah ada gejala sama sekali, maka tidak dilakukan pemeriksaan swab orofaring atau tenggorokan, swab kulit, swab anus, dan pemeriksaan darah. Akan tetapi dipantau setiap hari, apakah ada gejala yang timbul. Jika muncul gejala akan dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut," terangnya.
Ngabila Salama pun memberitak tips cara mencegah dari tertular Cacar Monyet:
- Jaga kebersihan diri dengan rajin memakai masker dan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun terutama jika sedang sakit dan bertemu orang sakit
- Hindari kontak fisik dengan orang yang sedang sakit demam, bergejala kemerahan, jerawat, luka, lenting isi air di kulitnya
- Berhubungan seksual yang aman, bersih, sehat dengan menggunakan kondom.
- Jangan berhubungan seksual jika pasangan sakit, apalagi ada luka pada area kemaluan atau sedang mengalami infeksi menular seksual lainnya
- Hindari kontak wajah dengan wajah, mulut, kulit, dan barang sehari-hari yang dipakai penderita (alat mandi, alat tidur, dll).
"Vaksinasi monkeypox memang sudah ada di Indonesia, namun dengan jumlah terbatas dan hanya diperuntukkan untuk kelompok berisiko tinggi," pungkasnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








