SAMPAH atau rongsokan besi tua menggunung di gudang milik David. Jumlahnya Ratusan karung.
Bagi kebanyakan orang, ini adalah sampah. Tapi bagi David, ini adalah emas.
"Man, kamu bantu aku kerja jagain gudang ini?" Kata Mas David menawariku pekerjaan di perusahaannya.
"Soal gaji, nanti bisa dibicarakan dengan personalia."
Aku hanya mengangguk. Tidak secara tegas menjawab; iya atau tidak. Sebenarnya tekadku sudah bulat; aku ingin kuliah. Titik.
Ingin segera aku sampaikan niatku itu kepada Mas David. Tapi, dia lagi super sibuk.
David sedang mengawasi para pekerja yang sedang memindahkan karung-karung berisi rongsokan besi tua.
Dipindahkan dari gudang ke truk tronton. Selanjutnya, besi-besi tua itu akan didaur ulang.
Proses daur ulang besi dimulai dari pemilahan dengan 2 tahap; yaitu pemisahan secara magnetik dan manual.
Pemisahan magnetik bertujuan untuk memisahkan logam nonbesi dari logam besi. Setelah itu dilakukan pemisahan manual untuk memisahkan logam besi menjadi dua tahap.
Besi karbon rendah dan besi karbon tinggi. Logam karbon tinggi membutuhkan waktu lebih lama untuk mencair dan menghasilkan terak (slag) lebih tinggi.
Sedangkan besi karbon rendah menghasilkan terak (slag) lebih sedikit dan lebih cepat mencair.
Setelah proses pemisahan, kemudian dilakukan proses pemanasan dengan suhu 1550 sampai 1600 derajat celcius, untuk besi karbon rendah. Pemanasan dilakukan selama 1 hari.
Sedang untuk karbon tinggi, pemanasan di suhu di atas 1600 derajat celcius, dan selama lebih dari satu hari.
Hasilnya, kurang dari 7 % terak (slag) diproduksi dalam potongan logam berkualitas tinggi.
Sementara 7 % -15 % diproduksi dalam logam berkualitas rendah.
Terak (slag) ini banyak digunakan sebagai bahan untuk konstruksi jalan di berbagai negara.
Setelah proses pemanasan, kemudian dilakukan proses pendinginan selama 1 jam 30 menit.
Dari proses pendinginan tersebut, dihasilkan limbah/kotoran besi. Meskipun limbah, besi ini masih bisa digunakan. Yaitu dipanaskan lagi pada suhu 1000 derajat celcius selama satu hari dan didinginkan kembali.
Setelah itu, dilakukan proses penggilingan untuk menghasilkan batangan besi berkarbon tinggi dan rendah.
Begitu proses daur ulang besi tua, sebagaimana yang aku baca dari buku, saat aku tinggal sementara di rumah Haji Husain, lima bulan lalu.
Proses pemindahan besi tua dari gudang ke truk tronton telah selesai. David kembali ke ruang kerjanya. Aku pun mendatanginya.
Pertama, aku berterima kasih kepada David, karena telah menawariku pekerjaan sebagai penjaga gudang.
Namun, aku juga sampaikan niatku ingin kuliah. Aku ingin jadi sarjana.
"Serius, kamu mau melanjutkan kuliah?" tanya David.
"Serius, Mas. Aku sudah pikirkan matang-matang. Soal biaya, aku bisa cari sambil kerja."
"Oke, kalau begitu. Semoga tercapai apa yang kamu cita-citakan."
Sejak daftar kuliah, aku tak tinggal lagi di rumah David. Aku memilih tinggal di kawasan kumuh, sekitar rumah Pak Usman.
Aku membangun bedeng kecil di ujung barisan bedeng-bedeng lainnya. Luasnya hanya 3 x 5 meter.
Di sini, dulunya berdiri bedeng milik Pak Usman. Disediakan untuk putra keduanya. Tapi, sejak anaknya dapat kerjaan di kantoran, bedeng itu dibiarkan reot dan rubuh.
Aku bangun sendiri bedeng ini. Bermodal sisa gaji saat kerja jadi security. Setelah dikurangi untuk biaya daftar kuliah.
Aku membeli papan triplek dan kaso-kaso bekas di pangklong. Kemudian aku rakit dengan paku. Mendirikan bedeng, tak sesulit membangun gubuk tingkat yang biasa ayahku bangun di tengah sawah atau kebun.
Bedeng didirikan menempel di tanah. Lantainya langsung tanah. Tinggal difloor pakai semen.
Sementara gubuk, harus bertingkat. Lantainya dari anyaman bambu. Dulu, ketika ayahku membuat gubuk, aku suka diminta membantunya.
Bedengku tak jauh dari rumah Pak Usman. Hanya dipisahkan oleh tanah kosong seluas 60 meter persegi. Tanah kosong ini juga sudah dikuasai oleh Pak Usman.
Aku menyebutnya 'dikuasai', karena sesungguhnya tanah tersebut milik Pemda. Mulanya, masyarakat diizinkan menggarap lahan kosong tersebut untuk ditanami sayur-sayuran. Penggarap lahan membangun bedeng di area tanah kosong tersebut.
Lama kelamaan, banyak yang ikut membangun bedeng. Bahkan, ada centeng yang menjual-belikan tanah garapan itu. Tentu dengan harga yang sangat murah.
Tidak ada akte jual beli maupun surat menyurat yang sah dan berkekuatan hukum. Satu-satunya bukti jual beli hanyalah kwitansi yang ditandatangani di atas materai 6.000 saja. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Mampukah The Yellow Canaries Raih Kemenangan di Kandang Sendiri?
- 2Prediksi Skor Levski Sofia vs AEK Athens di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Momentum Tuan Rumah Jadi Ancaman Juara Liga Yunani
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Tuan Rumah Punya Rekor Impresif
- 6Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 7Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 8Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya



