Jakarta

NOVEL BAG.29 : Belajar dari Pemulung

Afriadi B | 28 Juni 2023, 14:45 WIB
NOVEL BAG.29 : Belajar dari Pemulung

PAGI masih buta. Burung Murai di sangkar kuning beradu kicau dengan Jalak Bali di sangkar hitam.

Ayam Pelung jantan menjerit, melengking, suara merdunya membangunkan manusia yang terlelap tidur di rumah David.

Aku bangun. Sholat subuh. Lalu, aku berjalan menyusuri arah matahari terbit. Menyongsong sang Surya, menghirup embun pagi nan segar.

Sekitar satu kilometer dari rumah David, aku melihat seorang pria tua sedang mengais rezeki. Berjalan membungkuk-bungkuk, dengan menggendong karung. Dipunguti sampah plastik dan kertas. Dimasukkan ke karung.

Mengaduk-aduk tempat sampah. Masuk got atau gorong-gorong. Berkubang di gunungan sampah. Tak peduli kotor, bau busuk, dan basah. Orang kota menyebutnya: pemulung.

Aku menghampiri seorang laki-laki tua itu. Sedang istirahat. Duduk di bangku reot. Karung dan gancu digeletakkan di tanah. Di bawah pohon Trembesi. Di pinggir jalan kampung. Dibuka bungkusan plastik hitam berisi tuperware. Pak tua sarapan pagi.

Tangannya yang kurus, dengan tonjolan tulang yang tak banyak lagi diselimuti oleh daging, telah menunjukan dengan jelas, bahwa ia bekerja keras, berusaha maksimal untuk bertahan hidup.

Ia mengais sampah untuk memastikan bahwa rejekinya masih ada. Ia berusaha memastikan bahwa rejekinya masih belum sampai kepada batas akhir.

Ia tampaknya tahu, mengerti, dan faham bahwa kehidupan itu ditentukan oleh batas rejeki. Ketika rejeki telah habis, telah sampai kepada batas maksimum, maka ketika itulah batas umur manusia berakhir. Ia faham tentang itu.

Itu sebabnya, ia berjuang untuk tetap bertahan agar sampai kepada batas maksimun rejekinya.

Ia faham bahwa kerut kulit di sekujur tubuhnya belum akan berakhir, kalau rejekinya masih mengalir.

Dan ia ingin membuktikan hal itu, dengan cara bahwa setiap hari ia harus mencari dan mengumpulkan sampah-sampah plastik dan kertas.

Siapa tahu kehidupan bagi dirinya masih bisa berlangsung. Kehidupan yang misterius bagi dirinya dan bagi kita semua.

Kelelahan dan keletihan tampak jelas di raut wajahnya. Seolah menggambarkan, masih tersisa jarak yang cukup jauh untuk berlari agar mencapai finish.

Walaupun ia tahu bahwa finish atau batas akhir kilometer nol itu, tak akan lama lagi. Bila melihat jatah umur junjungannya Nabi Muhammad SAW saja, hanya 63 tahun.

"Assalamu'alaikum, Pak." aku menyapanya.

"Wa'alaikum salam." Jawab bapak tua, sembari menenggak air minum.

"Apa kabar, Pak? Sehat?" tanyaku sok akrab. Padahal, kenal juga belum.

Pak tua itu menyudahi makan paginya. Bangkit dari bangku reot, lalu menuangkan sebagian air minumnya ke tangannya.

"Alhamdulillah, sehat wal afiat."

Pak tua itu kembali duduk. Dicomotnya sebatang rokok kretek dari kantongnya.

"Adik ini siapa ya? Maaf, bapak udah tua. Jadi, kadang-kadang suka lupa. He..he..he.."

"Saya Rahman, Pak. Saya orang baru. Tinggal di rumah Mas David."

Pak Tua menyulut rokoknya dengan korek. Lalu menghisapnya dalam-dalam. Dihembuskan ke udara. Kepulan asap dari mulut Pak Tua, terbang mengangkasa.

"Oh, saudaranya juragan David." katanya datar.

"Bapak kenal?"

"Ya kenal lah. Siapa pemulung di sini yang nggak kenal sama juragan David. Semuanya juga kenal. Lah wong dia itu bosnya kita-kita."

Pagi itu, aku ngobrol ngalor-ngidul dengan Pak tua, yang belakangan aku ketahui bernama Usman. Umurnya 63 tahun. Sudah 20 tahun Pak Usman memulung di kawasan tersebut. Sudah kenyang asam-garam.

Hampir setengah jam kami berbincang. Pak Usman bangkit dari duduk. Ia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan memulung.

"Mampir ke rumahku, Dik." Pak Usman mengajakku.

"Loh, nggak jadi lanjut kerja, Pak.?"

"Nggak. Bapak lagi mager (males gerak)."

Aku pun mengikuti langkah Pak Usman, menyusuri jalan kampung, menuju tempat tinggalnya.

Kawasan tersebut sangat padat. Rumah-rumah semi permanen berdesakan tak beraturan. Kumuh dan kotor. Kabel-kabel listrik berserakan.

Anak-anak kecil bertelanjang kaki, berlarian kejar-kejaran. Di kanan dan kiri jalan, berderet warung-warung kecil penjual makanan dan minuman.

Ada satu - dua rumah permanen yang tampak menonjol di antara lainnya. Ini adalah rumah kontrakan. Pak Usman tinggal di deretan rumah permanen ini.

Di ujung jalan, terdapat hamparan tanah kosong. Sangat luas. Menurut Pak Usman, dulunya luas tanah kosong tersebut sekitar 20 hektar. Itu tanah milik Pemda. Sebagian ada juga tanah milik pengusaha.

Sudah sejak puluhan tahun lalu, tanah tersebut tak diurus. Dulunya, tanah tersebut berbentuk rawa-rawa. Sempat ditanami sayur-sayuran. Tapi tak bertahan lama.

Lalu, dijadikan tempat pembuangan sampah liar. Gunungan sampah yang ada di tengah-tengah lahan kosong itulah yang memancing banyak pemulung mendatanginya.

Puluhan pemulung itu kemudian membuat bedeng-bedeng dari triplek dan kayu bekas. Atapnya dari seng bekas. Juga ada yang dari plastik terpal bekas, spanduk atau poster baliho.

Awalnya hanya puluhan bedeng. Namun setelah pemulung beranak-pinak, maka sekarang jumlahnya ratusan. Kecil-kecil. Rata-rata berukuran 3x5 meter. Semerawut.

Bahkan, kini tak hanya pemulung yang menempati kawasan ini. Macam-macam pekerjaannya. Ada pengamen, pedagang asongan, pengecer koran, pengemis bahkan pengangguran.

Kondisi permukiman pemulung di bedeng ini, memang sangat jauh berbeda daripada di rumah kontrakan.

Sampah-sampah berserakan di sekeliling bedeng. Bahkan pada beberapa bedeng, sampah tersebut tampak menghimpit dinding-dinding dan pintu bedeng.

Pak Usman bercerita, para pemulung biasanya memilah-milah sampah plastik dan kertas dari gunungan sampah yang di tengah lahan kosong tersebut. Tapi, banyak juga yang mencari di luar. Di pemukiman warga dan di bak sampah.

Hasilnya, dijual ke pengepul. Masih di lokasi yang sama. Selanjutnya, pengepul akan memilah-milah sampah berdasarkan jenis dan kategorinya.

"Kalau besi bekas itu kita ngejualnya ke juragan David. Dia cuma terima besi bekas saja. Nggak beli plastik atau kertas. Kalau plastik dan kertas, kita ngejualnya ke pedagang lain," kata Pak Usman.

Pendapatan pemulung, kata Pak Usman, cukup lumayan. Cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Satu jam mencari sampah, bisa dapat satu liter beras. Enaknya, kita ggak ada yang nyuruh-nyuruh. Yang penting dapat beras seliter, dah cukup buat makan sekeluarga. Kalau mau lebih, ya carinya juga harus lebih banyak."

Dahulu, waktu masih muda, Pak Usman sudah malang-melintang di dunia kerja. Pernah jadi pelayan toko, sopir, tukang bangunan, sampai security atau Satpam.

"Daripada gaji gede tapi diatur orang, kan pusing. Mending cari uang dengan cara mungutin sampah. Rezekinya halal, hidupnya tenang,” ujarnya.

Ungkapan lelaki 63 tahun itu, secara karikatural meringkas sebuah persoalan tentang pilihan hidup.

Daripada bekerja secara formal dengan aturan rumit yang kerap menekan, banyak orang yang memang secara sadar menetapkan pilihan menjadi wirausaha.

Bagi yang tidak punya modal usaha, memilih jadi pemulung. Pekerjaan yang kerap dipandang sebelah mata oleh orang kebanyakan.

Aku melihat, ada kontradiksi kehidupan antara warga ibu kota yang membuang sampah sebagai jejak hidup, dengan para pemulung yang memungutnya.

Tapi tak sedikit dari mereka yang berhasil mengubah nasib. Seperti Pak Usman. Dari hasil memulung, ia dapat menghidupi keluarga dan modal usaha warung makan di teras rumahnya.

Bahkan, mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Bermodal pendidikan, anak-anak Pak Usman mendapat pekerjaan yang lebih baik. Tak ada anaknya yang mengikuti jejak ayahnya menjadi pemulung.

Cerita Pak Usman ini menginspirasi diriku. Aku ingin kuliah. Sekalipun aku harus menjadi pemulung. (Bersambung)
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.