Jakarta

Awalnya Khawatir Jadi Minoritas, Mahasiswa Non-Muslim Ini Justru Nyaman Kuliah S3 di UIN Jakarta

Anggerhana Denni Rahmawati | 9 September 2026, 20:15 WIB
Awalnya Khawatir Jadi Minoritas, Mahasiswa Non-Muslim Ini Justru Nyaman Kuliah S3 di UIN Jakarta
Mahasiswa non-muslim menyelesaikan kuliah S3 di UIN Jakarta. - UIN Jakarta

AKURAT JAKARTA - Menjadi mahasiswa non-Muslim di perguruan tinggi yang identik dengan pendidikan Islam mungkin bukan pilihan yang langsung terasa mudah.

Kekhawatiran mengenai penerimaan dan posisi sebagai kelompok minoritas bisa saja muncul sebelum seseorang benar-benar memasuki lingkungan kampus.

Hal itu dirasakan Dr. Ivon Rahmani, S.Th., M.Th., yang baru menyelesaikan pendidikan doktoral di Program Doktor Pengkajian Islam UIN Jakarta.

Dengan latar belakang non-Muslim, Ivon memilih UIN Jakarta karena melihat kampus tersebut sebagai ruang yang terbuka terhadap keberagaman dan dialog antaragama.

“Saya tertarik untuk masuk ke UIN Jakarta mengambil program doktoral karena melihat UIN Jakarta sebagai institusi yang sangat terbuka terhadap dialog keberagaman agama dari berbagai macam denominasi agama yang ada,” ujar Ivon dikutip dari laman UIN Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Keputusan tersebut ternyata sempat diiringi kecemasan.

Ivon mengaku sempat mempertanyakan apakah dirinya dapat diterima dengan baik sebagai mahasiswa non-Muslim di lingkungan PTKIN.

“Awalnya mengalami tantangan dan ada sedikit kecemasan apakah saya diterima atau tidak. Tetapi seiring berjalannya waktu, ternyata kampus UIN Jakarta menerima saya dengan sangat terbuka dan sangat baik,” tuturnya.

Pengalaman itu kemudian mengubah cara Ivon memandang proses pendidikan.

Menurut dia, seseorang tidak harus selalu belajar bersama orang-orang yang memiliki latar belakang sama.

Baca Juga: Bukan Cuma Bawa Desain Lebih Sporty, Honda Supra X Cross 125 Juga Mengadopsi Dapur Pacu Lebih Bertenaga dengan Manuver Jempolan!

Justru perbedaan lingkungan dapat memberikan pengalaman dan perspektif baru.

“Kita tidak perlu hanya belajar di ruang yang sama, yang familier, atau dengan latar belakang yang sama. Kita bisa belajar di mana pun, termasuk di lingkungan yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan kita,” katanya.

Pengalaman serupa dialami mahasiswa non-Muslim lainnya

Pengalaman Ivon bukan satu-satunya cerita mahasiswa non-Muslim yang menempuh pendidikan di UIN Jakarta.

Sebelumnya, Dr. Bara Izzat Wiwah Handaru, S.Th., M.Th. juga menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.