Jakarta

Dari Desa di Tepi Waduk Kedungombo, Kisah Ibrahim Bocah SD Boyolali Buktikan Belajar Mandiri Bisa Tembus NASA

Anggerhana Denni Rahmawati | 18 Juli 2026, 20:15 WIB
Dari Desa di Tepi Waduk Kedungombo, Kisah Ibrahim Bocah SD Boyolali Buktikan Belajar Mandiri Bisa Tembus NASA
Anak desa, belajar otodidak, lalu diapresiasi NASA, kisah Ibra jadi inspirasi.

AKURAT JAKARTA - Tidak semua prestasi lahir dari sekolah dengan laboratorium canggih atau akses teknologi yang lengkap.

Kisah Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SD Negeri 3 Genengsari, Boyolali, menunjukkan bahwa rasa ingin tahu dan semangat belajar dapat membuka jalan menuju pengakuan dunia.

Bocah berusia 11 tahun itu berhasil menerima surat apresiasi dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) setelah melaporkan temuan celah keamanan pada sistem publik lembaga antariksa Amerika Serikat.

Pencapaian tersebut terasa istimewa karena Ibra berasal dari desa di kawasan pinggiran Waduk Kedungombo, jauh dari pusat kota maupun lingkungan yang identik dengan industri teknologi.

Perjalanan itu berawal dari kebiasaan bermain gim di telepon genggam.

Alih-alih melarang, sang ayah justru mengajak Ibra mencoba membuat gim sendiri.

Dari situlah ketertarikannya terhadap dunia pemrograman mulai tumbuh.

Sejak kelas 4 SD, Ibra belajar secara autodidak melalui video di YouTube, berbagai sumber di internet, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai pendamping belajar.

Dalam beberapa bulan terakhir, fokusnya beralih ke bidang keamanan siber.

Menariknya, kemampuan tersebut tidak diperoleh melalui kursus khusus.

Baca Juga: PIK Ubah Cara Pandang Liburan, Wisata Tanpa Harus Mengorbankan Waktu Beribadah

=====

Bahkan sang ayah yang memiliki latar belakang teknologi informasi mengaku tidak memiliki keahlian di bidang keamanan siber sehingga Ibra benar-benar membangun pengetahuannya secara mandiri.

Dukungan keluarga diberikan sesuai kemampuan.

Berawal dari belajar menggunakan telepon genggam, kemudian komputer bekas, hingga akhirnya memiliki laptop untuk mendukung proses belajarnya.

Kisah Ibra menjadi contoh bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara anak belajar.

Kini, akses terhadap ilmu pengetahuan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada lokasi atau fasilitas sekolah, tetapi juga pada kemauan untuk terus belajar dan memanfaatkan sumber belajar digital secara positif.

Prestasi yang diraih Ibra sekaligus menjadi pengingat bahwa talenta-talenta digital dapat lahir dari mana saja, termasuk dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk pusat teknologi. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.