Jakarta

Rambut Boleh Dipotong, Rasa Malu Jangan: Cara SMA Labschool Ajarkan Disiplin Tanpa Perpeloncoan saat MPLS

Anggerhana Denni Rahmawati | 13 Juli 2026, 19:15 WIB
Rambut Boleh Dipotong, Rasa Malu Jangan: Cara SMA Labschool Ajarkan Disiplin Tanpa Perpeloncoan saat MPLS
Ilustrasi cukur rambut.

AKURAT JAKARTA - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sering kali identik dengan aturan yang harus dipatuhi siswa baru.

Namun, cara sekolah menegakkan aturan juga menjadi sorotan.

Di tengah larangan perpeloncoan dalam MPLS, SMA Labschool Kebayoran memilih pendekatan yang lebih edukatif ketika menemukan murid baru belum memenuhi ketentuan kerapian rambut.

Alih-alih memberikan hukuman yang mempermalukan siswa di depan teman-temannya, sekolah justru menghadirkan barber untuk membantu merapikan rambut murid agar sesuai dengan tata tertib.

Langkah ini menjadi contoh bahwa penegakan disiplin tidak harus dilakukan dengan cara yang menimbulkan trauma atau rasa takut.

Selama pelaksanaan MPLS, SMA Labschool Kebayoran berpedoman pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.

Selain itu, sekolah juga memiliki pedoman internal yang mengatur berbagai aspek kegiatan, termasuk penggunaan atribut dan standar kerapian siswa.

Pada hari pertama sekolah, sejumlah murid diketahui datang dengan potongan rambut yang belum sesuai ketentuan.

Daripada meminta siswa mencari tempat cukur sendiri atau memberikan sanksi yang berlebihan, sekolah menyediakan layanan barber sehingga pelanggaran dapat langsung diselesaikan di lokasi.

Melalui cara tersebut, siswa tetap menerima konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukan, tetapi dalam suasana yang lebih positif.

Baca Juga: Alumni BINUS Menang di Kompetisi Dunia, Ternyata Bukan Bakat yang Paling Menentukan

=====

Pendekatan ini juga menjadi pengingat bahwa aturan sekolah dibuat untuk dipatuhi, sekaligus menunjukkan bahwa disiplin dapat diajarkan tanpa kekerasan maupun perpeloncoan.

Selain memperkenalkan tata tertib, MPLS juga diisi dengan berbagai materi mengenai kehidupan sekolah.

Murid baru mendapatkan penjelasan mengenai hak dan kewajiban sebagai peserta didik, aturan penggunaan atribut, hingga mekanisme pemberian surat peringatan apabila terjadi pelanggaran di kemudian hari.

Tak hanya berisi kegiatan di dalam kelas, rangkaian MPLS selama lima hari juga menghadirkan aktivitas yang lebih menyenangkan.

Para siswa akan mengikuti kegiatan olahraga, pentas seni, hingga penutupan berupa kunjungan ke taman yang dikemas sebagai ajang kebersamaan antarsiswa.

Bagi para murid baru, kegiatan di luar kelas tersebut menjadi salah satu momen yang paling dinantikan.

Selain menjadi kesempatan mengenal teman baru, aktivitas tersebut diharapkan mampu membangun kerja sama, rasa percaya diri, dan semangat menjadi bagian dari keluarga besar sekolah.

Pendekatan yang diterapkan SMA Labschool Kebayoran menunjukkan bahwa disiplin dan kenyamanan siswa tidak harus saling bertentangan.

Ketika aturan ditegakkan dengan cara yang manusiawi, siswa bukan hanya belajar menaati tata tertib, tetapi juga memahami bahwa sekolah merupakan tempat yang aman untuk tumbuh, belajar, dan berkembang. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.