Jakarta

Rela Digusur Demi Sudahi Banjir, Warga Cawang Terdampak Normalisasi Kali Ciliwung Harap Kepastian Ganti Rugi

Laode Akbar | 10 Juli 2026, 16:49 WIB
Rela Digusur Demi Sudahi Banjir, Warga Cawang Terdampak Normalisasi Kali Ciliwung Harap Kepastian Ganti Rugi
Bangunan warga di RT 15 Kelurahan Cawang, Jakarta Timur, yang akan digusur imbas program normalisasi Kali Ciliwung (Laode/Akurat Jakarta)

AKURAT JAKARTA – Program normalisasi Kali Ciliwung di Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, membawa harapan sekaligus kegelisahan bagi warga yang rumahnya terdampak pembebasan lahan.

Bagi Eva (35), warga RT 15 Cawang, banjir sudah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil.

Lahir dan besar di kawasan tersebut, ia mengaku hampir setiap musim hujan harus bersiap menghadapi luapan air kiriman dari Bogor dan Depok.

Baca Juga: Di Balik 162 Ijazah yang Tertahan, Inilah Kisah Perjuangan Alumni dan Sekolah yang Sama-Sama Bertahan

"Sering banjir. Kalau Depok sama Bogor hujan, ya otomatis kita terdampak," kata Eva kepada Akurat Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Meski rumahnya masuk dalam area yang akan dibebaskan untuk normalisasi sungai, Eva memilih mendukung kebijakan pemerintah.

Menurutnya, warga sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan ancaman banjir.

"Kalau dari pemerintah sudah disuruh keluar, ya kita ikutin saja. Kita mendukung saja," ujarnya.

Eva mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menyampaikan bahwa warga akan menerima ganti rugi berupa uang.

Namun hingga kini ia masih mencari tempat tinggal baru karena tidak berencana pindah ke rumah susun.

"Aku enggak ke rusun. Paling cari rumah kampung lagi, cuma masih mencari, belum tahu di mana," katanya.

Baca Juga: Satu RT di Cawang Bakal Hilang Imbas Normalisasi Kali Ciliwung, Pemprov DKI Targetkan Pembebasan 170 Rumah

Baginya, yang paling penting adalah percepatan penyelesaian proses normalisasi agar warga tidak lagi dihantui banjir setiap tahun.

"Harapannya dipercepat saja. Warga sudah lelah karena banjir terus. Rumah kami paling belakang, jadi lumpurnya tinggi, bisa sampai sebetis bahkan di atas lutut. Kalau warga di sini mendukung, enggak ada kendala, cuma maunya dipercepat saja," ucap Eva.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.