Jakarta

Kemdiktisaintek Akan Tutup Prodi Tak Relevan, Berikut 20 Prodi dengan Lulusan Terbanyak di Indonesia

M Rahman Akurat | 27 April 2026, 14:16 WIB
Kemdiktisaintek Akan Tutup Prodi Tak Relevan, Berikut 20 Prodi dengan Lulusan Terbanyak di Indonesia
Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco.

AKURAT JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berencana melakukan langkah berani dengan menutup sejumlah program studi (prodi) di perguruan tinggi.

Langkah ini diambil karena banyak prodi dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri strategis nasional.

Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengungkapkan bahwa ke depannya prodi-prodi akan difokuskan pada 8 bidang industri strategis, yakni: kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, hilirisasi, pertahanan, material maju & manufaktur, energi, serta maritim.

Baca Juga: Pemprov DKI Tambah 63 Sekolah Swasta Gratis Mulai Juli 2026, Total Anggaran Capai Rp 253,6 Miliar

"Ada 8 industri strategis yang perlu ditumbuhkan, kalau bisa pertumbuhannya di atas 12-15%," ujar Badri dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026, Senin (27/4/2026).

Krisis Lulusan Keguruan Surplus 470 Ribu Orang

Badri menyoroti adanya ketimpangan tajam antara jumlah lulusan dengan kebutuhan lapangan kerja (oversupply), terutama di bidang kependidikan.

"Keguruan kita meluluskan tiap tahun 490 ribu orang. Sementara, kebutuhan untuk lulusan keguruan hanya 20 ribu," ungkapnya.

Berdasarkan Statistik Pendidikan Tinggi 2024, bidang ilmu pendidikan, ekonomi, dan sosial masih mendominasi jumlah lulusan terbanyak di Indonesia.

Baca Juga: Hadiri Pernikahan El Rumi-Syifa Hadju, Presiden Prabowo: Ahmad Dhani Sahabat Baik Saya

Berikut 20 prodi dengan lulusan terbanyak di Indonesia Tahun Ajaran 2023/2024:

  1. Pendidikan profesi guru: 162.521 mahasiswa

  2. Manajemen: 151.679 mahasiswa

  3. Akuntansi: 68.015 mahasiswa

  4. Pendidikan guru sekolah dasar: 61.756 mahasiswa

  5. Ilmu hukum: 54.887 mahasiswa

  6. Pendidikan agama Islam: 52.798 mahasiswa

  7. Kebidanan: 36.899 mahasiswa

  8. Teknik informatika: 35.919 mahasiswa

  9. Ilmu komunikasi: 33.704 mahasiswa

  10. Keperawatan: 32.475 mahasiswa

  11. Farmasi: 29.183 mahasiswa

  12. Teknik sipil: 27.304 mahasiswa

  13. Sistem informasi: 25.866 mahasiswa

  14. Ilmu keperawatan: 24.937 mahasiswa

  15. Pendidikan profesi bidan: 21.467 mahasiswa

  16. Psikologi: 19.958 mahasiswa

  17. Hukum: 18.825 mahasiswa

  18. Pendidikan bahasa Inggris: 18.139 mahasiswa

  19. Profesi ners: 16.128 mahasiswa

  20. Ekonomi syariah: 15.077 mahasiswa.

Baca Juga: Tingkatkan Kemudahan Multitasking, WhatsApp Uji Fitur Gelembung Notifikasi di Android

Kritik Pedas: Kampus Bukan Pabrik Buruh

Rencana penutupan prodi ini mendapat tanggapan kritis dari pengamat pendidikan Vox Populi Institute Indonesia, Indra Charismiadji.

Meski setuju dengan penyelarasan dunia kerja, Indra mempertanyakan transparansi kajian akademis di balik kebijakan tersebut.

"Bagaimana mungkin pemerintah menutup pintu-pintu ilmu tanpa tahu rumah industri apa yang ingin dibangun 20 tahun ke depan?" kritik Indra.

Ia mengibaratkan kebijakan ini seperti menebang pohon tanpa rencana penanaman kembali.

Menurutnya, pemerintah seharusnya fokus membangun ekosistem industri terlebih dahulu agar lulusan prodi spesifik, seperti Biologi Maritim, bisa terserap.

Lebih lanjut, Indra mengingatkan agar pemerintah tidak menyempitkan fungsi perguruan tinggi hanya sebagai lembaga pelatihan kerja atau pabrik buruh.

Baca Juga: Gerebek Pesta Sabu di Pinggir Rel Tanah Abang, Polisi Amankan Sembilan Orang

"Kemdiktisaintek harus berhenti memandang kampus sebagai pabrik buruh. Fokuslah pada reformasi kurikulum Society 5.0, di mana teknologi adalah pekerja dan manusia adalah inovator," tegasnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.