Jakarta

Asal Usul Condet di Jakarta Timur: Diambil dari Nama Pangeran, Semasa Gubernur Ali Sadikin Pernah Berstatus Cagar Budaya Masyarakat Betawi

Fikri Hidayatulloh | 15 April 2024, 11:45 WIB
Asal Usul Condet di Jakarta Timur: Diambil dari Nama Pangeran, Semasa Gubernur Ali Sadikin Pernah Berstatus Cagar Budaya Masyarakat Betawi

AKURAT JAKARTA - Di Jakarta Timur, ada daerah yang bernama Condet.

Dulu, Condet terkenal sebagai daerah penghasil buah duku dan salak.

Namun, seiring kemajuan Jakarta, kebun-kebun duku dan salak berganti menjadi permukiman penduduk.

Baca Juga: Berikut Ini adalah Cara Mendaftar Sebagai Pembeli Elpiji 3 Kg

Condet juga pernah menjadi kawasan cagar budaya masyarakat Betawi semasa Gubernur Ali Sadikin.

Namun, status cagar budaya tidak berlanjut karena proporsi masyarakat Betawi di sana semakin berkurang, sementara masyarakat pendatang terus bertambah.

Dikutip dari Buku SAHABATKU INDONESIA terbitan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan 2019, nama Condet diambil dari nama seorang pangeran yang hidup di abad ke-18 masehi.

Baca Juga: Masih ada Sekitar 500 Ribuan Pemudik yang Belum Balik ke Jakarta

Pangeran itu bernama Geger. Namun, berhubung memiliki bekas luka di dadi, Geger dikenal masyarakat setempat sebagai Pangeran Codet.

Pangeran Codet memiliki putri bernama Maemunah. Suatu hari, pemuda bernama Astawana menikahi Maemunah.

Astawana membuatkan Maemunah dua rumah di dua tempat yang sekarang bernama Balekambang dan Batu Ampar.

Baca Juga: Jangan Pulang ke Jakarta Dulu! Manfaatkan Diskon Tarif Tol Tanggal 17-19 April 2024

Rumah untuk Maemunah dibangun dengan pepohonan rindang dan rerumputan hijau di sekitarnya.

Selang beberapa waktu Pangeran Codet wafat. Maemunah lalu didaulat menjadi penguasa di bekas wilayah Pangeran Codet.

Daerah kekuasaan Maemunah di wilayah Codet, lama-kelamaan diucapkan dengan nama Condet.

Baca Juga: Tenang Saja, Ganjil Genap di Jakarta Belum Diberlakukan pada Libur Terakhir Lebaran

Namun, ketenteraman masyarakat Condet diusik oleh kedatangan kompeni yang terus-menerus merampas tanah penduduk.

Jika ada penduduk yang melawan, kompeni tidak segan membunuh mereka.

Seorang kompeni bernama Jan Ament diberi tugas mengintai Maemunah untuk merampas tanah hartanya.

Baca Juga: One Way Arus Balik Lebaran 2024 di KM 414 Hingga KM 72 Tol Cipali Diperpanjang

Dengan cara licik, ia mengalahkan Astawana dan menjadi penguasa di Condet, sementara masyarakat setempat dipaksa melakukan kerja paksa.

Akhirnya, masyarakat Condet bersepakat melakukan perlawanan terhadap Kompeni.

Pada suatu serangan, masyarakat Condet berhasil memporak-porandakan pertahanan Kompeni dan membuat penjajah itu lari tunggang-langgang.

Baca Juga: Asal-usul Julukan Macan Kemayoran untuk Persija Jakarta, Berakar dari Kisah Jawara Betawi di Masa Penjajahan Kompeni

Namun, masyarakat Condet akhirnya kalah setelah kompeni mendapat bantuan pasukan.

Bahkan, Astawana pun tewas tertembus peluru, sementara para pengikutnya ditangkap dan dimasukkan ke penjara.

Tanah Condet kembali menjadi milik rakyat setelah Indonesia merdeka.

Saat ini Kampung Condet di Kelurahan Balekambang dan Kampung Gedong di Kelurahan Batuampar dipisahkan oleh Jalan Raya Condet.*

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.