Jakarta

Fakta di Balik Pintu Pendek Museum Bahari, Bukti Nyata Jakarta Alami Penurunan Tanah

Anggerhana Denni Rahmawati | 19 Juli 2026, 06:30 WIB
Fakta di Balik Pintu Pendek Museum Bahari, Bukti Nyata Jakarta Alami Penurunan Tanah
Museum Bahari

AKURAT JAKARTA - Banyak orang mengira pintu masuk Museum Bahari di Jakarta Utara sengaja dibuat pendek karena mengikuti gaya arsitektur bangunan tua.

Padahal, kondisi tersebut justru menyimpan cerita lain yang jauh lebih besar tentang perubahan wajah Jakarta.

Pintu Museum Bahari menjadi salah satu bukti nyata bahwa penurunan tanah di Jakarta bukan sekadar angka dalam laporan penelitian, tetapi sudah meninggalkan jejak yang dapat dilihat langsung oleh masyarakat.

Bangunan yang dahulu berdiri sejajar dengan jalan raya kini justru berada lebih rendah, sehingga pengunjung harus menuruni anak tangga untuk memasukinya.

Pemandu wisata Museum Bahari, Firman Faturrohman, menjelaskan bahwa pada awal abad ke-20 kondisi pintu museum sangat berbeda dengan sekarang.

Saat itu, posisi pintu sejajar dengan jalan dan memiliki ruang yang tinggi sehingga orang bertubuh tinggi pun dapat melintas dengan nyaman.

"Kalau pernah dengar Jakarta terjadi penurunan tanah tiap tahun, itu juga terjadi di Museum Bahari, tanahnya makin turun, sering banjir, jadilah dinaikkan tanahnya, sampai 120 sentimeter," kata Firman saat memberikan penjelasan kepada pengunjung.

Menurut Firman, sekitar tahun 1900 hingga 1940-an, tembok yang menghadap jalan memiliki ketinggian sekitar tiga hingga empat meter.

Pintu masuk terlihat proporsional dengan kondisi jalan saat itu dan tidak berada di bawah permukaan jalan seperti sekarang.

Namun, seiring berjalannya waktu, kawasan pesisir Jakarta mengalami penurunan muka tanah yang diikuti banjir berulang.

Baca Juga: PIK Ubah Cara Pandang Liburan, Wisata Tanpa Harus Mengorbankan Waktu Beribadah

=====

Untuk mengurangi dampak genangan, pemerintah beberapa kali melakukan peninggian permukaan jalan dan area di sekitar museum hingga mencapai sekitar 120 sentimeter.

Akibatnya, elevasi jalan saat ini menjadi lebih tinggi dibandingkan lantai asli Museum Bahari.

Kondisi inilah yang membuat pintu masuk terlihat lebih pendek, padahal ukuran bangunannya sama sekali tidak berubah sejak ratusan tahun lalu.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa penurunan tanah telah memberikan dampak nyata terhadap bangunan-bangunan bersejarah di Jakarta.

Museum Bahari menjadi salah satu contoh yang paling mudah diamati karena perubahan elevasinya terlihat jelas oleh setiap pengunjung.

Menariknya, struktur asli bangunan tetap dipertahankan sebagai bagian dari upaya pelestarian cagar budaya peninggalan VOC di kawasan Sunda Kelapa.

Alih-alih mengubah bentuk bangunan, penyesuaian dilakukan pada lingkungan di sekitarnya agar museum tetap dapat digunakan meski permukaan tanah terus berubah.

Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penurunan tanah bukan hanya persoalan masa depan, tetapi sudah berlangsung selama puluhan tahun dan meninggalkan jejak pada bangunan-bangunan bersejarah di ibu kota.

Karena itu, ketika melihat pintu Museum Bahari yang tampak lebih pendek dari bangunan pada umumnya, pengunjung sebenarnya sedang menyaksikan salah satu bukti paling nyata bagaimana Jakarta perlahan berubah akibat penurunan muka tanah.

Bangunan tersebut tidak mengecil, tetapi permukaan kota di sekitarnya yang terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.