Borobudur Sunrise Resmi Dibuka Lagi, Rasakan Magis Matahari Terbit dari Puncak Candi

AKURAT JAKARTA - Kabar baik datang bagi kamu yang rindu menikmati pesona magis matahari terbit di Candi Borobudur.
Melalui program “Borobudur Sunrise”, wisatawan kini kembali bisa merasakan pengalaman spiritual dan estetika yang luar biasa di salah satu situs warisan dunia paling ikonik di Indonesia.
Program ini resmi dibuka oleh InJourney Destination Management melalui anak perusahaannya, PT Taman Wisata Borobudur (TWB), setelah sempat terhenti sejak tahun 2020.
Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan, menjelaskan bahwa kembalinya program ini bukan hanya untuk menarik wisatawan, tetapi juga bagian dari misi besar pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat lokal.
“Kami ingin memberikan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk merasakan pengalaman yang lebih bermakna melalui program 'Borobudur Sunrise'. Selain menjadi daya tarik utama, hal ini juga memperkuat misi pelestarian warisan budaya serta memberi dampak ekonomi bagi pelaku UMKM di kawasan,” ungkapnya.
Program ini dihidupkan kembali berkat kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan RI, Pemerintah Kabupaten Magelang, dan pelaku wisata seperti ASITA.
Baca Juga: 5 Bandara Dunia di Luar Negara Islam yang Paling Ramah Wisatawan Muslim
Pendekatan lintas sektor tersebut memastikan pengelolaan pariwisata dilakukan sesuai prinsip konservasi dan etika keberlanjutan.
Bayangkan kamu berdiri di antara stupa-stupa megah, diselimuti kabut tipis, sambil menyaksikan langit perlahan berubah warna oranye keemasan.
Dari puncak candi, siluet Gunung Merapi dan Merbabu tampak gagah menyambut sinar mentari pertama — sebuah momen yang tak hanya indah, tapi juga sarat makna spiritual dan refleksi diri.
Baca Juga: Hutan Kota Srengseng, Tempat Sampah yang Disulap Jadi Surga Hijau Jakarta Barat
Perjalanan “Borobudur Sunrise” dimulai dari Pintu 7 Taman Wisata Candi Borobudur pada pukul 04.00 WIB, dilengkapi senter dan alas kaki kain (upanat).
Tepat pukul 05.00 WIB, kamu sudah berada di lantai 9 candi — titik terbaik untuk menikmati keajaiban fajar.
Setelah itu, pengalaman dilengkapi dengan sarapan khas lokal di Bukit Dagi, di tengah pemandangan alam yang menakjubkan.
Demi menjaga kelestarian situs, kuota pengunjung dibatasi hanya 100 orang per hari, dengan harga tiket Rp 1 juta.
Semua wisatawan diwajibkan mengenakan upanat agar struktur batu candi tetap terjaga.
Program ini juga menjadi bentuk nyata upaya pemerintah dalam menyeimbangkan antara pariwisata dan pelestarian warisan budaya.
Lebih dari sekadar panorama, “Borobudur Sunrise” juga menjadi harapan baru bagi kebangkitan ekonomi masyarakat sekitar.
Pelaku UMKM, pengrajin lokal, dan Kampung Seni Borobudur kembali mendapat peluang untuk tumbuh melalui sinergi wisata budaya yang berkelanjutan.
“Pelajar kini juga bisa naik candi setiap hari. Kami ingin menjadikan mereka bagian dari regenerasi wisata budaya,” tutup Febrina. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





