Menyusuri Glodok, Jantung Pecinan Tertua di Jakarta yang Penuh Warisan dan Cita Rasa

AKURAT JAKARTA - Langkah kaki kami menyusuri Jalan Pancoran terasa seperti melintasi lorong waktu. Dari deretan ruko tua bergaya kolonial, aroma dupa yang menyatu dengan wangi kue keranjang, hingga teriakan pedagang kaki lima menawarkan barang dagangan.
Glodok bukan hanya sekadar kawasan untuk wisata, tapi nafas sejarah yang masih hidup di jantung Jakarta.
Dikenal sebagai Chinatown-nya Jakarta, Glodok adalah kawasan Pecinan tertua dan terbesar di Indonesia.
Baca Juga: Mau Tinggal 10 Tahun di UEA Tanpa Ribet? WNI Bisa Dapat Golden Visa Lewat Cara Ini!
Terletak di Kecamatan Taman Sari, kawasan ini telah menjadi rumah bagi komunitas Tionghoa sejak abad ke-17, saat VOC memusatkan permukiman etnis Tionghoa di luar tembok Batavia pasca-tragedi 1740.
Warisan yang Bertahan
Di balik hiruk-pikuk modernitas dan deretan toko elektronik, Glodok menyimpan jejak sejarah yang kaya.
Baca Juga: Menjelajahi Wisata Angker Jakarta: Sensasi Seram Tanpa Rasa Takut
Salah satunya adalah Vihara Dharma Bhakti (Kim Tek Ie), vihara tertua di Jakarta yang didirikan pada 1650.
Vihara ini menjadi bukti bahwa warisan komunitas Tionghoa terpelihara dengan baik.
Surga Kuliner Tionghoa
Baca Juga: Fitur Rahasia di Aplikasi Access by KAI Ini Bikin Kaum Hawa Lebih Nyaman, Sudah Tahu Belum?
Jika kamu suka berburu kuliner Tionghoa yang otentik, Glodok adalah jawabannya.
Gang Gloria adalah surga bagi pencinta kuliner.
Di lorong sempit ini, kamu bisa menemukan rujak Shanghai hingga jajanan khas seperti kue ku dan onde-onde.
Baca Juga: Dari Aroma Tradisional hingga Wellness, Indonesia Siap Curi Perhatian di Osaka Expo 2025
Terselip juga kedai-kedai legendaris seperti Kopi Es Tak Kie, yang sudah berdiri sejak 1927.
Ragam Tradisi dalam Hiruk Pikuk Kota
Sejak era reformasi, Glodok kembali menjadi panggung bagi budaya Tionghoa. Perayaan Imlek dan Cap Go Meh digelar secara meriah di kawasan ini.
Baca Juga: Jakarta Ternyata Punya Spot Vintage Rahasia, Cocok Buat Kamu Pemburu Barang Antik
Barongsai melompat-lompat di atas tiang, musik tradisional berdentum, dan warga dari berbagai latar belakang tumpah ruah menyaksikan pertunjukan.
Daya Tarik Wisata Budaya
Glodok juga menarik bagi mereka yang mencintai arsitektur dan sejarah urban.
Baca Juga: Ada yang Baru di Blok M! Perayaan HUT ke-498 Jakarta Tampil Beda, Ada Flashmob Hingga Musik Senja
Bangunan-bangunan bergaya kolonial Belanda, toko obat tradisional, hingga toko-toko yang menjual kaligrafi dan dupa, menjadi jendela yang membuka kisah masa lampau Jakarta.
Di tengah derasnya modernisasi Jakarta, Glodok tetap setia menjaga denyut warisan budaya Tionghoa.
Bukan sekadar tempat belanja, Glodok adalah potret Jakarta yang multikultur dimana keberagaman menyatu.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









